Alarm

1017 Kata
Tititit tititit Suara alarm yang menunujukkan pukul 8 pagi itu menginterupsi Miko dari kilas baliknya semalam bersama Debora. Perempuan itu mengaku mengenal Risa karena sempat bertukar sapa ketika dirinya menjadi MABA. Debora yang merupakan pindahan luar kota saat itu tersesat ketika menuju aula di gedung utama kampus. Beruntung saat itu ia bertemu Risa, walaupun terkesan dingin Risa tetap mengantarnya sampai ke depan pintu aula. Setelah pertemuan itu, Debora beberapa kali sengaja mencari cara agar bisa bertemu Risa, tapi karena respon yang didapatkannya kurang baik, Debora akhirnya memutuskan untuk membiarkan Risa seorang diri. Mendengar cerita bagaimana Risa melewati hari-harinya setelah malam itu, Miko semakin membulatkan niat. Masa bodoh dengan Aksa dan Manda atau siapalah namanya. "Kenapa dia tidak membalas? Norak." cibirnya ketika pesan yang telah dibaca itu tidak meninggalkan respon. Miko meletakkan ponsel pintar miliknya di atas meja kemudian beranjak menuju bagian tengah ruang belakang rumahnya yang diisi oleh kolam renang. "Sa, kata si Miko... dia mau kamu jadi asisten sutradara. Gila kali dia." gumam Aksa ketika sayuran di piringnya tinggal setengah sedang perempuan di hadapannya masih sibuk mengunyah dengan pelan. "Aku memang pernah berada di jurusan Film selama kurang lebih dua tahun, setelahnya aku pindah. Kurasa itu bukan ide yang bagus walau sebenarnya aku cukup tertarik." jawab Risa setelah berhasil menelan habis sarapannya. Aksa meletakkan piringnya ke tempat pencuci piring. Selama hampir 6 tahun mengenal dan 3 tahun pacaran, kemana saja dirinya hingga tidak tahu bahwa sang kekasih pernah sekolah jurusan Film? "Ternyata masih banyak dari dirimu yang belum kuketahui." pria itu meringis, menampakkan kekesalan juga canggung. Selama ini ia terlalu santai bahkan terlampau cuek dengan latar belakang Risa. Sudut hatinya berdecit ngilu. "Hanya untuk beberapa semester. Aku hanya ingin tau cara menciptanya tapi tidak untuk memciptakan karya. Itu terlalu tamak." jelas Risa meraih gelas minum yang Aksa berikan padanya. Pria itu mengangguk paham. Untuk sejenak, hatinya terasa sedikit lebih lapang. "Tim produksi sebenarnya udah setuju, tapi kalau kamu keberatan... ya kita bisa batalkan." Aksa meraih tangan Risa yang bebas, mengusapnya pelan tanpa banyak berkata lagi. Sesuatu jelas sedang mengusik pikirannya saat ini. "Aku juga sedikit cemas tentang itu... aku khawatir akan menjadi beban bagi yang lain. " ujarnya memandangi tangannya yang begitu kecil dalam genggaman Aksa. "Tapi, jika aku tidak mencoba sekarang... kapan lagi?" terusnya diakhiri dengan cengiran lebar. "Tenang saja. Aku tidak akan menghancurkan karyamu. Aku yang sekarang pasti bisa." yakinnya pada diri sendiri sembari menatap Aksa. Pria itu tersenyum bangga kemudian mengusap pelan kepalanya. Kedua sudut yang sedari tadi berkedut ingin dibebaskan itu tertarik ke belakang membentuk kurva cantik. "Bisa kalian fokus saja pada rapat hari ini? Setelah rapat berakhir silahkan pacaran di manapun kalian mau." sela suara besar yang menginterupsi canda tawa Aksa dan Risa di ruang rapat tim produksi. Usai pembicaraan panjang mereka pagi tadi di kediaman Aksa, sebuah panggilan untuk melakukan rapat perdana sebelum proyek resmi dimulai menjadi sebab kehadiran keduangnya siang ini. "Rapat belum dimulai, yang lain bahkan belum datang. Kenapa lo sewot?" balas Aksa kepada pria yang mendudukkan dirinya di hadapan Risa. Meja yang berisi 9 kursi itu baru terisi setengah. "Bikin sakit mata. Norak." "Lo juga bisa manggil artis lo itu ke sini buat mesra-mesraan." Aksa tersenyum miring mendapati Miko terkejut di tempatnya. Dari sorot mata yang ia pancarkan seolah berkata 'aku tau apa yang kau lakukan kemarin.' pada Miko. "Udah, Mas. Sebentar lagi yang lain datang. Gak enak kalo penulis sama sutradaranya malah ribut." ujar Risa memperingati Aksa juga Miko bahwa mereka harus berhenti saling menyulut api. Keduanya bertatapan sengit, menyalurkan aura permusuhan meski beberapa orang lainnya yang terlibat dalam rapat telah datang. "Whooaaa!! Aksa. Lama tidak berjumpa!" seru Dewo selaku produser untuk proyek 'Leberinto' ketika menyapa pria cantik itu dengan gembira. "Seneng akhirnya gue bisa bertanding sama lo dengan fokus." candanya kemudian beralih menatap Risa. "Ini Risa, orang yang ditunjuk Miko buat jadi asistennya. Doi gak ada pengalaman sebelumnya karena belajar pun cuma dua tahunan tapi masalah adaptasi naskah gue percaya dia bisa megang kendali karena naskah itu gue buat bareng dia. Tolong dijagain." Jelas Aksa memperkenalkan Risa kepada Dewo. Pria berambut ikal itu menatap keduanya dengan curiga. "Gue yakin bukan cuma naskah yang lo buat berdua sama-" "Dimulai aja, Wo. Udah pada ngumpul kok." Aksa tersenyum miring mendengar Miko menyela ucapan Dewo. Terlalu jelas dalam raut wajah pria itu bahwa ia benci dengan apa yang akan sang produser katakan. Walaupun berupa candaan, Miko sudah sangat kesal dibuatnya. Ingin rasanya Miko membalikkan meja rapat itu ketika matanya tidak bisa lepas dari gerakan cepat jari-jemari Aksa yang bermain di bahu Risa. Rapat yang memang bersifat santai ini hanya bertujuan untuk saling mengenalkan tim inti produksi yang terdiri dari Dewo sebagai produser, Miko sebagai sutradara, Aksa si penulis naskah, Risa asisten penulis sekaligus asisten kedua sutradara, Yuda sebagai manajer produksi, Krisna sebagai asisten pertama sutradara, dan Melly sebagai koordinator produksi. Sebenarnya masih ada tiga lagi yang belum diperkenalkan Dewo tapi berhubung yang bersangkutan sedang tidak memungkinkan untuk hadir maka acara perkenalan dan pembahasan ringan tentang penggarapan 'Laberinto' berlangsung cepat. Dan lagi-lagi yang tersisa hanyalah mereka bertiga atau bisa dikatakan juga bahwa Miko sengaja tidak beranjak dari tempatnya begitu rapat ditutup. Keduan manusia di hadapannya masih asyik bertukar godaan tanpa menggubris ketidaknyamanan Miko. Seolah tak kasat mata. "Bunny, aku harus pergi. Kamu bisa pulang dengan Miko?" tanya Aksa tiba-tiba membuat Miko gelagapan tidak siap. Pria ini meminta kekasihnya pulang bersama orang lain? Risa menatap Miko sesaat kemudian mengangguk setuju pada Aksa yang sedang mengemasi barangnya. Pria itu mengaku mendapat panggilan darurat. Miko mendesis kesal melihat Aksa yang membisikkan sesuatu pada Risa dan mencuri sebuah ciuman di pipi perempuan itu setelahnya. Sebelum meninggalkan ruang rapat, Aksa menyempatkan ekor matanya untuk melirik Miko dengan senyuman menyebalkan yang tak pernah lupa ia sertakan. Suasana berubah semakin canggung dan patah ketika tidak satupun dari mereka berdua memilih beranjak atau sekadar membuka mulut, sementara waktu terus bergulir. Risa menjadi yang pertama beranjak dari tempat duduk ketika Miko masih terpasung bisu. Entah apa yang dipikirkan pria itu, tapi Risa tidak akan menunggu lebih lama. Persetan dengan pesan Aksa untuk pulang bersama Miko. Langkah Risa hampir sempurna meninggalkan Miko ketika suara pria itu kembali memenuhi pendengarannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN