CANDY Setelah menimbang, pada akhirnya aku memutuskan untuk menghampirinya di kafe masih menggunakan seragam sekolah. Rafa terlihat sedang meladeni pelanggan yang datang di kafe itu. Melihat kedatanganku, senyum sumringah tampak di wajahnya. “Selamat datang, Permen,” katanya seraya merentangkan tangan seolah ingin memelukku. Aku mempercepat langkah mendekatinya. Sejurus kemudian, kutampar pipinya, di depan pengunjung kafe yang serentak menoleh memerhatikan kami sambil menggumam riuh. Rafa menyentuh pipinya yang pasti terasa panas membara. “Ow...” Dia memandangku. “Kok ditampar???” “Itu ucapan terima kasih dari aku karena kamu nemuin hapeku di kursi taman tapi nggak mau ngembalikin langsung ke rumah,” kataku ketus. Aku melipat tangan di depan d**a. Rafa tertawa menanggapi celotehan

