Elaina telah menempati tempat duduk di pinggir kaca tebal yang menyuguhkan pemandangan kemacetan jalan raya. Wajah cantiknya dilingkupi kesepian dan gerak tubuhnya jelas mencerminkan keresahan yang misterius. Menatap sosok yang telah melahirkan Attaya dari jarak dua meter, perasaan Tiara jatuh iba. Wanita itu duduk di atas sofa, tampak tidak berdaya, di tengah-tengah kekayaan yang mengelilinginya. Dengan perlahan, Tiara mengayun langkah mendekati wanita yang entah pikirannya sedang berada di mana. "Selamat sore, Nyonya Elaina?" sapa Tiara dengan santun dan melempar senyum tulusnya. "Oh, maaf, dengan siapa ya?" Elaina menatap Tiara hampir tanpa berkedip. Tiara mengulurkan tangannya ke hadapan Elaina. "Saya, Tiara Kusuma, yang diklaim secara sembarangan oleh suami Anda sebagai putr

