Bab 6. Bocah Kena Batunya Kami sudah berada didalam mobil. Semua perlengkapan buat hantaran dan AKAD sudah dibeli. Bocah itu berkendara dengan wajah datar. Aku mengeluh dalam hati, padahal ketika di butik tadi aku melihat dia memandangku dengan tatapan berbinar. Apakah hanya perasaanku saja, aku memukul mukul kepalaku, aku pasti sudah mengada ada, tidak mungkin anak tengil ini suka sama wanita yang berbeda usia 5 tahun diatasnya. "Kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya nya melirikku. Aku terkejut dan seketika lamunanku menjadi buyar. "Eh, gak kok. Aku baik!" kataku sedikit ketus. Dia tertawa kecil. "Ya juga ya, kalau kamu sakit kamu pasti sudah di rumah sakit. Kamu sehat makanya kamu bisa berkeliaran kayak gini." "Apaan sih kamu, Dek. Gak lucu tahu gak," ucapku merasa garing. "Mama gak nyan

