Mentari pagi telah menunjukkan wujudnya, menyinari sebagian isi bumi dengan cahaya hangat yang selalu menjadi kebanggaannya. Tampak seorang perempuan yang masih menikmati rajutan mimpinya, terbaring di atas kasur dengan posisi menyamping, tertutupi selimut tebal yang melindungi tubuhnya dari suhu dingin kamarnya. Sudah dua hari ini kerjaannya hanya makan, tidur, uring uringan dan bermanjaan dengan kedua orang tuanya. Seperti saat ini, Renita harus turun tangan langsung membangunkan putri tunggal kesayangannya yang akan melepas masa lajangnya dalam tiga hari kedepan. "Dhira... Sayang... Ayo bangun. Sudah jam sepuluh pagi." Dengan sabarnya Renita membangunkan Dhira, menurunkan selimut hingga sebatas perutnya. Dhira menggeliat sambil berdehem. Perlahan matanya terbuka. "Ma," sapanya. "B

