POV LUCIO Napas kami berdua masih memburu, memecah keheningan di apartemen kecil milik Nadia. Cahaya lampu dari luar menyorot samar tubuh kami yang bersimbah peluh setelah penyatuan yang panjang. Nadia masih di atasku. Rambutnya yang sedikit basah menempel di lehernya yang berkeringat. Sementara kulit kami bersentuhan tanpa penghalang. Tanganku yang bebas mengusap punggung Nadia perlahan. Tubuh mungil yang baru saja menguasaiku beberapa saat yang lalu. Malam ini tidak ada paksaan. Tidak ada ancaman. Nadia dengan berani menuntut kepuasan dariku. Ya, katakanlah aku menjual kesedihan dan luka-luka lama yang kuderita agar Nadia merasa iba padaku. Namun, yang kudapatkan lebih daripada itu. Siapa sangka gadis mungil itu tiba-tiba mengambil kendali yang biasanya kumiliki dengan caranya.

