Malam itu, ketika embun baru saja memeluk kaca jendela kamar mereka yang hangat di Beijing, Miura duduk bersandar pada punggung Yulianto. Mereka sudah menyelesaikan semua balasan untuk para atlet dari berbagai negara. Satu demi satu, wajah-wajah itu muncul di benak mereka—Annelies dari Belanda, dua sprinter muda dari Palestina dan Israel yang memendam mimpi di tengah kehancuran, serta atlet-atlet Iran yang kini hanya bisa berlatih di reruntuhan. "Aku tak tahu kenapa mereka percaya sekali padaku, Lao Gong," gumam Miura. Suaranya parau, ada sesuatu yang bergetar di dalamnya. "Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang pelari yang pernah jatuh terlalu dalam." Yulianto menggenggam tangan istrinya, lalu menciumnya lembut. "Mereka percaya bukan karena kamu hebat, Miura. Tapi karena kamu pernah j

