Shana berjalan mengekori Arthur. Matanya menelisik ke dalam ruangan-ruangan yang ada di lantai tiga gedung ini. Sejenak, Shana menghentikan langkahnya. "Arthur, itu apa?" Shana menunjuk ke lantai sebuah ruangan yang dipenuhi genangan darah. Arthur berjalan ke ruang yang Shana maksud. Ia mengamati genangan berwarna merah darah itu. Shana turut mendekat. Ia tampak menahan napas karena bau anyir yang tercium samar. "Ini darah beneran?" "Sepertinya begitu." Arthur berdiri. Ia segera berjalan keluar dari ruangan itu dengan wajah serius. Shana yang bingung dengan sikap Arthur memilih mengikuti cowok itu. Betapa terkejutnya Shana saat ia melihat banyak preman menanti mereka di luar ruangan itu. "Hallo, anak b******k. Akhirnya gue bisa ketemu sama lo dan cewek lo.

