Bagian 44 "Tunggu, Ben." "Apalagi, Ma?" "Jangan pergi." "Kami harus pergi, Ma. Istri dan anak-anakku akan menderita jika terus tinggal di sini. Ayo, Ra." "Ben, tunggu. Jangan mengambil keputusan dalam keadaan marah seperti ini. Mari kita bicarakan ini dengan kepala dingin." Papa mertua menghentikan langkah kami saat hendak memasuki kamar. "Mari kita kembali ke ruang tengah, kita bicarakan hal ini secara baik-baik. Papa mohon kamu jangan turuti emosi," ajak Papa sambil menepuk pelan pundak Mas Ben. Mas Ben pun menuruti ajakan Papa. Kami kembali ke ruang tengah, menghampiri Mama yang masih duduk di atas sofa dengan wajah menunduk. "Ma, sekarang tolong jawab Papa. Sebenarnya apa mau Mama? Jika memang Mama tidak suka kalau menantu dan cucu-cucu kita tinggal di sini, sampailah dengan c

