Apa Salahku

1207 Kata

Jika bukan karena perutnya yang terasa lapar, mungkin Tama masih enggan untuk membuka mata dari tidur nyenyaknya. "Sudah jam berapa ini?" Meraba raba sisi kasur di sebelahnya, mencari keberadaan benda pipih berwarna hitam miliknya. Mata Tama sedikit terbuka, melihat ke arah layar ponsel. "Sudah hampir jam sebelas siang. Pantas saja perutku terasa lapar," gumannya. Sekali lagi Tama membuka mata, memeriksa pesan dan daftar panggilan di dalamnya. Berharap jika ada kabar dari sang calon istri tercinta yang sejak kemarin belum menghubunginya. "Bisa ya tuh anak, enggak hubungi. Enggak tahu apa kalau rindu," gerutunya. "Aku mau lihat, lagi ngapain dia sampai enggak ada waktu buat hubungi aku." Masih uring uringan dengan posisi baringnya, Tama melakukan panggilan video pada Dhira. Memastikan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN