“Kau sakit?”
“TIDAK!” suara Debora meninggi tanpa bisa dicegah. Bagaimana bisa pria ini menyeretnya pulang setelah perjalanan jauh mereka yang terasa akan membakar seluruh tubuh Debora begitu saja? Perempuan itu mengumpat dalam hati atas ketidakpekaan Miko.
Keduanya tidak banyak bersuara. Banyak tempat yang mereka lewati dalam diam, Debora terlalu jauh dalam pikirannya sendiri yang terasa melayang ketika Miko membimbingnya menyusuri jalan dengan genggaman tangan mereka yang saling bertaut. Sedang pria itu tampak fokus mengikuti dua sejoli yang tidak menyadari keberadaannya. Sang pria merangkul perempuannya erat ketika anak-anak dengan kostum perang berlarian saling mengejar dan hampir menabrak mereka.
“Eh, itu mirip Karisa.” gumam Debora seketika mengalihkan fokus Miko kepadanya. Orang yang disebut Karisa oleh perempuan itu tidak mungkin adalah Risa, kan? harapnya.
“Karis-” sorakan itu tiba-tiba menghilang di udara ketika Miko memutar badan dan menutupi pandangan Debora dengan tubuhnya. Pria itu menangkup wajah kecil Debora dengan tangannya yang besar, menatap lurus pada manik kecokelatan itu. Ibu jarinya mengusap wajah Debora yang merah padam.
“Siapapun dia, biarkan hari ini hanya ada kita berdua. Oke?” Ujar Miko membawa Debora ke dalam pelukannya. Ia perlu mengulur waktu sampai dua orang di belakangnya saat ini beranjak ke tempat lain.
“Tch.. norak!” umpat sang pria yang berjalan lebih dulu dari perempuannya.
“Lo-kamu kenal?” tanya perempuannya bersaha mensejajarkan langkah mereka.
“Mungkin.”
“Padahal yang dipanggil aku... salah denger kali, ya?” kekehnya kemudian. Sang pria kembali mengulurkan tangannya.
Miko menghela napasnya lega sekaligus kesal karena kehilangan jejak. Ditatapnya Debora yang masih salah tingkah berjalan di sisinya. Rasa bersalah kemudian menyerbunya dari segala sisi. Perempuan ini harus terlibat dengannya hanya karena rasa marah yang ia sendiri tidak tahu mengapa.
Ketika mengetahui bahwa Risa memiliki kekasih, harusnya Miko merasa lega. Bersyukur karena perempuan itu tidak terpuruk apalagi memburuk keadaannya setelah apa yang ia lakukan jelas menghancurkan Risa tak bersisa. Tapi, ada apa dengan hantaman kuat yang membuat seluruh badannya terasa remuk itu? Kenapa rasanya justru sangat menyebalkan? Ia bahkan harus memanfaatkan Debora untuk kepentingannya sendiri.
Tidak tahan dengan kegilaannya sendiri, Miko memutuskan untuk berhenti mengikuti Risa dan kekasihnya. Ia mengajak Debora makan malam sebelum mengantarkan perempuan itu kembali pulang.
“Terima kasih..” gumam perempuan itu ketika menerima sekotak nasi goreng ayam geprek dari Miko. Karena khawatir akan menyedot perhatian, pria itu kemudian menawarkan untuk makan di dalam mobil sembari menikmati keramaian jalan menuju pusat kota. Kerlap-kerlip lampu kendaraan memberi kesan romatis yang kian melambungkan perasaan menggelitik dalam hati perempuan itu.
Miko masuk ke dalam mobil setelah membeli dua buah teh es berkemasan kotak. Terkadang Miko membenci dirinya yang bertindak diluar kesadaran. Teh kotak selalu membuatnya kesal, entah karena pengalaman di masa lalu, sejarah buruk pekerjaannya atau seseorang yang menjadi bintang iklan produk tersebut. Semuanya berkesempatan menjadi alasan kekesalan Miko saat ini.
“Aku tidak tahu alasan Bang Miko ngajak jalan hari ini, tapi kalau untuk bersenang-senang... tolong jangan libatkan aku.” ujar Debora seketika menarik pusat pikiran pria itu kepadanya.
“Rasanya tidak mungkin dalam satu malam Bang Miko tiba-tiba tertarik padaku yang sudah ditolak sejak 4 tahun lalu... jadi, apapun alasannya... menggunakan perasaanku yang masih menyukai Bang Miko sampai saat ini adalah sebuah kejahatan.” Miko tergugu di tempatnya. Inilah alasan mengapa ia merasa kesal terhadap bintang muda tersebut. Perempuan itu tahu bahwa dirinya akan terluka tapi bersikeras untuk maju kemudian menyalahkan orang lain. Pada akhirnya Miko menjadi satu-satunya yang jahat di saat segala peringatan itu sudah lama ia tanam.
“Aku hanya merasa bersalah karena mengatakan hal itu padamu kemarin. Memanfaatkan perasaanmu? Apa yang bisa kudapat dari memanfaatkan perasaan semu itu?” Miko memaki dirinya yang kembali berbohong. Ia jelas-jelas memanfaatkan Debora untuk mengikuti Risa dan Aksa yang berkencan di wahana tersebut. Dan sekarang ia menyangkal dengan mudah hanya karena harga diri atau apalah namanya. Sial.
“Kalau begitu... boleh kuanggap kalau Bang Miko sedang ingin mengenalku lebih jauh?” Riak gembira dari senyuman Debora membuat sudut hati Miko berdenyut ngilu. Terlalu kesal karena perubahan sikap perempuan itu kembali membuatnya berbohong. Miko harusnya bisa dengan tegas memperjelas maksudnya, tapi yang terjadi hanya kekehan kecil pemecah sunyi.
“Aku tidak bilang akan mengencanimu dan semacamnya.. bukankah 4 tahun cukup lama hanya untuk saling mengenal? Aku ingin kita berteman. Berhenti saling melempar serangan dan berteman baik seperti orang lain... masalah apakah nanti hubungan ini berlanjut kemana, sebaiknya jangan kau pikirkan.” tuturnya berusaha tenang meski dalam hati berteriak, memaki dan berharap agar Debora segera menjauh darinya. Bukan tidak mungkin Miko akan kembali memanfaatkan perempuan itu di masa depan, mengingat bahwa Debora ternyata mengenal Risa.
“WOW.” seru perempuan itu menatap Miko penuh penilaian. Sudah menjadi kebiasaan baginya, menganalisa tiap gerak-gerik lawan bicaran untuk mengetahui maksud dan tujuan orang tersebut. Sayangnya yang di hadapan Debora saat ini adalah seseorang yang telah lama menyadera hatinya. “Seperti b******n. Aku suka.” tandasnya dengan cengiran lebar. Miko tersenyum tipis. Bersyukur entah atas kesabarannya yang luar biasa saat ini atau kebodohan Debora yang menjadi buta karena cinta.
Jam digital yang berada di atas meja kerja Aksa menunjukkan pukul 8 pagi ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya. Pengirimnya membuat pria itu mendengkus kesal sekaligus tersenyum miring.
Gue udah bicara sama tim produksi. Gue mau rekrut Risa jadi asisten gue. Lo gak masalah kan?
“Kenapa?” gumamnya pada diri sendiri tanpa membalas pesan tersebut. Pandangannya beralih kepada Risa yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan. Perempuan itu tiba satu jam yang lalu dengan plastik berisi bahan masakan penuh di tangannya. Ada perasaan cemas menyelimutinya ketika tatapan Miko yang kurang ajar itu seolah berbalas sendu dari Risa.
“Makanannya sudah siap. Yuk.” ajaknya mengulurkan tangan kepada Aksa. Pria itu menatap uluran tangan Risa selama beberapa detik kemudian menyambutnya hangat. Langkah Risa terhenti karena Aksa tidak bergerak dari tempatnya, melainkan diam memandangi tangan mereka yang saling bertaut.
“Sa?”
“Selamat untuk lembar baru, Risa. Tolong berbahagia.” Risa mengernyit heran. Aksa memang tidak satu dua kali berkata aneh dan tidak nyambung, tapi ada apa dengan senyum kepura-puraan itu?
Risa, dia sempat ngambil jurusan Film 3 apa 4 semester gitu terus pindah jurusan.. ga tau deh kenapa. Dulu pertama ketemu, kupikir Kak Risa itu agak-
Tititit tititit