Langit sore Paris mulai berubah warna. Bayangan stadion menyapu lintasan merah yang masih hangat selepas semifinal nomor 800 meter. Miura baru saja mencuri perhatian dunia dengan penampilan gemilangnya. Namun ia tak punya banyak waktu larut dalam euforia. Sebab malam itu, ia sudah ditunggu lagi oleh rekan-rekannya: tim estafet 4x100 meter putri Indonesia. Empat gadis muda dengan seragam merah putih itu duduk melingkar di ruang tunggu atlet. Keringat masih menempel di dahi mereka, bukan karena baru berlari, melainkan karena degup jantung yang lebih cepat dari biasanya. Bagi mereka, nomor ini semula hanyalah formalitas—sekadar memenuhi kuota. Tak ada yang benar-benar berharap lebih. “Anak-anak, kalian sudah tahu arahan pelatih,” ujar Coach Suryo, pelatih kepala atletik Indonesia. Suaranya

