Desa Atlet Paris sore itu seperti pasar kecil dunia yang penuh warna. Dari balkon kamar-kamar apartemen tinggi, bendera berbagai negara berkibar dengan bangga. Di lorong utama, atlet dari seluruh penjuru bumi saling berselisih jalan. Ada yang masih dengan wajah tegang, ada yang santai bercanda, ada pula yang sibuk menunduk menatap ponselnya. Namun di tengah keramaian itu, satu hal mencuri perhatian: aura yang terpancar dari kontingen Indonesia, terutama Malda Miura. Sejak kedatangannya, Miura sudah seperti magnet. Bukan hanya karena catatan prestasinya, bukan pula hanya karena parasnya yang teduh. Ada sesuatu yang berbeda: kehangatan, kerendahan hati, dan kisah cintanya bersama Yulianto yang sudah menjadi legenda. Para atlet membicarakan mereka seakan-akan membicarakan simbol perdamaian y

