Gila

1055 Kata
“DASAR GILA!” umpat Aksa ketika dalam satuan waktu tertentu tas kecil yang bergantung manis di tangan Vanilla berbalik dan menghantam kepalanya. “Katakan itu pada dirimu sendiri. Merubah penampilan tidak akan bisa membuat kegilaan seseorang berubah, tapi ini benar-benar keterlaluan, Sa.” sendu perempuan itu menatap Aksa yang masih sibuk mengusap kepalanya. “Dengerin dulu detailnya. Kalo emang ini bahaya, aku tidak akan memaksa. Toh semua ini demi Risa.” balasnya tak kalah lirih. Mereka berdua telah duduk manis di meja makan ketika Risa keluar dengan pakaian lengkap dari kamarnya. Perempuan dengan aroma stoberi yang menyegarkan itu masih tidak bisa menatap lurus Aksa yang terang-terangan sedang memandinginya. “Mau pesan sarapan dulu?” tawar Risa begitu mendudukkan diri di sisi Vaniila. Aksa masih tersenyum sinting sedang Vanilla menggeleng pelan, tak habis pikir. Ia meminta Aksa untuk berhenti membuat Risa tidak nyaman. Tatapan pria itu mulai mengerikan karena tidak diselingi kedipan untuk waktu yang lama, seolah menunggu waktu yang tepat untuk melahap Risa. “Jadi rencananya aku mau memastikan reaksi tubuh Risa ketika berjumpa dengan si Miko-Miko itu. Kalo reaksinya seperti kemarin, sepertinya-” “Kita memang harus melawannya. Risa sendiri sudah memutuskan untuk mencoba maju kali ini.” sela Vanilla yang dibenarkan Risa ketika Aksa menatap mereka secara bergantian dengan tidak percaya. “Kalau begitu kenapa tadi pagi gue dikambing-kambingin?!” “Ya mikir dong, mbing! Jam segitu orang masih setengah sadar...” bela Vanilla yang kemudian menjadi perdebatan panjang antara dirinya dengan Aksa sedang Risa hanya menonton keributan kecil itu sambil sesekali menatap layar ponsel yang disembunyikannya sejak tadi. Sebuah pesan datang dari Miko saat Risa sedang mengganti baju. Pesan singkat itu berisikan undangan makan siang bersama yang dijawab Risa dengan penolakan. Ia berkata hari ini telah memikliki janji dengan orang lain yang tidak lain adalah Aksa. “Sa, kamu gak usah khawatir. Aku juga ikut kok.” jelas Vanilla menarik Risa kembali dari pikiran kusutnya. Dan di sinilah mereka berempat berakhir. Di sebuah sudut rumah makan dengan suasana canggung yang kental ditambah pemandangan menyakitkan mata yang Aksa suguhkan ketika bercengkrama dengan Risa. “Jadi, lo setuju untuk terlibat penuh dalam tahap produksi?” tegas Miko merasa muak melihat senyuman Risa ketika menatap Aksa. Meski lawan bicaranya saat ini adalah pria cantik itu, Miko tidak sedetikpun melepas pandangannya dari Risa. Hal yang juga jelas-jelas bisa Vanilla dan Aksa amati. “Well, Bunny bilang lo temen SMAnya dan rasanya ga enak kalo naskah gue harus nyusahin temen di masa lalunya.” jelas Aksa tersenyum miring. Miko tampak tidak suka dengan penjelasan atau dengan sentuhan Aksa pada Risa yang tidak digubris oleh perempuan itu? Miko tidak mengerti. Yang jelas saat ini ia luar biasa kesal mendapati perempuan yang menghantuinya siang dan malam justru memiliki kehidupan yang lebih layak darinya. Bagaimana bisa perempuan itu tersenyum cerah dan bercanda ria dengan kekasihnya selama ini sementara Miko harus tenggelam dalam kehancuran dan putus asa? Melihat Aksa dan Risa saat ini benar-benar membuat dirinya ingin meledak. “Bisa kalian simpan kemesraan kalian di tempat lain? Terlihat norak.” "Gila, cantik banget." "Blasteran Surga-Dunia emang modelannya bikin ngilu." "Kayak lu udah pernah mati aja ngomong-ngomongin Surga." "Yeeeeu. Sirik aja lu." Kilatan lampu flash itu masih terus memberi efek kejut bagi tiga orang yang sedang memperhatikan jalannya pemotretan untuk sebuah sampul majalah milik kosmetik ternama. Di hadapan mereka seorang Odelina Debora tengah berpose dengan kecantikannya yang paripurna. Wajah oriental dengan kesan manis itu terlihat sangat jauh untuk digapai. Seolah mustahil makhluk dongeng sepertinya berada di dunia manusia. Namun siapa sangka? Roman wajahnya yang tegas itu berubah dalam kecepatan kilat tatkala lampu studio dipadamkan dan beralih menjadi ruang biasa yang dipenuhi puluhan jenis kamera. Tidak ada lagi rupa dewi di sana, hanya seorang perempuan dengan wajah lelah setelah 3 jam bergaya ini itu di hadapan kamera. "Setelah ini aku kosong, kan?" tanyanya begitu Jeni menghampiri. "Sebenarnya jadwal wawancara di Akuwanita.com bisa dimajukan kalo mau... gimana? Biar besok kosong seharian." Jelas Jeni yang diiyakan Debora setelah meneguk minuman dengan haus. Sebuah pesan kemudian masuk ke ponselnya dan menyebabkan Jeni panik oleh reaksi Debora yang tersedak air. "KOSONGIN!" pekik perempuan itu ketika berhasil mengendalikan batuknya diikuti tatapan keheranan Jeni. "Hari ini kosongkan saja semuanya." tandasnya masih tersenyum pada layar kecil tersebut. Sebuah ajakan jalan-jalan yang nyaris tidak mungkin itu berasal dari Miko. Pria yang beberapa hari lalu menolaknya dengan sangat dingin itu kini mengajaknya menghabiskan waktu bersama. Jelas rona merah serta senyuman manis itu menggambarkan perasaannya saat ini. Jeni tidak banyak bertanya melihat perubahan sikap Debora sebab hanya ada satu alasan yang akan selalu Debora utamakan setelah keluarganya, yaitu pria yang tengah berjalan ke arah mereka. Sosok misterius dengan snapback dan masker yang menutupi hampir seluruh wajah itu tidak membuat Jeni dan Debora perlu menebak siapa gerangan. Begitu sang pria tiba di hadapan mereka, perempuan itu segera berhambur guna bergelayut manja. “Ah~ Bang Miko gak bilang-bilang dulu mau ke sini! Aku belum dandan.” rajuknya seimut mungkin. Miko memalingkan wajahnya dan mengecek keadaan sekitar. Memantau kamera dan pasang mata yang mungkin merekam gerak-geriknya saat ini bersama sang artis. “Pakai ini.” titahnya sembari memasangkan masker dan juga bucket hat senada dengan miliknya kepada Debora. Perempuan itu menahan napasnya ketika Miko berada dalam jarang yang sanagt dekat. Degup jantungnya yang menggebu membuat wajahnya memerah. “Tolong pulangkan anak ini dalam keadaan utuh sebelum jam sepuluh malam. Oke?” sela Jeni membuyarkan suasana romantis yang Debora rasakan. Miko mengangguk patuh sedang perempuan itu melotot membalas ucapan Jeni barusan. Sebagai manajer, Jeni tidak ingin Debora terhanyut dalam euforia dan akhirnya menyesal. Akan sangat repot nantinya jika kabar tidak diinginkan itu tersebar luas, hubungan antara artis dan sutradara memiliki banyak racun. “Wow! Kenapa kita ke sini?” pekik Debora dengan antusias ketika Miko membelokkan mobilnya menuju pintu masuk area wahana hiburan The Lost World Castle yang berada di kawasan Cangkringan. Tempat itu memang sedang menjadi favorit kaula muda dan dewasa untuk menghabiskan waktu bersama orang terkasih. Walaupun harus melewati jalan yang cukup merusak mood, semburat merah yang sejak tadi betah menghias parasnya kini seolah membakar dari dalam. Debora bahkan tidak bisa menghitung berapa kali ia terkejut akan sikap Miko. “Kenapa?” tanya pria itu ketika Debora tersentak kaget. “T-Tidak ada.” Jawab Debora terbata. Kakinya seakan berubah menjadi jelly ketika remasan di telapak tangannya mengencang. Miko menatapnya sejenak. “Kau sakit?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN