POV LUCIO Suara ketikan Nadia di ruang kerja sudah menjadi ritme latar yang konstan dalam hidupku. Cepat, akurat, dan sekarang entah kenapa terdengar sedikit lebih patuh. Beberapa hari telah berlalu sejak insiden di kolam, sejak permainan kendali berubah menjadi perjanjian bisu di atas seprai. Aku tidak bisa melupakannya. Benar-benar tidak bisa barang sedetik pun. Bagaimana Nadia menolak, meronta, lalu pasrah dan puas di bawah tubuhku. Atau ketika ia ikut bergerak mengimbangi irama gerakanku juga mencengkeram lengan hingga mencakar punggungku, semua itu tidak bisa tidak membekas. Mulanya terpaksa, tapi jadi terbiasa walaupun dia tidak pernah mengakuinya. Begitu pun denganku. Aku duduk di kursiku, persis di posisi yang sama seperti biasa, menatap bursa saham real-time di monitor besa

