Part 7-- Kenangan

1197 Kata
--Lakukan yang kau inginkan sekarang, karena waktu tak akan berputar ulang. . . . Kyoto, 2042 Tirai ungu violet terhembus angin sepoi, mengizinkan mentari masuk ke kamar berdinding ungu muda. Setiap sudut kamar itu tertata sangat cantik. Di sudut kanan kamar tampak lemari kaca besar penuh dengan buku-buku. Di depan lemari itu Runa berdiri terpaku. Pandangannya terpusat pada album-album foto yang tertutup dan tersusun rapi. Sudah cukup lama ia mematung di sana. Tatapan muram nampak jelas di wajah jelitanya. Gadis ramping itu kini menyentuh sebuah album foto dan mengambilnya. Ia tak membukanya. Namun, tetesan air mulai turun dari mata cokelatnya yang indah. Setetes, dua tetes, hingga terasa hangat di pipinya yang putih mulus. Ada kesedihan yang ia rasakan saat memegang buku itu. Tanpa membukanya pun kenangan-kenangan dalam buku itu merasuki alam bawah sadarnya, seakan ia dapat membacanya dengan jelas. Sesaat kemudian, kenangan-kenangan dalam album foto itu seakan menjadi proyeksi nyata di depan mata Runa. Ia dapat menyaksikan kenangan itu. Seakan berada di dalam album foto. Sebuah halaman di depan rumah besar tampak dipenuhi salju. Beberapa anak kecil bermain perang salju di sana. Mereka berlari, tertawa, tampak amat bahagia. "Kena kau, Lei!" Seorang anak perempuan melempar bola salju tepat mengenai bocah lelaki yang berlari di depannya. "Rei jadi penyerang sekarang, ayo semuanya kita buat benteng!" Komando anak lelaki lain yang lebih besar. Lima orang anak mengikutinya, membuat benteng dari salju yang ditumpuk tinggi. Bocah lelaki-- yang dipanggil Rei-- mengumpulkan bola-bola salju. Dua anak lelaki lain ikut membantunya. Mereka lalu melemparkan bola-bola itu ke arah benteng salju sampai sebagiannya hancur. Mereka tertawa, dan berlari ke arah benteng. Tim yang menjaga benteng kalang kabut. Lalu mulai menyerang tim musuh dengan bola-bola salju. Perang bola salju antara anak-anak itu makin sengit. Namun wajah gembira mereka nampak jelas dalam tawa khas anak kecil. "Kena kau, Runa!" Lemparan bola salju Rei tepat mengenai tubuh kecil Runa. Gadis kecil itu tersungkur di atas dinginnya salju. Seketika ia menjerit, menangis. Sontak, anak-anak berlarian ke arah Runa. Rei sempat mematung sebelum ditarik seorang anak lelaki lain untuk ikut membantu Runa. Mereka berkerumun di sana. Beberapa anak perempuan yang tampak lebih besar dari Runa membantunya berdiri. Tangis Runa makin menjadi saat ia mencoba berdiri. Darah segar mengalir dari lututnya. Legging hitamnya sobek dan mulai basah dengan darah. "Runa terluka? Kenapa?" tanya Rei dengan wajah polos anak kecil. "Apa kau tak bisa lihat ada batu-batu tajam di bawah salju ini?!" ucap anak perempuan lain yang tengah membopong Runa. "Atau jangan-jangan kau sengaja melempar bola salju ke arahnya dengan kuat agar Runa terjatuh?!" ucap anak lelaki lain yang lebih besar dari Rei. "Dia kan bisa melakukan segalanya, bisa saja dia memang mau melukai Runa" ucap yang lainnya. Seperti dipimpin seseorang, anak-anak itu terus menuduh dan menyalahkan Rei. Tangis Runa makin menjadi. Keributan anak-anak itu pun makin rusuh. "Dasar anak sempurna sombong, lihat Runa menangis gara-gara kau!" seru anak lelaki yang tampak lebih besar. Anak-anak lain mengiyakan. Rei terdiam, menahan air matanya yang hampir menetes. Katakan sesuatu, Runa! Katakan kalau kau tidak apa-apa Katakan kalau Rei tidak bersalah Rei tidak salah apa-apa! Berhenti menangis! Hentikan mereka yang terus menyalahkan Rei! Hentikan! Hati Runa dewasa yang melihat proyektor kenangan itu mengamuk. Ia terus berteriak pada dirinya yang ada dalam kenangan itu. Percuma saja, karena itu hanyalah proyektor dari sebuah album yang dipegangnya. Suaranya tidak akan terdengar. Dirinya dalam wujud anak kecil itu pun tak akan mengatakan apa-apa. Ia terus menangis. Hanya menangis tanpa menanggapi anak-anak yang menyudutkan Rei. Kenangan dalam proyektor itu terus berjalan. Kini pria paruh baya keluar dari dalam rumah dan berlari menuju anak-anak itu. Air mukanya tampak amat khawatir. Jas putih yang sering dipakai di laboratorium miliknya seakan ikut berlari di udara. Dengan cepat ia menggendong Runa yang terluka. Melihat anak-anak itu masih ribut menyalahkan Rei, membuatnya menyuruh mereka kembali ke rumah dan mengakhiri permainan. Proyektor kenangan itu menghilang ketika ponsel di saku Runa berbunyi. Ia menghapus air mata di pipinya dan menaruh album foto di lemari seperti semula. Isak tangisnya masih terdengar sedikit sampai akhirnya dipaksa berhenti saat ia menerima panggilan. "Runa, kau menangis?" tanya seseorang yang menghubungi Runa tepat setelah Runa mengangkat panggilan ponselnya. "Hm? Ah, tidak, tidak apa-apa, Rei. Kau dimana? Jadi bagaimana di kantor polisi tadi?" jawab Runa, sambil terus memaksa isak tangisnya untuk berhenti. "Kenapa? Kau terluka?" Seketika pikiran Runa seakan kembali pada proyektor kenangan yang baru saja ia lihat. Ia menghirup napas kuat-kuat, dan mengeluarkannya. Mencoba menata ulang pikirannya agar Rei tidak mendengarnya menangis. "Tidak, aku tidak apa-apa, tadi hidungku gatal, jadi terdengar seperti menangis ya? Jadi bagaimana? Kau belum menjawab pertanyaanku." ucap Runa, mencoba berbohong. "Baiklah, kalau kau tidak ingin menceritakan kesedihanmu itu, karena nyatanya memang banyak hal yang kau sembunyikan dariku, kan?" "Lei-- bukan maksudku--" "Ah, tentang kesaksianku pada polisi, tidak ada hal yang mereka bisa percayai. Ya, mana ada orang yang akan percaya kesaksian orang yang menderita amnesia." "Kau mengatakan semuanya?" "Hem, semua yang kutahu. Kau tahu jelas, tak banyak yang kutahu." "Jadi kau menghubungiku untuk membujukku lagi agar mau memberitahumu semuanya?" Sunyi. Tidak ada jawaban dari Rei. Namun, bukan Runa namanya jika tak bisa membaca pikiran Rei, walau hanya lewat panggilan ponsel. "Sudah kukatakan sebelumnya, kan. Kau akan mengingatnya sendiri, percayalah padaku, Lei, aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu jika kau masih saja nekat memaksa ingatanmu kembali." "Memang apa yang akan terjadi jika aku memaksa ingatanku kembali?" Runa menghela napas. Bagaimanapun ia berusaha melindungi pria ini, tapi tidak akan pernah dipedulikan. Ia tahu baik sikap Rei, bahkan semua hal tentangnya. "Shock berat. Mungkin lebih parah, kau akan koma beberapa hari." Sesaat tidak ada jawaban. Runa tahu apa yang dikatakannya kali ini pasti akan membuat Yuuki marah. Namun, ia terpaksa mengatakannya untuk mengakhiri kenekatan Rei. "Oke. Aku akan percaya kata-katamu untuk saat ini. Ya, walau aku masih mengira bahwa kau mengatakannya hanya untuk menakutiku." "Rei!" Runa kembali menghela napas. Tak terpikirkan olehnya bahwa kata-katanya tidak akan berpengaruh pada pria ini. "Hah-- sudahlah, Rei. Bagaimana kalau kita bertemu, kau ada dimana?" "Hm? Ya aku juga berencana bertemu denganmu dan Yuuki, bagaimana kalau kita bertemu di kafe yang sering kita kunjungi?" "Oke. Tunggu aku di sana, aku juga akan membawa Yuuki ke sana." Runa menutup panggilan setelah mendengar persetujuan dari Rei. Ia menaruh ponsel itu ke dalam tas tangannya dan berkemas untuk pergi. *** Shizuoka, 2042 Stasiun Shizuoka tengah ramai dengan orang-orang yang naik turun kereta. Prefektur yang paling dekat dengan Fujiyama atau yang terkenal dengan gunung Fuji ini memang tak pernah sepi wisatawan. Saking ramainya, seorang gadis kecil berjalan dengan sangat amat hati-hati melewati kerumunan orang. Ia hampir terhimpit, lalu kembali berjalan lagi. Ibunya menunggu di depan kereta shinkansen yang sedang berhenti. "Ayo cepat kita masuk, keretanya hampir berangkat. Kita akan ketinggalan jika kau tak segera keluar dari toilet tadi." Gadis kecil itu tersenyum simpul mendengar perkataan ibunya. Lantas kaki kecilnya melangkah naik ke dalam kereta mengikuti ibunya. "Tadi banyak sekali orang kan? Kau tidak apa-apa kan?" Gadis kecil itu tertawa. Ibunya ikut tertawa sambil membenarkan ikatan rambut kuncir dua gadis itu. "Aku kan bukan anak kecil lagi, bu." "Hm? Karena kau terus terlihat seperti gadis kecil, maka ibu akan terus memperlakukanmu seperti anak kecil." Ucapan ibunya itu diikuti oleh suara kereta yang mulai berjalan. Tangan sang ibu mengelus pucuk kepala gadis kecil itu saat mereka telah duduk nyaman di dalam kereta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN