POV LUCIO Lampu kamar menyala redup. Pantulannya mengenai wajah Nadia yang kini ada di bawa tubuhku. Mata itu, kini tak setakut hari-hari sebelumnya. Aku tahu, semuanya berubah perlahan. Dan Nadia menjadi salah satu dari perubahan itu. Aku membiarkan bayangan kami jatuh di sprei yang tak lagi bersih. Bergerak perlahan dengan irama paling memabukkan sepanjang malam. Kami tidak di ruangan kerja yang dingin seperti tadi siang, tapi di ranjangku. Tempat penuh kekuasaan yang dibungkus rapi dengan sentuhan-sentuhan melenakan. Nadia ada dalam kungkunganku. Bukan lagi sebagai bidak yang ketakutan, tapi kembang yang mulai mekar perlahan-lahan. Kami telah meninggalkan segala ketegangan di ruang kerja dan melebur dalam hangat gairah di ruangan ini. Aku mencium keningnya yang basah oleh kering

