Chapter 136 : Sorotan Cinta dan Kemanusiaan

1860 Kata

Riuh canda tawa di halaman belakang Kejaksaan Negeri Banjarnegara perlahan mulai mereda. Matahari mulai condong ke barat, sinarnya menoreh lembut di pipi-pipi yang lelah namun bahagia. Para pegawai kembali ke ruang kerja mereka dengan hati ringan, sementara Farida Mayang Sari masih berdiri di ambang pintu, menatap keakraban yang baru saja menjadi bagian dari sejarah kantornya. Namun, suasana damai itu tak berlangsung lama. Suara deru kendaraan dan langkah kaki terburu-buru terdengar dari pintu gerbang. Beberapa detik kemudian, gerombolan jurnalis dari berbagai media lokal dan nasional menyerbu halaman depan Kejari. Mikrofon, kamera, dan ponsel teracung tinggi. Nama-nama itu diteriakkan bersahut-sahutan: "Miura! Miura! Di sini!" "Yulianto! Lambaikan tangan dong!" "Katie! Arella! Apa renc

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN