Verrel menutup pintu kamarnya. Sudah pukul dua pagi. Ia tampak berjalan lesu ke arah tempat tidurnya. Kepalanya pusing dan mukanya tampak lebam-lebam. Belum lagi tangannya yang kelihatan berdarah. s**l, bisa-bisanya dia dihadang preman. Sebenarnya dia sudah akan pulang ke rumah saat aktivitasnya mengintai Agatha dan Sena selesai. Tapi nahas, kenyataan tidak semulus rencananya. Verrel mengerang saat nyeri di perutnya terasa lagi. Ia merebahkan dirinya di kasur. Tangannya masih menggenggam handphone. Ia segera mengetikkan pesan dan mengirimnya pada Arthur. Jujur saja, tadi Verrel sempat mengira bahwa dirinya akan diculik atau dijadikan sanderaan para preman itu. Tapi ternyata begitu ia terkapar di jalanan yang sepi, preman-preman itu justru meninggalkannya. Untunglah, mere

