Masih Ingat

1010 Kata
"Kenapa, Sa?" lirih Miko ketika sunyi kian mendesaknya. Perempuan yang saat ini berdiri membelakanginya menghela napas dengan berat. Miko menatap bayangan Risa melalui gelas kaca dalam genggamannya. Perempuan itu hanya diam setelahnya, masih tidak menunjukkan emosi apapun. "Apa yang kenapa?" balasnya dengan pertanyaan tanpa repot menoleh ke belakang. Miko menarik sudut bibirnya, berusaha menahan sesuatu yang akan meledak kapanpun jika ia lengah. "Kenapa baru sekarang? Kenapa kau kembali? Kenapa dia? Kenap-" "Sebelum terlalu banyak kenapa, biar kutanyakan satu hal." serobot Risa ketika Miko hendak mengeluarkan uneg-uneg yang mungkin telah membusuk di dalam hati pria itu. Detik selanjutnya, mata mereka bersua. "Kau... siapa?" tandas Risa membuat Miko tidak percaya. Risa yang dalam sekejap berada sangat dekat dengannya membuat Miko terkesiap. Mata cokelat itu seolah menusuk dan mencabik seluruh tubuhnya. "Ha?" ucap Miko heran juga bingung. Otaknya tiba-tiba kehilangan kosa kata sehingga yang keluar dari mulut pria itu hanya sebuah gumaman tidak sempurna. "Memangnya kau siapa? Apa pentingnya semua kenapa itu bagimu? Kita hanya dua orang yang menamatkan sekolah di SMA yang sama. Apa aku salah?" ulang Risa kian menepikan jarak di antara mereka. Riak kemarahan dalam suaranya memelan tatkala Miko mengaungkan tawa mencela. Pria yang sedari tadi sibuk terkejut itu kini menemukan keberaniannya. "Begitu? Kau dan aku hanya dua orang yang kebetulan sekolah di tempat yang sama? Siapa yang mengizinkanmu beranggapan seperti itu? Siapa yang mengizinkanmu melupakanku? Siapa, Risa Irasari?!" sentaknya tanpa bisa dicegah. Tidak pernah dalam hidupnya, Miko membayangkan akan membentak seorang perempuan, terlebih jika perempuan itu adalah orang yang seharusnya tidak Miko temui sampai mati. Tapi apa yang dikatakan Risa kali ini benar-benar membuatnya hilang kendali. Bagaimana bisa perempuan itu bertanya tentang siapa dirinya? Tidak kah seharusnya Risa mengingat Miko dengan sangat jelas selama sisa hidup perempuan itu? Apakah hanya Miko yang satu-satunya terluka pada saat itu? Atau anggapan bahwa Risa adalah monster memang benar adanya? Terlalu mengerikan untuk dibayangkan jika monster itu tercipta karenanya. Keadaan menjadi hening seketika. Luapan emosi dari suara keduanya tertelan oleh batu besar di dalam d**a. Sesak mulai mengerubungi tiap inci ruang gerak Miko juga Risa. Semakin lama, pandangan ingin saling melukai itu membuat mereka muak. Berbagi oksigen yang sama terasa sangat menyiksa. Terkutuklah Aksa dengan pikiran gilanya yang telah meninggalkan dua manusia itu untuk kembali mengingat hal yang menyakitkan di antara mereka. "Kenapa dengan mudahnya kau melupakanku sementara aku harus tersiksa seorang diri? Haruskah kuingatkan padamu siapa aku ini, begitu?" Miko menarik napas dengan susah sementara Risa memilih menyelam ke dalam manik legamnya. Miko mengamati wajah pucat Risa yang terbakar amarah. Tidak ada keraguan sedikitpun di dalam sana bahwa perempuan itu melupakannya. Tapi perubahan yang Miko hadapi pada diri Risa terlanjur tidak masuk akal. Sesuatu yang salah itu, di mana? Apa saja yang telah ia lewatkan hingga saat ini? Semua tanda tanya itu berputar hebat dalam kepalanya. "Aku tidak lupa, brengsek." 14 Juni 2010 "Bekal, topi kerucut, dot, tas karung, sapu... papan nama? Risa, papan namamu mana?" seru seorang perempuan berambut cepak yang tengah mengabsen perlengkapan MOS remaja 15 tahun tersebut. "Sudah kupakai." jawab Risa yang masih mengepang rambutnya menjadi lima belas bagian. Ini adalah hari terakhir masa orientasi siswa di SMA 05 Pagi. Meski gerakan tubuhnya cenderung santai, tapi itu tidak menutupi tangannya yang basah oleh keringat dan wajahnya yang kaku. Seolah sedang menanti vonis di pengadilan. "Bibi Santi, apakah aku terlihat sama dengan mereka?" tanya Risa begitu menghampiri perempuan tersebut kemudian menunjukkan potret beberapa siswi yang sedang tersenyum lebar bersama tema-temannya. Santi memandangi potret di ponsel dan wajah Risa bergantian lalu tersenyum. "Semua akan baik-baik saja. Selama kau mengingat semua yang kita pelajari, tidak akan ada hal buruk yang terjadi." tuturnya mengusap wajah Risa penuh kasih. Tatapan hangat itu membuat bahu Risa mengendur dan sudut bibirnya naik dengan otomatis. "Oh tidak! Kau terlambat!" Santi memekik panik ketika matanya tak sengaja melirik arloji yang menunjukkan waktu pukul 06.45 pagi. Kedua perempuan itu berhamburan menuju halaman depan. "Terlambat di hari pertama itu buruk." gumam Risa membaca buku catatan kecil yang ia selipkan di saku jaketnya. Santi masih fokus menyetir, jika tidak ingin tahu jawabannya maka mereka harus tiba di sekolah sesegera mungkin. Para siswa yang juga nyaris terlambat tampak berlarian memasuki gerbang. Risa tidak sempat merapalkan mantra anti gugup yang sudah dilatihnya sejak kemarin karena fokusnya hanya tertuju pada pria berseragam hitam yang akan menutup gerbang dengan sempurna. "PAAAAK!" pekik suara bass khas remaja awal dari arah belakang Risa. Perempuan itu menoleh sesaat sebelum sadar bahwa itu adalah kesempatannya untuk menyelip masuk. Napasnya hilir mudik dengan berdesakkan. "Kau kelompok 5? Kenapa baru kelihatan?" sapa siswa yang berteriak tadi ketika berhasil menyesuaikan langkahnya dengan Risa. Papan nama dengan tali rafia merah terbalik itu membuatnya menahan tawa. Prosedur Operasional Standar "Penyamaran 404" 1. Tersenyum, dan menyapa dengan ramah setiap orang yang mengajakmu berbicara. "Hai. Kemarin aku sakit. Beruntung bisa ikut walau cuma dapat upacara penutupan." jelasnya masih dengan senyuman yang terlihat aneh. Terlalu lebar dan dipaksakan. Risa menarik kedua sudut bibirnya kebelakang, memperhatikan reaksi siswa di sebelahnya yang juga tersenyum. Matanya yang membentuk bulan sabit ketika tersenyum harusnya cukup menggambarkan keramahan, pikir perempuan itu. "Ya, terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Namaku Miko. Kelompok 5." "Risa." balasnya sambil menjabat tangan Miko. 2. Jangan memberikan banyak informasi pribadi jika tidak dibutuhkan. Pamitlah dengan sopan agar tidak terkesan kasar. "Senang berkenalan denganmu. Sampai jumpa." Risa melambaikan tangannya sekilas dan segera menghilang di balik kerubungan siswa lain yang sedang diarahkan untuk melakukan baris berbaris karena upacara akan segera dimulai. "Senang berkenalan denganmu? Sampai jumpa? Tch.. apa dia pikir ini dunia LKS Bahasa Indonesia?" Miko terkekeh sendiri mengulang perkataan Risa yang terasa aneh.  Usai upacara selesai, semua siswa dipersilahkan memasuki kelasnya masing-masing. Kegaduhan segera memenuhi ruang kelas X A yang dikenal sebagai kelas unggulan. Di dalamnya terkumpul siswa dan siswi yang dipersiapkan sebagai ujung tombak wajah SMA 05 Pagi di segala lomba dalam berbagai bidang. Di antara mereka ada yang sudah saling mengenal dan ada juga yang duduk menyendiri karena tidak mengenal siapapun, dan Risa tentu saja adalah golongan yang kedua. Ia hanya duduk di bangku kedua dari terakhir sambil memeluk tas karungnya, mengamati tiap ekspresi teman-teman barunya.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN