“Apakah kamu kedinginan, Bening?” tanya Banyu pelan sambil merapatkan selimut ke tubuh istrinya. Malam itu terasa sangat panjang untuk mereka berdua. Walaupun sudah kembali berada di rumah, di kamar sendiri, di ranjang yang seharusnya paling aman, Bening tetap tidak bisa memejamkan mata. Banyu tahu benar bahwa istrinya kelelahan sampai ke tulang. Dua hari lebih tanpa makan, tanpa tidur, diselimuti rasa takut. Tapi Bening seolah tidak memberi tubuhnya kesempatan untuk beristirahat. Sejak mereka tiba di rumah sampai jarum jam menyentuh angka satu dini hari, Bening belum sekali pun melepaskan pelukannya dari tubuh Banyu. Mereka duduk bersandar pada headboard ranjang yang empuk. Bening berada di sisi Banyu sambil melingkarkan tangannya kuat-kuat di pinggang suaminya. Kepalanya menempel di d*

