--Ketika sebuah keinginan berubah menjadi obsesi, maka segala dosa akan dilakukan.
.
.
.
Osaka, 2042
He didn't walk up with that "how you doin'?"
He said there's a lot of girls I can do with
I knew him forever in a minute
(Havana- Camila Cabello)
Suara merdu nan menggoda terdengar dari ruangan utama di sebuah rumah mewah. Seorang wanita melenggokkan pinggulnya sambil terus bernyanyi dengan penuh tatapan b*******h, bak bunga yang merayu lebah mendatanginya. Gaun selutut dengan aksen bunga yang terbuka di bagian pinggirnya memperlihatkan keelokan kaki dan pahanya. Tariannya makin memanas, mengetahui lebah yang dirayunya tetap tak datang.
"Ah, dasar w*************a ini, apa kau tidak lihat? Hear tidak membuka earphonenya, jadi berhentilah menari seperti cacing begitu, membuatku sakit mata!"
Tiba-tiba seseorang memukul pucuk kepala wanita yang tengah menyanyi itu. Sosok wanita tomboy --dengan celana denim dan jaket kulit berwarna hitam ketat dipadu t-shirt putih-- berkacak pinggang di depan si wanita bergaun. Ia lantas menghampiri seorang pria yang sedari tadi duduk di sofa tepat di depan wanita bergaun yang menyanyi tadi. Wanita bergaun itu meringis. Masih menahan sakit sambil memegang pucuk kepalanya. Mengetahui pria yang digodanya ternyata tak mendengar nyanyiannya membuat bibirnya berdecak kesal.
"Hear, can you hear me?"
Si wanita bergaun melambai-lambaikan tangan di depan wajah si pria. Wanita tomboy yang tadi memukulnya mendesah sebal. Menatap wanita yang tengah menggoda pria di sebelahnya dengan tatapan merendahkan.
Tak mendengar jawaban si pria, sang wanita bergaun berniat menyentuh pipi putih nan mulus milik si pria. Sayang, gerakan seketika dari pria itu menggugurkan niatnya. Pria itu membuka earphonenya. Kepalanya yang sedari tadi sedikit menunduk diangkat ke atas, ke arah wanita yang mengajaknya bicara.
"Hm?"
Bibirnya masih terkatup saat memberi respon dari pertanyaan si wanita bergaun. Wanita tomboy yang duduk di sampingnya hampir tertawa melihatnya.
"Did you hear my song, honey?"
"Did you sing a song for me?"
Mendengar pertanyaan balik si pria, wanita itu memajukan bibirnya, merengut kesal. Segala godaan dan rayuannya benar-benar tidak dihiraukan. Wanita tomboy yang duduk di samping pria itu pun tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan dua sejoli di depannya.
"Haha-- sudah kukatakan, kan? Kau tidak akan bisa menaklukkan hati es milik adik kecilku yang super menyebalkan ini."
Masih sambil tertawa, si wanita tomboy berujar dengan telunjuk tangan kirinya ditujukan ke arah si pria. Tangan kanannya menepuk-nepuk pahanya, seakan mengatur nada tertawanya.
"Ah, berhentilah menertawaiku kakak ipar!"
"Hei, kau saja tidak bisa mengambil hati adikku dengan suara mautmu, mana bisa kau memanggilku 'kakak ipar'?"
Tawa wanita tomboy itu semakin keras membuat bibir wanita bergaun makin mengerucut. Si pria tetap bergeming mendengar mereka berseteru, sebelum akhirnya dia tersentak akan sesuatu. Ada suara yang didengar olehnya.
"Hentikan tawamu, priamu datang, bodoh!" Gertak si pria kepada wanita tomboy di sebelahnya. Sontak, ia dan wanita bergaun mengalihkan pandangan ke arah lorong di sisi kiri ruangan.
Sesosok pria tinggi tegap dengan rambut acak-acakan berjalan ke arah ruang utama. Cardigan hitam panjangnya melambai-lambai mengikuti langkah kakinya. Namun tetap saja, kehadirannya membuat aura tidak nyaman di ruangan itu. Tak berapa lama, pria itu sudah berada di depan ketiganya. Senyuman licik terulas di bibir merah gelapnya.
"Aku senang dapat bertemu kalian di sini, listener, look dan tentu saja, diva terbaik di dunia, singer."
Ketiga orang di depan pria itu menatapnya tajam. Pandangan mereka seakan bertanya apa yang diinginkan pria itu. Si pria berambut acak-acakan itu lantas duduk di sofa depan mereka. Kakinya disilangkan sementara tangannya diletakkan di lengan sofa. Matanya terpejam sekejap. Seulas senyum licik kembali menghiasi bibirnya saat matanya kembali menatap tiga orang di depannya dengan pongah.
"Berhentilah berusaha mengosongkan pikiran kalian di depanku."
Mereka-- ketiga orang di depan si pria-- bergeming. Lantas si pria kembali memejamkan matanya.
"Hm. Jadi 'dia' tak ada di Roma? Dan 'anak itu' masih hidup?"
"Bukankah kau memang sudah tau jika 'anak itu' masih hidup, makanya kau melanjutkan rencana kotormu itu,"
Pria buta yang duduk di sofa-- Hear namanya-- mulai angkat bicara. Ia kesal menunggu pria di depannya terus mengoyak pikirannya.
"Karena itu aku mau menerima undanganmu ke sini untuk mengatakan bahwa aku akan keluar dari rencana kotormu."
Seketika dua wanita di sebelah Hear menatapnya terkejut. Sedangkan pria berambut acak-acakan itu semakin mengembangkan senyumnya.
"Silakan, tapi carilah adikku sang player yang berharga, baru kau akan bebas, listener."
Hear bergeming, kemudian mendengus kesal. Tanpa mengatakan apa-apa, ia beranjak dari sofa. Kakinya mulai melangkah ke lorong di sisi kiri ruangan. Makin lama punggungnya semakin menjauh. Wanita bergaun mencoba menghentikannya, namun tangan si pria berambut acak-acakan menghalanginya.
"Biarkan saja dia pergi, aku punya tugas spesial untuk suaramu."
Senyuman licik pria itu semakin lebar. Dua orang wanita di depannya menatap tajam disertai rasa takut yang membuat mereka terpaku di sana.

***
Moskow, 2042
Akhir musim semi di moskow menjadi waktu yang paling ditunggu, mengingat musim panas akan segera tiba. Kota yang setiap tahunnya selalu dingin ini, membuat penduduknya merasa bahagia saat akhirnya musim panas tiba, dan mentari akan menghangatkan mereka.
Sayang, malam itu gemericik hujan masih mambasahi tanah Moskow. Warna-warni payung pun menghiasi jalan-jalan di ibu kota Rusia itu. Menambah keindahan di tengah keramaian kota yang penuh dengan bangunan berkubah itu.
Di sebuah taman kota di pinggir jalan, seorang bocah lelaki duduk di kursi panjang. Ia tengah termenung di bawah siraman air hujan. Tangannya memainkan sebuah boneka matryoshka. Bocah itu membuka tubuh si boneka satu persatu, lalu menyusunnya kembali seperti semula, begitu terus berulang. Tubuhnya yang hanya diselimuti kaus lengan panjang hitam basah kuyup, tapi ia tak peduli dan terus bermain. Matanya hanya fokus pada boneka itu, hingga tak menyadari kehadiran pria dewasa yang kemudian memayunginya.
"Masih menjaganya dengan baik, ya?" ucap pria dewasa itu. Payung biru gelapnya berada tepat di atas bocah lelaki, hingga punggung si pria tampak basah sekarang.
Bocah lelaki itu menengadah. Matanya menatap sekilas pada pria itu lalu kembali beralih pada boneka di tangannya. Senyum lembut terulas di bibir si pria menanggapi sikap tak acuh bocah itu. Ia lalu berjongkok, menyetarakan posisinya dengan si bocah.
"Kau mau ikut denganku?"
Seketika bulir-bulir air membasahi pipi bocah itu. Ia mengusapnya berkali-kali, tapi kehangatan air dari matanya masih saja terasa. Dari bibirnya mulai terdengar isakan. Matryoshka di tangannya diremasnya untuk menahan tangisan.
"Kenapa kau baru datang? Aku menunggu kalian menjemputku, aku datang ke taman ini setiap hari, menelusuri jalan ini sendiri setiap waktu, tapi kenapa kau baru datang sekarang?"
Bocah itu menolak menatap pria di hadapannya. Isak tangisnya makin terdengar. Si pria mengelus pucuk kepala bocah itu dengan lembut. Ia berharap bocah itu menghentikan tangisannya.
"Ayolah, kau sudah mulai dewasa, jangan menangis seperti ini, ikutlah denganku, 'dia' ingin bertemu denganmu."
"Kenapa? Dia hanya membutuhkan kemampuanku saja kan? Dia hanya menginginkan 'anak itu', dia tidak akan pernah peduli padaku!"
Amarah bocah itu meledak. Tangan si pria yang tengah mengelus pucuk kepalanya pun ditapis. Ia kesal apa yang 'mereka' lakukan padanya.
"Kau ingin bertemu Yui-chan, kan?"
Mendengar pertanyaan si pria, tangisan bocah lelaki itu mereda seketika. Ia mulai menatap pria di depannya. Tatapannya menuntut kelanjutan pertanyaan yang terdengar seperti sebuah tawaran baginya.
"Jika kau ikut denganku dan mengikutiku, aku berjanji akan membantumu mencari Yui-chan."
"Kau janji?"
"Aku tidak akan main-main dengan anak yang suka main-main."
Tangan bocah itu menghapus sisa-sisa air mata di pipinya. Lantas ia beranjak, membuat pria di depannya ikut berdiri dari posisi jongkoknya.
"Kau juga harus berjanji melindungiku!"
"Tentu."
Mereka melangkahkan kaki pergi dari taman itu. Menapaki jalan-jalan yang basah dengan hati yang gemetar. Takut tak bisa mendapat apa yang mereka inginkan. Takut tak bisa selamat dari semua hal yang akan mereka jalani nanti.