Pertemuan Pertama
Dalam sebuah ruang kamar berukuran standar, nampak seorang gadis dengan kacamatanya dan rambut yang di gulung ke belakang atas sedang sibuk menaburkan sedikit demi sedikit tepung berwarna putih dengan aroma camomile ke pipinya.
Setelah siap dia segera menyambar tas yang berada di atas tempat tidurnya. Tas gendong yang ukuranya tidak terlalu besar. Kira - kira hanya muat untuk dua atau tiga buku agenda kecil yang telah melekat erat di punggungnya.
Dia menjingjing beberapa buku besar dan tebal di tangan kirinya. Setelah berpamitan dengan seseorang yang ia sebut paman, gadis itu segera beranjak menuruni anak tangga dan keluar dari gerbang rumahnya.
" Masih pagi sudah rapi non, mau kemana?"
Sapa seorang tetangga dengan ramah padanya.
" Ke kampus tante..." Jawab gadis itu singkat dengan terus melangkahkan kaki nya.
Ini adalah hari pertama Malea Saputri pergi ke kampus, setelah rehat beberapa minggu karena urusan berkas - berkas dan pemindahan dirinya ke kampus baru itu.
Ya... kampus dengan latar belakang berwarna hijau dan pohon - pohon besar di mana - mana itu adalah kampus baru Malea. Kini Malea berada di semester dua. Dia mengambil jurusan manajemen keuangan. Jurusan yang sebenarnya sangat ia benci, karena ada banyak angka nol di sana. Angka yang paling tidak dia sukai. Tapi apa mau di kata, itu juga karena terpaksa.
Malea melangkahkan kakinya menapaki ruangan bertulis Kaprodi. Di sana dia bertemu seorang lelaki dengan rambut di bagian depan nya hampir habis dengan banyak kirutan di wajahnya.
Pintu di ketuk dan suara dari dalam mempersilahkan dia masuk.
" Selamat pagi pak, " sapa Malea pada orang itu.
" Selamat pagi silahkan duduk."
Mengikuti instruksi lelaki itu, Malea duduk di sebuah kursi yang ada di depan meja profesor.
" Siapa namamu?" Tanya lelaki itu dengan memiringkan kepalanya seraya menulis sesuatu di selembar kertas.
" Malea Saputri pak."
" Berikan kertas ini pada staff saya di ruang depan dan ikuti instruksinya," tutur bapak dengan kepala bagian atas sedikit mengkilat itu.
Di tempat lain di kampus yang sama.
Segerombolan pria dengan wajah tampan dan gaya yang cool sedang berjalan menyusuri jalan setapak berbatu putih dengan rumput lembut di sela - selanya. Aura ketampanan mereka yang begitu memancar menyilaukan banyak mata. Terutama mata para gadis - gadis di sana.
" Wahh... mereka ganteng sekali... aku ingin menjadi pacar salah satu dari mereka," demikian bisik salah beberapa di antara para gadis kampus sedang yang lain ada yang hanya melonggo sambil menahan air liur mereka menetes.
Mereka adalah geng terkeren dan paling populer di kampus itu. Banyak cowok ganteng di sana tapi tak sepopuler mereka karena mereka juga merupakan anak orang - orang ternama di kotanya.
Tak ada satu orang gadis pun yang berani menolak permintaan mereka, saat mereka menginginkan nya.
" Hai gadis.... kami akan duduk di sini, kau carilah tempat duduk lain," kata salah satu anggota geng dengan setelan rambut alakadarnya tapi tetap tampan saat mereka akan makan di kantin.
Tak ada penolakan sama sekali dari gadis yang di usirnya. Bahkan ia rela menyerahkan hal paling berharga miliknya untuk mereka jika mereka memintanya. Hampir semua penghuni kantin menoleh ke arah mereka. Hanya pujian yang keluar dari mulut mereka tanpa berani membicarakan hal - hal buruk mengenai geng itu.
Biasalah... anak orang punya kuasa, selalu pandai memainkan peran orang tua mereka.
Mereka adalah Niko, Reza, Aldi dan Rafa. Niko, si anak dengan rambut sedikit gondrong dan suka memakai jaket ini merupakan anak seorang pejabat negara.
Reza dan Aldi adalah anak - anak pengusaha ternama. Sesuai dengan latar belakangnya, mereka lebih menyukai syle glamour dan barang - barang besutan luar negri.
Sedang si ketua geng dan yang paling tampan adalah Rafa. Cowok yang lebih suka sesuatu yang simple itu merupakan anak dari pimpinan Universitas swasta tempat mereka menimba ilmu saat ini.
Terlepas dari kekayaan mereka, sebenarnya geng ini di isi oleh cowok - cowok yang setia kawan. Mereka juga perhatian dengan sahabat mereka. Mereka sangatlah akur dan sering menghabiskan waktu bersama.
Hari itu mereka tengah berjalan menuju ruang kuliah mereka di gedung C. Dalam perjalanan tiba - tiba saja seseorang dengan kaca matanya menabrak Rafa sang kepala geng.
" Bruuk.... "
" Au...... "
" Hei.... perhatikan arah jalan mu," bentak Reza.
Namun gadis itu terus saja sibuk memungguti barang bawaan nya yang tercecer di lantai. Keempat orang itu hanya diam melihat sikap tak acuh dari gadis itu. Mereka heran masih ada orang yang bisa mengacuhkan mereka begitu saja.
Hingga salah satu dari mereka berkata," sudah lah tak usah urusi dia, kita bisa kena semprot pak profesor."
" Ayo bro...." Nico menepuk pundak Rafa yang masih mematung memandang gadis itu.
Saat telah berjalan beberapa langkah, Rafa menoleh ke arah gadis itu yang kebetulan Malea pun menoleh ke arahnya.
Ya... pandangan pertama, tapi sama sekali tidak menggoda bagi Malea.
Setelah selesai memungguti buku - buku dan kertas yang di bawanya, Malea bergegas menuju ke bagian akademik. Dia menyerahkan kertas yang di berikan Kaprodi padanya.
Sementara itu di satu ruangan kuliah.
Seorang dosen dengan kacamata dan bagian atas kepalanya yang menyilaukan mata memasuki ruangan itu. Seketika kondisi ruangan yang sibuk dan amat bising menjadi sunyi.
Pak profesor menurunkan sedikit kacamatanya dan melirik ke arah para mahasiswa di depan nya lalu beralih lagi ke tas laptopnya.
" Hallo ... good morning."
" Good morning prof," jawab para mahasiswa serempak.
" So.... you are ready to get ...." Belum sempat pak profesor menyelesaikan kalimatnya seseorang telah menggetuk pintu ruangan itu.
" Tok.... tok... tok...."
" Come in," jawab pak profesor.
Semua mahasiswa menoleh ke arah pintu, mereka penasaran siapa sebenarnya yang ada di balik pintu itu.
Pintu ruangan itu terbuka dan nampaklah gadis dengan tumpukan buku dan kacamatanya serta gaya rambutnya yang aneh. Malea tak menoleh ke arah mahasiswa sama sekali. Pandangan nya tertuju pada profesor yang merupakan Kepala Prodi yang tadi pagi ia temui.
Pak profesor berdiri di sebelah Malea dan mengatakan, " ok guys... this girl is a new friend for you."
" So.. introduce your self to your new friend ," ucap Profesor lagi pada Malea.
Dengan tatapan datar, Malea menyapa teman - teman barunya.
" Hai.... i'm Malea, it's nice to see all of you guys."
" That's to simple Lea, but it's okey you can take a sit."
Malea mengangguk kemudian berjalan ke arah bangku kosong di sudut ruangan, tapi seseorang menariknya, bahkan meletak kan permen lengket di atasnya.
Malea mencari - cari mana bangku yang bisa ia tempati, dan seorang tersenyum padanya sambil melambaikan tangan nya.