POV NADIA Aku bangun dengan kesadaran yang terasa seperti benturan, merasakan selimut tipisku menyentuh kulitku yang masih panas. Cahaya pagi yang lembut menyaring melalui jendela. Aku hanya sendirian di ranjang. Bagian ranjang tempat Lucio berbaring semalam terasa dingin, dia sudah pergi entah kapan. "Dasar Lucio Deveroux! Bisa-bisanya dia nggak pamit sama si tuan rumah kalau mau pulang." gumamku, menarik napas dalam-dalam. Sisa aroma cologne mahalnya masih tertinggal samar di sepraiku, bercampur dengan aroma keringat kami berdua. Aku duduk, menyentuh bibirku yang masih terasa bengkak. Aku merasakan nyeri di tubuhku, tapi ini adalah nyeri yang menyenangkan, sebagai pengingat akan gairah yang intens, bukan rasa sakit karena dipaksa. Aku tersenyum tipis. Ternyata, dia adalah b***k

