Langit Paris menjelang sore itu begitu teduh. Bus kontingen Indonesia baru saja berhenti di pelataran depan Stade Charléty, stadion atletik legendaris yang kini berdandan mewah dengan nuansa Olimpiade. Dari kejauhan, terlihat bendera-bendera negara peserta berkibar anggun, menyambut ribuan atlet dari seluruh penjuru dunia. Miura melangkah turun dari bus dengan rompi merah putih bertuliskan Indonesia. Di tangannya, ia masih menggenggam botol minum yang diberikan Yulianto sebelum berangkat. “Biar kamu selalu ingat aku,” katanya waktu itu. Botol sederhana, tapi menjadi harta paling berharga. Seorang ofisial Paris menyambut rombongan dengan senyum ramah. “Bienvenue! Welcome, Team Indonesia!” Para atlet pun membalas dengan semangat. Namun belum sempat mereka benar-benar masuk stadion, bebera

