"Pa, ma... Batalin saja pernikahannya, di undur sampai beberapa bulan lagi." Masih terisak, Dhira mengatakan hal konyol yang berhasil menguasai hatinya yang di rundung rasa sedih setelah mendengar ungkapan hati dan pesan dari sang papa. Adi dan Renita tertawa, mereka segera menyeka air mata masing masing menggunakan tangan sendiri. Setelah beberapa menit yang lalu larut dalam keharuan, kini wajah kedua orang tua itu lebih terlihat cerah dari sebelumnya. "Mulai deh konyol. Kamu mau nanti Tama cari perempuan lain karena kamu tunda pernikahan ini?" celetuk Renita berhasil membuat Dhira menegakkan kepalanya dari sandaran di d**a Adi. Air mata yang masih terlihat jelas di wajah Dhira, langsung di hapusnya bersamaan dengan kepala yang menggeleng cepat. "Enggak mau! Mama sembarang deh kalau

