Pagi di Desa Atlet Paris menyapa dengan angin yang jujur. Tidak terlalu dingin, tidak terlalu hangat—sekadar mengingatkan bahwa tubuh butuh jeda setelah hari-hari yang menuntut. Miura duduk di tepi ranjang, memeluk lutut, membiarkan cahaya masuk melalui tirai tipis yang belum sepenuhnya terbuka. Di meja kecil, ada kartu jadwal pemulihan yang ditulis tangan oleh fisioterapis tim: hydration, mobilization, nap, light stretch, mental check-in. Semua terlihat sederhana, tapi setiap kata itu memikul tugas yang tidak sederhana: menata ulang tubuh, menghaluskan tepi-tepi letih yang tersisa. Ponselnya bergetar pelan. Muncul notifikasi: “Call: Rumah Semarang.” Miura tersenyum, menekan tombol hijau, dan layar menampilkan wajah Yulianto yang sedikit buram karena sinyal awal yang belum stabil. Rambutn

