Nonton

1011 Kata
Untuk menyampaikan perasaan, tidak selalu dengan kata-kata. Kadang sebuah tindakan bisa lebih bermakna. Banyak pesan yang tersampaikan meski kata membisu dan suara menuli. - Miko S, 21 06 '10 "Sedang apa?" Risa menutup buku harian abu-abu itu dengan segera begitu Santi secara ajaib telah berdiri di belakangnya. "Bibi baru datang?" balas Risa berdiri dari duduknya dan menggiring Santi untuk menjauh dari meja belajar tersebut. Santi melirik sekilas pada buku yang baru pertama kali dilihatnya itu dengan sedikit penasaran. "Bagaimana hari pertamamu? Maafkan bibi karena tidak mberi kabar tentang Sera padamu. Semua serba mendadak." jelas Santi dengan rupa menyesalnya yang kentara. Setelah mengantarkan Risa ke sekolah, Santi mendapat telepon dari orang tua Sera yang juga saudari ayah Risa bahwa anak perempuan mereka sedang dalam keadaan darurat. Dikabarkan bahwa Sera sudah mengurung diri selama satu pekan di kamar kosnya tanpa mau berinteraksi dengan siapapun. Ketika dipaksa keluar, perempuan itu berteriak histeris dan jatuh pingsan. Belum diketahui apa penyebabnya karena sampai Saat ini Sera belum bersedia membuka mulut. "Risa, apapun yang terjadi, tetaplah berbicara. Kau mengerti?" pintanya benar-benar khawatir. Risa terdiam di tempatnya, merasa berat untuk menyanggupi permintaan Santi. Maniknya bergerak ragu, menimbang akan sebuah keputusan. "Sera juga menderita, tapi jika itu adalah kau... bibi bahkan tidak sanggup membayangkannya. Risa, berjanjilah." desak Santi yang pada akhirnya dijawab anggukan kecil oleh keponakannya itu. Risa menatap punggung Santi yang segera menghilang di balik pintu. Bicara? Drrrrt... Drrrrt Miko S X A "Ya?" "Mau nonton film?" Risa menoleh pada jam dinding di kamar. Alis tebalnya berkerut setengah kesal. "Bukan sekarang. Besok. Gimana?" serobot Miko menyadari keterdiaman Risa. Senyumannya mengembang seperti gula kapas ketika perempuan di seberang sana mengiyakan ajakan tersebut. Setelah selebrasi bak cacingan di atas tempat tidur, Miko kemudian berjanji akan menjemput Risa setelah pulang sekolah, dan pembicaraan berakhir. Miko beranjak menuju sebuah lemari kaca kecil yang di dalamnya berbaris kaset-kaset film kesayangannya. Di antara deretan kaset tersebut, jemari yang sibuk menari itu berhenti pada sebuah judul. Begitu melihatnya, Miko kembali tersenyum. "Ma! Mas Miko gila!" pekik suara cempreng yang sedari tadi mengintipi kesintingannya. Miko terlonjak di tempat sementara sang adik sudah berhambur keluar kamar. Masa bodoh dengan mulut baskom si adik, bagi Miko yang terpenting saat ini adalah segera tidur agar esok pagi tubuhnya terasa ringan untuk membawa Risa menonton film kesukaannya. Pagi yang diimpikan Miko kali ini berbuah busuk. Bangun saja ia nyaris disirami air segayung oleh baginda ratu. Belum lagi sepeda motornya yang tidak ingin ketinggalan memberi kejutan dengan mati di tengah jalan sedang perjalanan menuju sekolah belum lah habis seperempatnya. Masih kurang, ternyata kali ini bersama deretan kesialannya, Miko meninggalkan dompet di atas meja belajar. Semalam, dengan wacana tidur cepat pangkal bangun pagi, Miko menyiapkan segala kebutuhannya. Semua buku dan seragam olahraga telah siap. Naas dompet kulit hitam pemebrian sang ayah lupa ia masukkan kembali setelah mengisi ulang pasukan lembaran hijaunya. "Sa, tidak mau tanya kenapa aku lemes, gitu?" sapa Miko begitu tiba di tempat duduk. Risa memandanginya dari atas ke bawah dan naik ke atas kemudian berhenti pada tangannya yang pucat. "Kau di hukum membersihkan kolam ikan utara karena terlambat." jawabnya kemudian kembali mengerjakan soal matematika di LKSnya. Hari ini keberuntungan pertama Miko adalah Pak Reno selaku guru olahraga izin terlambat karena rapat mendadak. "Iya, sih. Itu juga. Ck!" Miko bergumam pelan nyaris berbisik ketika menatap kesal lembar halaman LKS matematika milik Risa. "Eh anak ganteng bisa lecek juga ternyata!" sapa Dita yang baru saja mengganti pakaiannya dengan seragam olahraga. Miko kembali berdecak kesal dan mengabaikan ledekan perempuan berkacamata itu. Karena Risa berteman dengan Dita, ia harus bersabar menghadapi segala gangguan yang Dita berikan. Seperti saat ingin membonceng Risa sepulang sekolah, membantunya piket, kerja kelompok dan praktek olahraga. Entah dengan kekuatan apa sehingga Dita selalu muncul dan mengambil semua kesempatannya untuk bersama Risa. Tapi tidak dengan yang satu ini, bocah! Senyuman sinting itu agaknya membuat perhatian beberapa siswa yang berkumpul di meja depan justru tertuju kepadanya. Miko berdeham pelan dan mengusap tengkuk dengan canggung. Hari ini materinya teknik permainan bola basket. Dita terlihat paling bersinar ketika beradu di lapangan seluas 26X14 m2 tersebut. Risa menontonnya bersama siswi lain yang kurang mahir dalam permainan itu dengan bangga. Senyumnya selalu merekah lebih lebar begitu Dita berhasil mencetak angka. "Kau suka basket?" "Tidak. Aku suka melihat ekspresi mereka. Ketika gagal mencetak skor, atau ketika mendapat keuntungan dari kesalahan lawan. Juga ketika mereka menang." jelas Risa masih asik dengan pertandingan di hadapannya. "Kenapa?" imbuh Risa ketika terdiam sejenak. Siswa yang memberinya teh kotak dingin itu bahkan tersedak tak menyangka Risa akan bertanya pdanya. "Apanya yang kenapa?" "Kenapa kau bertanya? Kenapa kau memberiku teh kotak dan kenapa kau mengajakku nonton film?" Dita berhasil menutup pertandingan dengan kemenangan telak, tapi sorak kemenangan itu kalah besar dengan suara batuk Miko yang menggema di seluruh ruangan. Beruntung saat ini hanya ada kelas X A dan C yang memang sama-sama memiliki jadwal mata pelajaran olahraga. Risa terpaku di tempatnya untuk beberapa saat ketika Miko tersedak dan tidak berhenti batuk. "Kau baik-baik saja? Mau ke rumah sakit?" tawar Risa sembari menepuk punggu Miko pelan. Wajah Miko mulai memerah dan batuknya makin tak terkendali. Teh Jelly di tangan Miko jatuh dari genggaman dan tubuhnya mulai kehilangan kekuatan untuk menopang tubuh. Risa segera berdiri di belakang tubuh Miko dengan posisi kaki melebar, kemudian melingkarkan kedua lengannya ke pinggang Miko lalu mencondongkan tubuh Miko ke depan. Salah satu tangan Risa mengepal di bagian atas pusar perut dan bawah tulang d**a pria itu. Digenggamnya erat kepalan tangan tersebut setelah memastikan posisi jempolnya mengarah ke dalam kepalan tangan. Risa menekan perut Miko ke dalam dan menggerakkan kepalan tangannya ke dalam kemudian ke atas, membentuk huruf 'J' sebanyak lima kali dengan dorongan yang cepat dan kuat. Keduanya jatuh ke lantai begitu jelly yang menyangkut di tenggorokan Miko berhasil keluar. Semua siswa yang menyaksikan aksi heroik itu ikut bernapas lega. Dita menghampiri Miko dan memberikannya air mineral kemudian membantu Risa untuk duduk. "Bawa dia ke UKS." titah Risa masih dengan napas tersengal. Menangani tubuh yang dua kali lebih besar darinya tentu menguras banyak tenaga. Beberapa siswa kemudian memapah Miko menuju UKS sementara Risa kembali terkapar. "Aku hampir membunuhnya."    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN