Bab 4. Mahar Pernikahan

1233 Kata
Bab 4. Mahar Pernikahan PoV Lisa Fandi dan aku saling berpandangan. Aku yakin pikiran kami sama. Dalam jangka waktu tiga hari anak tengil ini bakal jadi suamiku, aku hanya bisa pasrah. Tidak bisa lagi kah ditunda lebih lama. Entahlah. "Pa, kok cepat amat sih. Papa ngada ngada ya?" tanya Fandi gak setuju. "Papa malu sama tetangga. Kamu nikah dibawah tangan aja dulu, setelah sekolah kamu selesai baru nikah secara negara." Lanjut Om Fuad memberi usul. Fandi mendesah pelan, diapun sama denganku hanya bisa pasrah dengan keadaan. "Gak bisa tiga hari, Pa. Paling tidak seminggu. Semua juga harus dipersiapkan. Kita mau menikahkan anak kita. Kita harus kasih mahar dan uang yang pantas buat keluarga Lisa. Bagaimanapun Fandi nakal ini harus tanggung jawab. Lisa tenang aja anak tante udah diikat. Dia gak bakal kemana mana lagi. Dia milik kamu sekarang, sayang," kata Bu Ayu bersemangat. Aku mendengkus kesal memandang wajah anak tengil dan belagu itu. Siapa juga yang mau sama anaknya? Ih, nyebelin deh. Dulu aku bermimpi pengen punya suami yang lebih tua jauh diatas ku. Alasannya aku mau bermanja-manja sama suami aku. Aku suka ngeledekin temanku secara halus kalau pacaran sama brondong. "Ngapain sih lu pacaran sama brondong. Brondong itu egois lebih enak brondong jagung dari brondong laki." "Biarin lah Lisa, dari pada lu. Jomblo seumur hidup. Lu ngarep dosen ganteng kan. Ngimpi lu!" ujar temanku saat itu. Aku memang pernah naksir dosenku waktu kuliah dulu, usianya sepuluh tahun diatas ku. Sayang seribu sayang dia menikah sama dosen juga. Akupun patah hati. "Ya, Bu saya setuju bila minggu depan saja. Alhamdulillah saya senang ber-besan dengan Bu Ayu. Saya yakin menitipkan anak saya pada keluarga yang tepat," ucap Ibuku dengan rona lega. Bu Ayu mengangguk. "Ya, besok atau lusa kita belanja perlengkapan pernikahan, Lisa. Kamu pilih apa aja yang kamu suka, sepatu, tas, baju, alat make up, mukena. Semua yang kamu suka pokoknya," ucap Bu Ayu bersemangat. Aku melihat senyuman dari wajah calon mertuaku. Aku merapal doa sebanyak banyaknya semoga mertuaku gak seperti mertua-mertua yang ditulis author-author di komunitas. Kalau mertua itu galak, jahat, egois. Ya Allah, semoga Bu Ayu ini baik. Aku sempat takut menikah karena kebanyakan membaca cerita drama rumah tangga dimana suami egois, jahat, tukang selingkuh ditambah mertua sadis dan mau menang sendiri. Ampun dah. "Lisa, kamu kenapa, Nak?" tanya Bu Ayu memegang tanganku lembut. Aku tersadar dari lamunan-lamunanku. "Eh, gak apa apa kok Bu," ucapku berbohong, padahal kalau dia tahu aku lagi melamun tentang mertua jahat bisa habis aku. "Kalau begitu kami permisi dulu Pak Fuad dan Bu Ayu. Kasihan anak saya ditinggal sendiri," kata Ibuku sopan. "Tunggu, Bu. Sebelum pulang saya minta Nomor ponsel Lisa dulu. Biar kita mudah berhubungan. Fandi catat nomor handphone calon istri kamu!" Perintah Bu Ayu dengan setengah hati Fandi mengambil gawainya dan mencatat nomor teleponku. "Sudah, Ma." "Kamu antar Lisa dan calon mertua kamu pulang!" Perintah Om Fuad, Om Fuad melempar kunci mobil pada Fandi dan anak tengil itu refleks mengambilnya. "Ayo," katanya padaku dengan tatapan sinis. Aku memonyongkan bibirku menanggapinya, setelah bersalaman dengan mereka semua, aku dan Ibuku pulang dengan mobil yang dikendarai calon suamiku. Maksudku anak tengil itu. ** Aku sedang melamun dikamar. Ibuku dari tadi berteriak menyuruhku makan, tetapi aku masih betah sendiri. Bagaimana ya menikahi brondong. Apakah aku bisa jadi istrinya. Kami berdua terjebak dalam pernikahan konyol dan kami gak saling cinta. Apa jadinya pernikahanku setelah ini. Apakah kami nantinya akan bercerai setelah itu. Aku hanya bisa pasrah dan berdoa yang terbaik buat diriku. Gawaiku menyala. Aku meliriknya dan mengambil untuk dilihat. Ternyata banyak pesan masuk dan bertanya tentang gosip diriku dan Fandi! Secepat itu gosip menyebar. Aku mendesah kesal. Aku memilih mengabaikannya. "Lisa makan sana! Nanti kamu sakit loh. Gak usah dipikirkan perkataan orang yang penting keluarga itu baik dan mau bertanggung jawab," ucap Ibuku yang nyelonong masuk ke kamarku. "Ibu. Kok setuju sih sama pernikahan ini. Kalau Lisa gak bahagia gimana? Kawin sama anak kecil itu repot, Bu," kataku mencebik kesal. Ibu duduk di sebelah ku dan memegang pundakku lembut. "Lisa, Ibu lebih sakit kalau kamu gak dihargai. Ibu yakin kalau keluarga Fandi baik. Fandi itu tampan loh. Badannya tinggi. Kamu aja cuma sebahu dia. Jadi kamu jangan bilang dia bocah lagi, Nak. Kan gak apa apa nikah sama yang lebih tua dari kita. Nabi Muhammad aja menikah dengan sayyidina Khadijah usia mereka terpaut 15 tahun lebih tua istrinya. Insya Allah Ibu doakan kamu langgeng, Nak," ucap Ibuku. Dia merangkul ku seketika. Entah mengapa netraku berkaca kaca. Aku dengan kasar mengelapnya. "Maafin Lisa, Bu. Selama ini jadi anak yang udah nyusahin Ibu," kataku dengan nada sedih. Ibuku semakin memelukku. ** [Kamu lagi Ngapain, Kak?] Satu pesan masuk ke gawaiku, pesan siapa ya? Nomornya tak dikenal. [Sapa ya?] Jawabku. [Aku.] Balasnya, Huh. Siapa sih mau main petak umpet kali nih orang. [Maaf salah sambung.] Kataku padanya. [Hadeh, kamu sok banget to, Kak.] Balasnya lagi. [Kamu sapa sih, dari tadi gangguin aja.] [Aku calon suami kamu.] Mataku membola menatap pesannya, salah minum obat nih bocah berani sekali dia chat aku. [Ngapain kamu, ngechat aku? Kamu kok belum tidur jam segini. Hei, kamu itu anak sekolah. Tidur sana. PR kamu udah siap apa belom?] [Ya elah aku bukan anak SD lagi. Kamu sendiri belum tidur.] Tulisnya lagi. [Suka suka aku. Aku ini wanita dewasa bukan anak sekolahan.] [Kata Mama. Aku harus lebih dekat sama kamu. Kamu kan bakal jadi istri aku. Suka gak suka dan mau gak mau, kamu harus menerima aku. Begitupun aku, harus menerima kamu kekurangan dan kelebihan.] Tulisnya lagi, aku mencibir kesal. Nih bocah sok bijak banget. [Jangan mutar-mutar dek, cepat bilang kamu mau apa?] [Aku mau kita saling menghargai, Kak. Kamu jangan anggap remeh aku lagi. Aku bisa lihat dari tatapan mata kamu, kalau kamu masih anggap aku anak kecil.] [Aku juga tahu dek, kamu juga masih anggap aku Tante-tante. Kamu gak bisa bohongi dirimu sendiri.] [Kamu mau mahar apa dari aku?] Mataku membola membaca pesan dari bocah tengil ini. [Emangnya kamu bisa kasih aku apa?] [Kebahagiaan] Tulisnya, sure. Aku tertawa membaca tulisannya. [Kita itu gak bisa makan cuma ngandelin kebahagiaan. Kamu kira perut kosong bisa bahagia!] [Perut kamu gak bakal kosong kalau hidup sama aku. Mungkin kamu bakal cepat isi.] Tulisnya lagi. Aku mendesah menghadapi bocah ini. [Kita menikah tetapi pura pura menikah, kamu sendiri yang bilang sama aku. Kamu mau buntingin aku. Dek, dek. Mending kamu bangun dan wuddhu sana terus sholat taubat.] [Sebaik baik mahar wanita adalah yang tidak menyusahkan. Kata Mama, aku harus pakai uang hasil kerjaku buat kasih mahar ke istriku. Aku cuma mampu kasih kamu 25 gram emas murni. Apa kamu mau menerima?] Aku shock membaca tulisannya, dia becanda ya. Seumur hidup aku gak pernah pake emas. Dia serius atau main main gak ya. [Kamu jangan main-main. Dek. Kamu mau kasih aku imitasi 25 gram ya?] [Sebenarnya sih, Ya. Cuma aku gak tega sama kamu kak. Kamu pasti gak pernah pakai emas, 'kan?] [Jangan asal ngomong, semua jenis emas sudah pernah kupakai.] [Kamu gak bisa bohongi aku.] [Aku mau tidur. Suka hati kamulah mau kasih aku mahar apa.] Kataku ketus. Aku lelah menghadapi nih bocah. Di sekolahnya dia pasti bocah nyebelin yang dibenci banyak temannya. Pasti gak ada perempuan mau dekat sama dia. Dia mengirimi aku photo. Sebuah kalung emas yang sangat indah. Netraku tak percaya melihatnya. [Ini buat calon istriku.] Tulisnya. Aku meletakkan gawaiku di nakas, aku tak membalasnya lagi. Dia pasti nyomot gambar di g*ogle buat nyenengin aku. Dasar bocah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN