Bab 5. Belanja Hantaran PoV Lisa "Assalamualaikum." Terdengar suara diluar rumahku. Ibuku bergegas membukanya. Rona bahagia terpancar dari wajah Ibu. Aku menghembuskan napas berat, pasti Fandi yang datang. Kami sudah janjian akan berbelanja kebutuhan buat hantaran pernikahan. Sungguh miris, aku menikah cuma keluarga inti saja yang tahu. Pamanku akan menjadi wali nikah menggantikan ayahku. Acara pernikahan sekalian hantarannya. Padahal aku ingin pernikahan impian yang bisa ku kenang seumur hidup. Dimana suamiku yang berbeda usia sepuluh tahun lebih tua diatas ku akan melamar ku. Setelah tukar cincin kita akan berphoto dan dimasukkan ke sosmed. Semua teman-teman akan memberi ucapan selamat. Impian tinggal impian, bocah tengil sudah merusak semuanya. Aku hanya pasrah menerima keadaan. K

