“Yang paling berat dari mencintai adalah merindu.”—Revell Mirium . . . . Napas Runa tersengal. Cekikan di lehernya membuat wanita itu sulit meminta tolong. Mata Aoi yang kini berada di depannya tampak nyalang. Beruntung, sebelum Runa kehabisan tenaga, wanita itu segera memegang pergelangan tangan Aoi dengan kedua tangannya. Ia menekan saraf di bagian tubuh itu lalu menekuknya ke atas. Pertahanan Aoi mengendur, Runa dengan cepat memegang lengan wanita berambut pendek itu dan meremas pundaknya. Sang pembaca itu tahu gerakan apa yang akan dibuat Aoi. Ia bergegas meraih lengan Aoi sebelum meninju ulu hatinya dan memutar badan. Dalam hitungan detik, tubuh Aoi telah terbanting. Wanita berambut pendek itu terbatuk beberapa kali setelah terkapar di lantai. “Siapa kau?” tanya Runa sa

