Bab 11

1289 Kata
“Kak Naufal tumben jam segini sudah pulang?” tanya Cahaya “—“ Naufal mengabaikan pertanyaan Cahaya, ia seolah tidak mendengar pertanyaan istrinya itu. Masih menunjukkan pukul tiga sore tapi Naufal sudah pulang dari kantor. Biasanya Naufal selalu pulang di malam hari, bahkan tengah malam. Karena kebetulan Naufal pulang lebih awal Cahaya berniat memintanya untuk mengantar ke rumah sakit. Semakin kesini Cahaya merasa ada yang aneh dengan kondisi tubuhnya. Cahaya menyusul suaminya ke dalam kamar. Ia berharap Naufal mau mengantarnya, meskipun harapannya kecil. “Em.. Kak Naufal!” panggil Cahaya Naufal melirik sekilas ke arah Cahaya tanpa menjawab panggilan dari istrinya tersebut. “Kak Naufal sibuk nggak?” tanya Cahaya dengan hati-hati “—“ “Kak Naufal!” “Ck, apa sih?” sentak Naufal Cahaya langsung menunduk melihat respon suaminya. “Em.. Cahaya mau minta tolong untuk mengantarkan ke rumah sakit. Apa…” “Pergi sendiri! Jangan manja.” Naufal memotong perkataan Cahaya dengan nada ketus. “Huhh,” Cahaya menghela nafas kasar. Ia salah besar meminta bantuan pada suaminya karena Naufal pasti menolak. “Baiklah.” dan setelah itu Cahaya melangkah keluar kamar Setelah kepergian Cahaya, Naufal menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Ia menatap langit-langit kamar sembari berpikir apa yang harus ia lakukan agar bisa segera menikahi Zaskiya. Ia dalam masalah besar jika kedua orang tuanya mengetahui hal ini. Naufal mengacak rambutnya frustasi. Masalah hari ini benar-benar membuatnya pusing. “Aarrgghh,” teriaknya “Apa yang harus aku lakukan sekarang?” gumam Naufal Di sisi lain, Cahaya menunggu hasil pemeriksaan. Ia berdoa agar tubuhnya tetap sehat. Kemungkinan ia hanya kelelahan karena ia melakukan semuanya sendiri, Naufal sama sekali tidak pernah membantu ataupun peduli dengan kondisi tubuhnya. “Jadi, bagaimana dengan kondisi saya, dok?” tanya Cahaya Dokter itu justru tersenyum tipis membuat Cahaya menautkan kedua alisnya bingung. “Dokter kenapa tersenyum? Apa ada yang salah dengan pertanyaan saya?” “Tidak ada, Bu. Saya tersenyum karena ikut bahagia dengan hasil pemeriksaan.” ujar dokter tersebut “Memangnya kenapa dengan hasilnya, dok?” “Selamat ya Bu, Bu Cahaya sedang mengandung dan usianya baru menginjak dua minggu.” Deg Cahaya terkejut mendengar penjelasan dari dokter tersebut.Wajahnya terlihat bengong seolah tidak percaya dengan penjelasan dari beliau. Reflek tangan kananya mengelus perutnya. “H-hamil, dok?” tanya Cahaya dengan suara gugup Dokter itu mengangguk sembari tersenyum. Beliau memberikan hasil pemeriksaan pada Cahaya agar dia percaya dengan penjelasan darinya. Cahaya menerima lembaran kertas tersebut lalu membacanya dengan teliti. Jantungnya berdetak cepat ketika membaca tulisan positif, yang berarti dirinya memang sedang mengandung. “Ya Allah, ini beneran, dok?” tanya Cahaya dengan wajah berbinar bahagia “Benar, Bu. Bu Cahaya sedang mengandung.” “Saya minta Bu Cahaya jangan terlalu kecapean, makan makanan yang bergizi, dan jangan lupa untuk tetap menjaga kesehatan. Kandungan Ibu masih sangat muda, karena hal itu rentan untuk keguguran.” ujar dokter tersebut Cahaya mengangguk mengerti. Ia menunduk lalu mengelus perutnya yang masih rata. Ada rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, bahkan ia tidak percaya Allah memberikan dirinya Amanah untuk menjadi calon Ibu. “Alhamdulillah. Terima kasih, Ya Allah.” “Terima kasih atas kepercayaan yang telah Engkau berikan kepada Cahaya.” ucapnya dalam hati “Selamat ya, Bu! Dijaga baik-baik kandungannya.” ujar Dokter tersebut Cahaya mengangguk. “Pasti, dok.” Setelah selesai dengan urusannya Cahaya keluar dari ruangan dokter tersebut. Bibirnya tidak berhenti tersenyum, begitupun dengan tangannya yang terus mengelus perut ratanya. Wajah Cahaya bersinar bahagia karena kabar baik yang tidak ia sangka-sangka kehadirannya. “Terima kasih sudah hadir, sayang. Ibu sangat bahagia mendengar kabar kehadiran kamu di dalam sini.” gumamnya “Ibu akan kasih tahu kakek dan nenek tentang kehadiran kamu. Mereka pasti sangat bahagia mendengarnya.” dan setelah itu Cahaya berjalan keluar dari rumah sakit. Ia akan datang ke rumah orang tuanya untuk memberitahu kabar baik ini. *** Ceklek “Assalamualaikum.” salam Cahaya sembari memasuki rumah Cahaya mencari keberadaan kedua orang tuanya, ia tidak sabar ingin memberitahu mereka tentang kabar baik yang ia bawa. “Ayah, Bunda!” panggil Cahaya Cahaya tersenyum melihat keberadaan kedua orang tuanya sedang duduk di ruang keluarga. Ia mendekat ke arah mereka dan langsung memeluknya dengan erat, hal itu membuat Ardani dan Syafira terkejut. “Ya Allah, sayang!” pekik Syafira Syafira membalas pelukan putrinya tidak kalah erat. Beliau sangat merindukan putrinya itu. “Kamu ke sini sama siapa, sayang? Kok nggak bilang dulu kalau mau ke sini?” “Biar surprise aja.” Cup Syafira mencium kening Cahaya cukup lama, beliau sangat merindukannya. Cahaya beralih duduk di antara kedua orang tuanya dengan wajah bersinar bahagia, hal itu membuat Ardani dan Syafira bertanya-tanya. “Kamu kenapa, sayang? Kelihatannya bahagia banget.” ujar Ardani “Cahaya memang sangat bahagia, Yah. Cahaya ke sini mau kasih tahu sesuatu ke Ayah dan Bunda.” “Oh, ya? Soal apa?” tanya Syafira Cahaya menggenggam tangan kedua orang tuanya lalu mengarahkan tangan mereka untuk menyentuh perutnya. “Di dalam sini ada sebuah nyawa, cucu Ayah dan Bunda.” Ardani dan Syafira saling menatap. Mereka masih mencerna perkataan Cahaya. “Cucu?” Cahaya mengangguk sembari tersenyum. Setelah beberapa detik mencerna perkataan Cahaya akhirnya mereka memahami perkataan putrinya itu. Binar bahagia terlihat begitu jelas di wajah mereka. “MasyaAllah, kamu hamil, sayang?” tanya Syafira Caca mengangguk berulang kali, dan detik itu juga tubuhnya merasakan pelukan erat dari sang Ibu. Syafira menangis haru di pelukan putrinya. “Kok Bunda nangis?” ujar Cahaya sembari mengelus punggung Ibunya “Ini bukan tangis kesedihan, melainkan kebahagiaan. Karena terlalu bahagia Bunda tidak tahu harus mengatakan apa, nak.” Beribu-ribu kata syukur terucap dari bibir Syafira dan Ardani setelah mendengar kabar baik yang diucapkan putri mereka. Sebentar lagi mereka akan menjadi seorang kakek dan nenek. “Jaga baik-baik kandungan kamu ya, sayang! Ayah dan Bunda sangat menyayangi kalian.” ujar Ardani “Cahaya pasti menjaganya dengan baik, Yah.” Ardani menautkan kedua alisnya, beliau baru menyadari sesuatu. “Kamu ke sini sendirian? Lalu di mana suamimu?” Deg Cahaya langsung terdiam setelah mendengar pertanyaan dari Ayahnya. Ia mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Ardani. Pasti kedua orang tuanya kecewa jika mereka mengetahui bagaimana sikap Naufal selama ini. Ia tidak ingin hal itu terjadi. “Em.. Kak Naufal masih di kantor, Yah.” jawab Cahaya “Apa dia sudah mengetahui tentang kehamilan kamu?” Cahaya menggeleng pelan. “Nanti kalau Kak Naufal sudah pulang Cahaya pasti memberitahunya.” “Syukurlah! Ayah dan Bunda bahagia mendengar rumah tangga kalian baik-baik saja.” ujar Syafira Cahaya tersenyum getir mendengar perkataan Ibunya. Bahagia? Justru Cahaya selalu tersiksa lahir batin semenjak tingga bersama Naufal. Ia menyembunyikan masalah rumah tangganya dari orang lain, termasuk kedua orang tuanya. Biarlah hal itu menjadi Aib bagi keluarganya, dan ia harap Naufal akan berubah suatu saat nanti. Ardani dan Syafira berpikir jika rumah tangga putrinya baik-baik saja, apalagi setelah mendengar kehamilan Cahaya membuat mereka yakin jika keduanya sudah bisa saling menerima satu sama lain. “Jagalah hubunganmu dengan suamimu, dan tetaplah harmonis seperti ini! Doa Ayah dan Bunda selalu menemani di setiap langkah kamu.” Mata Cahaya berkaca-kaca mendengar nasehat dari Ibunya. Ia takut kedua orang tuanya mengetahui bagaimana perlakuan Naufal padanya selama ini. Ia tidak ingin kedua orang tuanya kecewa dan hancur kepercayaannya. “Ayah, Bunda, maafin Cahaya karena sudah berbohong. Cahaya tidak bermaksud membohongi kalian.” batinnya berucap “InsyaAllah, suatu saat nanti Kak Naufal pasti berubah, Cahaya yakin hal itu.” “Setelah pulang nanti jangan lupa beritahu kabar baik ini pada Naufal, dia pasti sangat bahagia mendengarnya.” ujar Syafira Rasa takut seketika melingkupi diri Cahaya. Ia tidak yakin Naufal mau menerima janin dalam kandungannya. Ia masih teringat dengan perkataannya waktu itu. “Apa kamu mau menerima buah hati kita, ka?” batinnya bertanya-tanya •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN