Tertawa

1000 Kata
"Boleh aku duduk di sini?" Risa memalingkan wajahnya dan mendapati seorang siswi berdiri tepat di sampingnya. "Hai... tentu saja. Silahkan." Risa kembali merapalkan SOP poin 1 ketika siswi yang ramah itu duduk di sebelahnya. "Namaku Dita." ucap siswi tersebut ketika mendudukkan dirinya di sebelah Risa yang mulai menarik kedua otot bibirnya ke belakang. "Risa." jawab perempuan itu dengan kaku. "Kau dari SMP mana?" tanya Dita tampak bersemangat. SOP nomor 2. "Aku home school-" "WOW! Kau pasti luar biasa kaya!" perempuan itu memekik terkejut mendengar jawaban Risa. 3. Alihkan pembicaraan dengan kembali bertanya agar lawan bicara tidak berfokus padamu. "Bagaimana denganmu? Kau dari SMP mana?" "Aku dari SMP yang sama dengan Miko." jawab Dita sontak mengundang kerutan di dahi Risa. "Kau tidak tahu siapa Miko?" tebaknya setengah takjub. "Kupikir tidak ada yang tidak mengenal Miko. Dia itu anak populer. Itu dia!" Dita memekik tertahan ketika Miko berjalan ke arah mereka. Risa menatap siswa bertubuh jangkung itu sejenak kemudian menoleh pada Dita yang seolah-olah bisa pingsan kapan saja ketika melihat senyuman Miko. "Memangnya-" ucapnya terputus oleh sebuah sapaan dari seorang Miko yang terkenal, kata Dita. "Hai, Risa."  4. Jangan membuat ekspresi menyeramkan. Usahakan selalu tersenyum jika bertemu seseorang. "Hai. Kita bertemu lagi." balas perempuan itu sekadarnya. Masih terlalu awal untuk memutuskan akan memberi warna hijau atau merah pada siswa di hadapannya saat ini. "Mungkin kita berjodoh." Baiklah. Kuning. "Hai Miko." sapa Dita setelah berhasil mengumpulkan keberaniannya. Sekilas siswa itu tampak membongkar ingatannya. "Oh iya! Mita, di sini rupanya." tebak Miko kemudian melunturkan senyum di bibir kecil Dita. "Namanya Dita." ralat Risa membuat Miko kembali fokus padanya. "Ya, benar. Kupikir Mita itu siapa, tapi mungkin itu nama anak kita nanti." tawa jumawa yang menggelegar itu sama sekali tidak lucu bagi Risa. 5. Jangan terlibat dengan orang-orang yang berbicara tidak masuk akal. Merah. Risa baru saja akan meminta agar Miko sedikit menjaga jarak karena membuatnya tidak nyaman ketika seorang pria dewasa memasuki kelas dan memperkenalkan dirinya sebagai wali kelas. Sebagai perkenalan dan pengakraban diri, semua siswa diminta untuk maju dan memperkenalkan diri agar mereka saling mengenal satu sama lain. Ketika tiba giliran Risa, perempuan itu berdiri dengan kaku. Matanya terfokus pada gambar organ dalam yang berada tepat lurus di dinding belakang. "Namaku Risa Irasari. Sebelumnya aku sekolah di rumah. Mari berteman." ucapnya dengan napas yang mulai kekurangan oksigen. Ditatap oleh lebih dari 20 pasang mata untuk pertama kalinya, Risa menyesal tidak melakukan latihan untuk sesi perkenalan di kelas bersama Santi kemarin. "Pantas saja. Hei, Risa. Mau berteman?" ajak Miko ketika perempuan itu kembali ke tempat duduknya. Saat ini Dita sedang maju memperkenalkan diri, bagi Risa menyimak satu-persatu temannya lebih penting dari berbicara dengan Miko, maka dengan pertimbangan agar pria itu diam Risa memilih untuk setuju. Dan benar saja, Miko segera berbalik menghadap ke depan begitu Risa menganggukkan kepalanya. "Dita Rahayu, SMP 1, suka basket." ujarnya mengulang informasi yang Dita sampaikan di depan kelas. Perempuan itu terlihat tidak mengerti kenapa Risa mengatakan hal tersebut padanya. "Aku berusaha menyimpan informasimu." ungkap Risa membuat Dita terbahak kecil. "Apa itu lucu?" tanyanya terheran. "Tidak. Tapi aku akan menjadi temanmu, so… kau tidak perlu melakukan hal itu pada orang lain." jelas Dita masih dengan senyuman lebar di wajahnya. Bukankah penting untuk menyimpan informasi teman? Haruskah Dita kuberi kuning? "Sa. Kau kenapa? Kurang sehat?" tegur Dita kembali menyadarkan Risa. Sesi perkenalan telah usai dan kini mereka sedang menikmati makan pagi bersama di kantin. "Bukan apa-apa. Aku hanya berdiskusi dengan diri sendiri." "Risa, kau tidak punya teman sebelumnya?" tanya Dita berhati-hati. Risa menggeleng singkat. Suasana kantin yang padat merayap itu sedikit membantu Risa untuk membiasakan diri. "Apa kau kesepian? Selama ini kau bermain dengan siapa?" Risa diam sejenak. Batagor di piringnya baru habis setengah. 2. Jangan memberikan banyak informasi pribadi jika tidak dibutuhkan. Pamitlah dengan sopan agar tidak terkesan kasar. "Aku tidak bermain. Ada banyak hal yang lebih menarik dari sekadar bermain." jawab Risa berusaha tersenyum meski hatinya tidak merasa demikian. "Kau pasti bercanda! Kemana saja kau selama ini? Hey, Risa Irasari… berikan nomer teleponmu." Kedua siswi itu terlonjak kaget ketika tiba-tiba saja Miko telah duduk bersama mereka. Ia menyodorkan ponselnya kepada Risa. Meski terlihat ragu, Risa akhirnya memasukkan nomor teleponnya ke kontak di ponsel Miko. "Jangan macam-macam dengan Risa." Dita memperingati Miko dengan tegas. Risa mengerutkan dahi ketika mendapati wajah Dita yang selalu tersenyum ramah itu mengeras. Sorot matanya menjadi tajam. "Kau yang jangan macam-macam dengannya." balas Miko tak kalah serius. Risa hanya bisa terdiam heran dengan situasi yang terjadi saat ini.  12. Hindari pertikaian dengan siapapun dan jangan terlibat dengan perkelahian orang lain. 9. Berusahalah untuk menjadi pihak netral jika dua orang atau lebih dari temanmu bertengkar. Sial. Kenapa poin 9 dan 12 bertentangan? Umpat Risa dalam hati. Pertama kali sekolah di tempat umum, sekalinya punya teman baru, keduanya justru tidak akrab. Santi harus merivisi SOP penyamaran 404 rancangannya itu dengan segera, pikir Risa. "Teman-teman?" Risa membuka suara setelah kedua orang di sisinya hanya diam saling menatap benci selama 5 menit. "Mari kita berteman dengan damai, adil dan beradab…?" imbuhnya terdengar ragu di akhir. PFFFFT Miko dan Dita kini kompak menertawakan ucapannya. Kedua orang yang bersiteru itu tidak bisa menahan rasa geli yang menggelitik ketika Risa menatap mereka dengan heran. "Risaaa… Risa. Kupikir kau butuh banyak berteman dengan Dita untuk memperbaharui kosa katamu. Dia punya banyak kata ajaib." ujar Miko masih berusaha menelan rasa gelinya. "Sama Miko saja, Sa. kalimat yang diucapkannya jauh lebih ajaib, kan? Walaupun kata-katanya kurang berguna." sangkal Dita sembari menunjuk Miko berulang-ulang. keduanya saling pandang dengan kesal. Kenapa mereka masih juga bertengkar setelah tertawa? Apa aku memperkeruh suasana? 6. Segera minta maaf jika keadaan menjadi tidak kondusif karenamu. Seisi kantin dibuat hening kecuali gelak tawa Miko dan Dita yang mendominasi. Keduanya makin terbahak setelah Risa meminta maaf untuk kesalahan yang tidak pernah ada. Masa bodoh. 7. Tertawalah jika temanmu tertawa. Untuk menyampaikan perasaan, tidak selalu dengan kata-kata. Kadang sebuah tindakan bisa lebih bermakna. Banyak pesan yang tersampaikan meski kata membisu dan suara menuli. - Miko S, 21 06 '10
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN