Perubahan sifat manusia adalah sesuatu yang misterius, tak akan pernah bisa ditebak akan seperti apa.
.
.
.
Tokyo, Jepang, 2042
Seorang wanita berdiri di depan hall bandara Narita. Kacamata hitam yang menutupi mata wanita itu membuat wajahnya sulit dikenali. Ia memegang koper hitam dan sebuah tas merah kecil. Wangi lavender tercium semerbak saat orang-orang melewatinya. Acuh dengan sekeliling, ia tetap berdiri di sana meski banyak pandangan tertuju padanya. Mungkin karena rasa penasaran mereka pada sosok milik wanita itu.
Tak berapa lama ia memasang earphone dan menekan jam tangan merah maroon di tangan kanannya. Sebuah proyektor kecil muncul di depan wanita itu. Tampak jemari-jemari lentik wanita berambut coklat kemerahan itu menggeser dan menekan proyektor kecil.
"Hm. Ya. Ya, aku sudah sampai. Hm? Gadis kecil? Yui? Iya aku tau, iya."
Si wanita berbicara pada seorang pria di proyektor kecil. Bibir merahnya tersenyum sebelum proyektor itu menghilang karena si wanita menekan tombol jam tangannya kembali. Setelah menyimpan earphone, ia berjalan sebentar ke depan bandara dan menaiki taksi.

***
Sora menatap jam dinding di sebuah ruangan yang gelap. Padahal hari masih siang, tapi pemilik rumah itu memilih tuk menutup semua tirai dan tidak menyalakan lampu sama sekali. Namun, itu bukan masalah bagi Sora, karena ia bisa melihat apapun, meski di tempat tanpa cahaya sekalipun.
Aroma kafein terasa pekat di ruangan itu. Tepat di depan Sora, seorang lelaki dengan rambut acak-acakan khasnya duduk berpangku tangan. Sora tahu, lelaki itu kini cukup marah karena kepergiannya beberapa hari yang lalu. Tentu ia pergi tanpa sepengetahuan lelaki itu, jika si lelaki tahu, habis sudah rencananya.
Sejak dua jam yang lalu, mereka berdua hanya duduk di sofa yang berhadapan dibatasi sebuah meja panjang. Diam. Tak ada pembicaraan apapun. Si lelaki hanya terus meneguk kopi hitam di cangkir porselen miliknya, dan Sora hanya menatap lelaki itu dengan diam, seakan menemaninya.
"Kukira kau mau meminta maaf padaku, Sora. Aku menunggumu sejak dua jam yang lalu. Jadi cepatlah katakan maaf padaku!"
Sora terpaku. Wanita yang gemar memakai jaket kulit itu merasakan seluruh ubun-ubunnya berdiri. Merinding. Sikap lelaki itu kini akan lebih menakutkan dari hari biasa. Di dalam hati kecilnya, Sora menyesal telah datang karena ajakan lelaki itu untuk minum kopi bersama. Angan-angan kosong dari asmara yang mengoyak pikiran dan hati wanita berambut sebahu itu menipunya, mengalahkan tekadnya untuk menjauhi si lelaki.
"Apa kau tidak akan mengatakan maaf? Hm?"
Nada pertanyaan si lelaki lebih mirip alunan lagu kematian bagi Sora. Meski telinganya tidak mampu mendengar dengan jelas, alat bantu dengar yang dibelikan lelaki itu tempo lalu membuat ia bisa mendengar nada bicara lelaki itu.
"Untuk apa? Kepergianku yang tak kau tahu?"
Wanita dua puluh tujuh tahun itu berniat beranjak dari sofa, mengakhiri waktu untuk menemani si pria.
"Aku bukan wanitamu, bukan juga budakmu, jika kau masih memerlukanku untuk rencanamu itu, berhentilah bersikap seakan aku tawananmu!"
Dengan angkuh Sora berbalik. Namun, belum sempat ia melangkah suara tawa lelaki itu menghentikannya. Seketika jantung wanita itu berdetak cepat. Kakinya seakan terpaku di ubin. Ia Tak mampu bergerak. Bola mata wanita itu menatap ngeri pada sosok lelaki yang masih duduk di sofa. Seringai kecil menghiasi bibir pucat lelaki itu. Lalu bola mata kosong nan menusuk milik si lelaki menatap lurus ke dalam bola mata Sora. Menusuknya dengan pandangan mengerikan. Sekujur tubuh wanita berambut pirang itu kini bergidik.
"Kau mau pergi dariku seperti adikmu? Hahaha ..., dengar, Sora, aku punya berita menarik untukmu yang akan membuatkmu diam di sini, bersamaku."
Sora menarik napas panjang dan mengeluarkannya. Wanita itu harus meneguhkan hati dan tekadnya. Ia kembali bepikir jernih. Ya, saat ini yang terbaik adalah terus berada di samping lelaki itu tanpa berpikir hal-hal yang membuatnya curiga, dengan begitu ia dapat mengubah lelaki itu.
"Apa?! Jika itu bukan tentang adikku, aku tak mau tahu!"
"Bagaimana jika itu tentang Yui?"
Seringai lelaki misterius itu semakin lebar. Sora tampak terkejut. Matanya menyorotkan sinar tak percaya. Nama yang disebut lelaki itu membuatnya teringat pada bocah lelaki yang dibawa adiknya saat pergi.
"Kau cukup heran, bukan? Gadis kecil itu bisa merasakan perasaanku, jadi dia pasti tahu semuanya. Menarik bukan? Aku akan kembali bermain untuk bertemu dengannya ...."
"Kau!"
"Hoo ..., jangan berteriak, telingaku dapat mendengar dengan jelas. Hm... Satu dua tetes darah sepertinya cukup membuat ia menangis, jadi aku harap kau tidak pergi, atau kaulah yang akan kujadikan mainan."
Detak jantung Sora semakin cepat, bahkan tak beraturan. Amarah dan rasa kecewa berkecamuk di hati wanita itu. Bayang-bayang warna aura hitam yang terpancar dari pria itu membuat Sora menahan emosinya. Kedua tangan wanita itu mengepal kuat, tapi hatinya tetap saja merasakan asmara yang kuat pada lelaki itu. Tidak habis pikir. Cinta memang membuat diri merana.
"Panggilkan Kyouru untukku,aku ingin dia sendiri yang menghancurkan gadis kecil itu. Haha--"
"Kau berubah, Hans."
Mata lelaki itu melirik Sora. Seringainya berubah jadi seulas senyum.
"Bukankah itu bagus? Sifat manusia memang selalu berubah, kan? Bukankah itu misteri yang indah, Sora?"
Ruangan itu kini senyap. Kembali tanpa suara, kecuali tawa terkekeh milik si pria.

***
Kyoto, Jepang, 2042
Kesunyian memenuhi ruang rawat Rei. Sejak seorang gadis kecil masuk dan menyela percakapan Detektif Ishirou dengan Rei suasana jadi canggung. Yuuki dan Runa masih tak percaya akan kedatangan gadis itu, apalagi ia ditemani dengan seorang wanita yang mengaku ibunya.
Gadis kecil berambut hitam yang dikucir kembar itu kini duduk diam di sebelah Detektif Ishirou dan menghadap ranjang Rei. Pita merah muda yang mengucir rambutnya tampak serasi dengan dress payung yang ia kenakan. Seorang wanita dewasa berambut hitam panjang berdiri di belakang gadis itu untuk menemani.
"Bisa kau jelaskan perkataanmu tadi?"
Detektif Ishirou angkat bicara. Penyelidikan ini harus memberi hasil, jadi dia tak boleh membuang waktu, pikirnya. Gadis kecil itu terdiam. Bola mata bulat miliknya masih menatap Rei intens. Yang ditatap hanya berwajah datar tanpa bicara.
"Dia ... pelaku yang sebenarnya bukan Kak Ravell .... Dia... Lebih mengerikan. Tidak ..., aku tak bisa mengatakannya ....Dia pasti tahu ... dia... dia ...."
Gadis kecil itu terbata. Rona ketakutan tampak jelas di wajah putih mulusnya. Tatapan mata gadis kecil itu beku mengarah ke lantai. Wanita di belakangnya mengelus punggung gadis kecil itu lembut, berharap ia kembali tenang.
"Tenanglah, Nak. Katakan siapa dirimu?"
"Dia Yui, sang Perasa, sama seperti kami, dia hasil riset Dokter Harold yang gagal."
Yuuki berdiri dan menghampiri Yui. Gadis kecil itu mulai menangis. Raut wajah Detektif Ishirou semakin penuh tanda tanya.