“Kekalahan bukan hanya karena ketidak mampuan, tetapi juga karena kelemahan.”—Rodderick Barnard. . . . Orlando, USA, 2043 Suasana ruang atlit cukup sepi. Beberapa staf sudah pulang dan memang tidak banyak petinju yang dijadwalkan hari itu. Semua kondisi itu membuat Rodderick bisa dengan lama tersungkur di lantai dan menahan perih di ulu hatinya. Ia tak menyangka wanita yang niatnay hanya ingin dibantunya, sekarang malah harus ia lawan di depan ruangannya. Perempuan bercelana denim itu membuat Rodderick kewalahan dengan beberapa serangan. Anehnya, sang petinju itu hafal benar bagaimana Aoi—wanita yang kini beradu pukulan dengannya—melakukan semua teknik serangannya. Sayangnya, hal itu sama sekali tak membantu Rodderick untuk mengalahkan Aoi. Perempuan berambut pendek itu denga

