“Yah… penginapan jadi terasa sepi.” Noah memainkan gitar kecilnya di atas ayunan sendirian dan bergumam berkali-kali dari bergumam merasa bosan karena kesepian kini penginapannya kembali seperti semula, menjadi sunyi dan pekerja bermalas-malasan. Lelaki dengan gaya nyetrik itu bergumam mengingat-ingat lirik di dalam kepalanya yang dari sejam lalu ia susun dengan baik. “Kau benar-benar tidak ada kerjaan lain selain hanya bermalas-malasan ya?” Seorang pria paruh baya yang tegap berkulit cokelat menghampirinya, membawakan sekantong pesanan. “Apa kau yang mengantarnya? Kenapa bukan pekerja yang lain?” tanya balik Noah saat menyadari suara pria paruh baya itu. “Memang pekerja yang mana? Hanya ada kami berdua dan si kasir.” Amir merasa keberatan dengan pembicaraan mereka yang membuat dirin

