"Aku hampir membunuhnya." gumam Risa begitu kerubungan manusia ingin tahu menghilang dari sekitar mereka. Dita menepuk bahu Risa pelan.
"Kau menyelamatkannya." bela perempuan itu menatap simpati pada Risa yang menutupi mata dengan siku bagian dalam lengan kirinya.
Tidak ada lagi pembicaraan setelah itu karena mereka harus bersiap untuk mata pelajaran kedua. Risa terus mengalihkan pandangan pada kursi kosong yang berada tepat di hadapannya, milik Miko. Pria itu izin untuk tidak mengikuti pelajaran kedua karena masih beristirahat di UKS. Risa mengira bahwa Miko benar-benar dalam kondisi yang buruk sehingga tidak dapat mengikuti pelajaran. Namun sesuatu yang tidak perempuan itu sadari adalah alasan di balik mangkirnya Miko ialah tak lain karena malu.
"YANG BENAR SAJA?! APA-APAAN ITU MIKO SUJAYA!!!" erangnya frutrasi ketika mengingat bagaimana kerennya Risa ketika melakukan pertolongan pertama saat ia tersedak tadi.
"Sekarang gimana caranya mau ngajak dia nonton? Aargh!" Rasa frustasi menahan malu ketika badan besarnya dipeluk dengan ringkih oleh tubuh kecil Risa membuat Miko semakin...
Dipeluk?
Wajah Miko sontak menjadi merah padam. Pikirannya mulai berjalan dengan kurang ajar ketika membayangkan bagaimana dipeluk Risa dari belakang.
"Tersedak bisa bikin orang jadi gila, ya?" cibir perempuan yang baru saja muncul dalam angan kotornya. Miko lagi-lagi terlonjak kaget.
"Ke-Kenapa kau di sini?" tanyanya gelagapan, terlalu kaget juga malu harus berhadapan dengan Risa secepat ini.
"Aku hanya memastikan apakah kau baik-baik saja setelah hampir mati tersedak karenaku." Miko meringis ngilu kembali mengingat kenyataan bahwa perempuan itu telah menyelamatkannya dari mati konyol. Mati tersedak jelly ketika mengajak gebetan kencan, sungguh memalukan.
"Kau sudah menolongku. Jadi impas. Sekarang kau boleh pergi."
"Kau marah?" tanyanya mendekati Miko yang sedari tadi menghindari tatap muka. Pria itu sibuk mengalihkan wajah ke sana ke mari dengan canggung. di hadapannya kini Risa tengah menautkan pandangan mereka.
"Apa lagi? Kau sedang bolos? Pergi sana." usirnya kembali berbaring membelakangi Risa.
"Aku minta maaf. Hari ini kita batalkan sa-"
"KENAPA?" teriak Miko begitu terkejut dengan reaksi dirinya sendiri yang seketika berbalik badan menghadap Risa. SIAL!
"Kau masih sakit. Kita bisa nonton kapan saja." ujar Risa setengah bingung. Kenapa Miko harus berteriak seperti itu? Apakah dia sangat marah?
"Aku tidak tahu kalau pertanyaanku membuatmu kaget, tersedak dan nyaris mati-"
"AKU TIDAK MATI!"
"Tapi nyaris." bantah perempuan itu ketika Miko berusaha mempertahankan harga dirinya. Risa sama sekali tidak mengerti bahwa saat ini Miko luar biasa malu karena ia terus mengungkit soal tersedak.
"Terserahlah! Bisa tinggalkan aku sendiri? Aku yang nyaris mati TER-SE-DAK ini butuh istirahat." tegas Miko kembali membaringkan diri membelakangi Risa. Setelah mengusir perempuan itu dengan kasar, Miko mulai merasa tidak akan ada lagi kesempatan untuk mengajaknya berkencan. Masa PDKT tersingkat yang berakhir kandas pertama baginya.
"BISA TIDAK JANGAN BUAT ORANG TERKEJUT? Aku bisa kena serangan jantung!" umpatnya benar-benar frustasi ketika Risa justru mengusap lengannya dengan pelan. Darah seolah berpusat di wajah pria itu ketika meminta Risa untuk segera pergi dari UKS yang kali ini diamini oleh perempuan itu. Miko memaki dirinya sendiri begitu Risa meninggalkannya dengan wajah yang tidak bisa Miko tebak perasaannya.
"Katanya mengusap lengan teman yang sedang marah bisa membantu meredakan emosi, kenapa anak itu justru memaki?" gumam Risa begitu berhasil meninggalkan Miko dan amarahanya yang tidak jelas.
**
Risa mengayunkan tungkainya dengan terseret, seolah pintu utama rumah yang berada 3 meter di depannya terlalu jauh digapai sedang tak ada lagi tenaga yang tersisa.
Untuk pertama kalinya tubuh yang selalu bersemangat itu tampak siap roboh kapan saja hanya dengan hembusan angin. Dengan mata yang berkaca-kaca dan rasa sesak entah dari mana, perempuan itu akhirnya berhasil merebahkan jasad letihnya di atas ranjang.
"Berbicara terkadang terlalu merepotkan dan melelahkan." gumamnya mengulang kembali ucapan Miko ketika akan menyiapkan pemutar video di sebuah warnet terdekat dari sekolah mereka.
Setelah merutuki diri sendiri karena membentak Risa dengan alasan yang tidak jelas, Miko memutuskan untuk menyusul ke kelas. Jam pelajaran terakhir akan segera dimulai dan beberapa siswa telah bersiap untuk pulang lebih awal.
"Ko, cabut yuk." ajak Eko, teman sekelasnya ketika melihat Miko mengeluarkan buku pelajaran Sosiologi dari dalam tas. Miko menggeleng heran, tak habis pikir.
Di belakangnya Risa sudah jelas sedang menyibukkan diri dengan soal-soal latihan sehingga tidak akan menyadari kehadirannya. Perempuan itu terlihat lebih nyaman ketika berada dalam kesibukan daripada harus berbicara dengan teman-teman sebayanya.
"Sa, nanti aku jemput, ya. Mas mau cari nafkah dulu buat ntar sore." pamit Eko yang sialnya terdengar jelas oleh Miko. Pria itu segera memalingkan wajahnya dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. Kaget, kesal dan... kecewa.
Risa mengangkat wajahnya dan mengangguk pelan, seolah tidak ada yang salah dengan wajah terluka Miko. Perempuan itu bahkan tidak menyapa Miko.
Eko sudah menghilang sejak lima menit yang lalu. Namun gemuruh yang asing itu masih bersemayam dalam diri Miko. Bahkan ketika guru memintanya untuk membacakan materi yang akan dibahas, suara penuh amarah itu tidak juga ia sembunyikan. Seolah ingin memberitahu Risa, bahwa seharusnya ada sebuah penjelasan yang patut ia dengar.
Guru meminta untuk setiap dua orang membuat kelompok, setiap siswa menghitung urut dari satu sampai dua belas kemudian berulang hingga ke-satu kembali. Siswa yang mendapat angka yang sama harus menjadi satu kelompok dan mengerjakan tugas yang sudah ditentukan.
"Kau mau kemana dengan Eko?" tanya Miko ketika bangkunya telah diputar sempurna menghadap Risa. Matanya menatap lurus manik cokelat di depan.
"Toko buku." jawab perempuan itu mulai mengerjakan tugasnya dengan fokus, merasa cukup dengan jawaban yang ia berikan.
Sikap acuh Risa yang bertolak belakang dengan yang perempuan itu tunjukkan ketika di UKS membuat Miko makin kesal. Mungkin perempuan itu marah karena diperlakukan kasar olehnya, pikir Miko. Maka dengan sisa keberanian dan ego yang ada, Miko kembali bersuara. Kali ini terdengar lebih ramah.
"Yang di UKS tadi, Sorry. Gak seharusnya-"
"Tidak apa-apa. Aku juga pasti akan sama marahnya jika berada di posisimu." sela Risa mengingat poin nomor 8.
8. Sesekali, ungkapkan rasa perhatian atau pengertian seolah kau merasakan apa yang temanmu rasakan dengan membayangkan bagaimana jadinya jika kau berada di posisi mereka.
Miko tergugu di tempatnya. Marah? Dia hanya terlalu malu untuk berhadapan dengan Risa, bukan marah. Pria itu mengacak rambutnya frustrasi. Kacau.
"Kenapa, Miko? Ada kesulitan?" tanya Emi selaku guru Sosiologi yang sedang mengawasi jalannya tugas di kelas itu.