Kalau mentari pagi menghangatkan Stadion Soemitro Kolopaking, Banjarnegara. Udara dingin pegunungan bersentuhan dengan aroma semangat dari ribuan manusia yang memenuhi stadion jauh sebelum acara dimulai. Mereka datang bukan hanya untuk menyaksikan, tapi untuk merasakan. Untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada olahraga—yakni cinta, kepedulian, dan pengharapan. Farida Mayang Sari berdiri di balik panggung utama, menatap lautan manusia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Raut wajahnya tak bisa menyembunyikan keterharuan. Perempuan yang dulu dikenal sebagai Kajari Bungo itu bahkan hampir tak percaya bahwa acara amal yang awalnya hanya berawal dari percakapan iseng bersama Yulianto Atmaja dan Malda Miura kini berubah menjadi magnet yang mengguncang level nasional. “In

