Part 16-- Terulang

1027 Kata
Masalah bisa jadi datang kembali, hanya bagaimana cara menyelesaikannya . . . Kyoto, Jepang, 2042 Suasana ruang rawat Rei masih penuh kecanggungan, apalagi setelah identitas gadis kecil yang baru saja datang ke sana terungkap. Hawa dingin seakan meresap ke tulang-tulang mereka yang ada di sana, hingga terpaku terdiam di tempat masing-masing. Rei menghela napas. Situasi sekarang makin memaksanya untuk cepat pulih. Dugaan awal tentang pelaku pembunuhan yang mengincar nyawa pemuda itu kini dipatahkan. Otaknya terus berpikir, mencari celah untuk menyelesaikan teror ini. Apalagi kondisi tubuh yang barus disadarinya hanya memberi keuntungan yang sedikit. Ia tak boleh gegabah. Sementara itu Detektif Ishirou menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rasa sakit di kedua sisi kepala seperti menghantam detektif kepolisian itu. Runyam. Kasus ini ternyata lebih sulit dari perkiraannya.  "Jadi kau tahu siapa pelaku sebenarnya tapi tidak bisa mengatakan siapa dia?" Ucap Detektif Ishirou sambil menatap Yui ragu. Yang ditanya hanya mengangguk pelan, alhasil helaan napas berat lagi-lagi dihembuskan Ishirou. "Begini saja, apa kau tahu mengapa ia melakukan pembunuhan ini?" "Rei, dia hanya ingin membunuh Rei dam membunuh semua orang." "Untuk apa?" "Aku tidak tahu." Mendengar penjelasan Yui, Rei menegakkan badannya. Ia tak boleh di di ruang rawat ini begitu saja sementara dia tak tahu apa yang akan dilakukan 'orang itu'. "Yui, apa kau benar-benar tidak bisa mengatakan keterangan lain?" Kini giliran Rei yang mendesak gadis kecil itu. Namun, sayang, hanya gelengan kepala pelan yang menjawab pertanyaan Rei. "Ayolah, nak, ini sama sekali tidak membantu, aku butuh lebih banyak petunjuk!" Detektif Ishirou mulai kesal, ia merasa tak ada hasil apapun meski ia sudah sampai di tempat ini. Sedikit lagi, padahal sedikit lagi dia bisa mengungkap pelaku, tapi harapan iti sepertinya akan pupus kembali. "Hm. Dia lebih seperti psikopat yang akan membunuh siapapun untuk mendapat apa yang ia ingi-" Tiba-tiba Yui berhenti bicara. Wajah putih gadis kecil itu pucat seketika. Butir-butir air keluar dari pori-pori kulitnya. Perlahan, setetes dua tetes hingga jatuh dari ujung rambut dekat dahinya. Bola mata gadis kecil iti bergerak ragu-ragu ke kanan dan ke kiria, seakan takut ada seseorang yang mengawasi dirinya. Semua yang melihat Yui dipenuhi keheranan, kecuali Runa. Wanita itu tampak berkutat sendiri dengan pikirannya. Yuuki menatap Runa sekilas lalu kembali memperhatikan Yui yang sedang merasakan ketakutan, entah perasaan siapa. Wanita di belakang Yui dengan sigap mengelap butir-butir keringat yang membasahi wajah gadis kecil itu. "Mati-mati- aku tidak mau mati." Pernyataan gadis kecil itu terbata-bata. Rei dan Detektif Ishirou terkesiap. Mereka baru saja membuka mulut untuk bicara, namun dering pemberitahuan mengurungkan niat mereka. "Ya, Apa? Tidak mungkin! Baik, saya segera ke lokasi!" Nada bicara Detektif Ishirou tampak menghawatirkan. Ia bangkit dari kursinya dengan terburu sambil merapikan tablet dan buku catatan. Tatapan Rei semakin heran, sedang Yui masih berwajah pucat layaknya orang yang habis bertemu hantu. "Ada apa?" Tanya Rei sebelum Detektif Ishirou bergegas pergi. "Pembunuh berantai b******k itu membunuh seseorang lagi!" Sontak bola mata Rei terbelalak, begitu pula dengan Yuuki. Tanpa aba-aba, Rei melepas selimut dan turun dari ranjang. Ia hampir terjatuh, tapi Yuuki menahan tubuh pemuda itu, sekaligus menahannya berbuat gegabah. "Tetap di sini, Rei! Jika kau sudah pulih dan bisa keluar dari rumah sakit, saat itulah aku akan mengizinkanmu ikut dalam penyelidikan." Setelah mengatakan itu, Detektif Ishirou berlari meninggalkan ruang rawat Rei. Dengan kesal, Rei merutuki ketidakberdayaan dirinya. Hanya kata rutukan itulah yang kini bisa terdengar dari ruang rawat Rei. Ya, hanya itu yang bisa ia lakukan untuk saat ini. *** "Harap minggir, kami polisi!" Kalimat itu terus dikatakan Detektif Ishirou saat melewati orang-orang yang tengah berkerumun. Lokasi kejadian pembunuhan sudah amat ramai. Sulit bagi Ishirou jika tidak menerobos tanpa memperlihatkan tanda pengenalnya. Bisikan-bisikan orang-orang menambah ramai suasana. Belum lagi bau anyir darah yang pekat seakan menguap di udara. Benar-benar ramai dan penat. Beberapa rekan Ishirou di bagian forensik tengah memeriksa korban. Seorang detektif lainnya memberitahu detil kejadian dan penemuan mayat pada detektif yang baru saja menjenguk Rei itu. Tanpa basa-basi, Ishirou mengeluarkan buku catatan kriminalnya, beberapa rekan pria itu sudah mencatat kejadian di proyektor-proyektor tablet catatan kasus mereka. Ya, hanya Ishirou yang masih kuno memakai buku catatan kecil, entah kenapa. Korban pembunuhan itu memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan korban sebelumnya. Aneh. Membuat pikiran detektif tiga puluh tahunan itu meracau. Jika benar motif pembunuhan ini adalah untuk membuat Rei menunjukkan identitasnya dengan terus membunuh orang yang mirip dengan pemuda itu, lalu mengapa sekarang berbeda? Ishirou menghela napas berat. Betapa sial penyelidikan ini. Ia terus menggumam merutuki kesialannya. Lebih tidak masuk akal, korban kali ini adalah seorang anak kecil, sekitar tiga belas tahunan. Kondisinya seakan ia sedang naik sepeda dan tertabrak mobil, tapi tak ada mobil di sekitar lokasi kejadian. Tabrak lari, kah? Tidak ini pembunuhan, pikir Ishirou. "Putriku! Putriku! Huhuhu-" Seorang ibu tiba-tiba datang dan menjerit histeris. Pihak kepolisian-rekan Ishirou yang lain-mengamankanya. Wanita itu pasti ibu gadis kecil ini, pikir Ishirou. Mati- Aku tak mau mati! Sekilas ucapan Yui sebelum ia menerima kabar pembunuhan ini terlintas dalam benak Ishirou. Mungkinkah ini adalah tanda dari 'orang itu' bahwa ia juga mengincar Yui? "Sandou-san, apa ada bukti lain di badan korban?" Tanya Ishirou, detektif tampan itu kini mulai mengerti sifat sang pembunuh. Ya. Dia monster! "Ada sebuah chip di ranselnya, pak." Sebuah chip? Apa pelaku sengaja meninggalkan bukti? "Berikan padaku! Aku akan memeriksanya di tabletku." Rekan Ishirou itu memberikan chip yang dimaksud. Amat kecil, tapi cukup untuk menyimpan sebuah pesan suara. Ishirou mengeluarkan tabletnya. Jemari pria itu menggeser layar tablet dan beberapa saat muncul sebuah proyeksi. Chip itu diletakkan Ishirou di sebuah penampang tabletnya, seketika proyeksi itu men-scan isi chip. Beberapa saat sang detektif kepolisian itu menunggu tabletnya men-scan. Wajahnya tampak tegang dan kaku. Bola mata detektif itu terpaku pada file suara yang terpampang di proyektor. Ia memakai earphonenya. Jantungnya berdegup kencang. Pria berahang tegas itu menghela napas untuk mengatur pikirannya. Jemari detektif itu menyentuh gambar file di proyeksi dengan yakin. Ya. Ia harus mengetahui kebenaran dari kasus ini. Setelah bunyi seperti suara yang berisik, terdengar suara lelaki yang datar dan lembut. Namun, entah kenapa mampu membuat orang yang mendengarnya bergidik. "Hai, Detektif ..., aku tau kau punya pikiran yang sama busuknya denganku, bisakah kau sudahi permainan detektif-detektifanmu, dan berdiri di sampingku? Kalau menolak, ya ..., tak apa, aku hanya butuh Sang Sense untuk menundukkan orang-orang sepertimu ....Bye, mister detective, thanks for bring my dear brother, Rei, ah, and my little sister, Yui ...."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN