“Maksudnya apa?” tanyaku bingung melihat Mbak Lina yang juga panik. “Kepalanya yang sakit sekali sampai teriak, bukan kakinya lagi. Saya tidak berani memberikan obat apa-apa karena takut salah malahan.” Mbak Lina memberikan penjelasan di sela kepanikannya. Aku dan Rey saling berpandangan. “Panggil yang lainnya! lebih baik kita bawa ke rumah sakit, jangan ambil resiko lagi,” perintah Rey pada Mbak Lina yang kemudian bergegas berjalan cepat kea rah depan lewat taman samping. “Lebih baik kita lihat keadaan Rama sekarang,” ucap Mama yang juga terlihat cemas. Sedangkan aku? Jangan ditanya lagi perasaanku sekarang. Rasanya campur aduk Dan sulit untuk aku jelaskan. Rasa takut, bingung, panik dan perasaan lainnya berjejal di dalamnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Rama, apakah ini mas

