Bab 3. Rencana Pernikahan
PoV Lisa
"Apa!"
Kami berdua kompak dan terkejut saat Pak Fuad mau menikahkan kami. Ampun deh, apa mesti bocah tengil ini jadi suamiku, seperti kata Bu Ayu dia pipis aja belum lurus udah mau dikawinin aja. Entar aku dikasih makan apa, batu. Aku mendesah pelan, tubuhku masih sedikit bergetar karena sisa obat itu masih terasa walau sedikit.
"Pa. Gak mungkin aku nikah sama dia. Apalagi dia itu usianya jauh diatas aku, kami gak ngapa-ngapain. Beneran!" Kata Fandi yang nampak stress. Dia mengacak acak rambutnya frustasi.
"Ya, Bu. Lisa juga gak mau nikah sama bocah ingusan. Dia mungkin pipis aja belum lurus. Mau dikasih makan apa aku, Bu. Hidup kita udah susah malah nanti makin susah!" Kataku asal. Mereka semua menatapku dengan tatapan entah. Ups, aku menutup mulutku karena asal berbicara. Ku lirik bocah itu. Dia nampak kesal dengan ucapanku.
"Jangan takut soal itu. Walaupun Fandi masih sekolah. Dia akan tetap bertanggung jawab. Fandi ini sepulang sekolah sudah bekerja. Dia berhasil buat gambar yang bagus Lisa. Dia kan jurusan Gambar Bangunan di SMK. Karya nya bagus-bagus. Papa yakin dia pasti bisa membahagiakan kamu. Beberapa karya nya sudah dilirik perusahaan konstruksi," kata Om Fuad mempromosikan putranya. Fandi terlihat bangga dipuji Papanya sekaligus nelangsa bila kami jadi dikawinkan.
"Saya setuju saja, Pak. Susah loh jaga anak perempuan, apalagi saya janda dan kalau gosip sudah menyebar anak saya bagaimana masa depannya. Saya khawatir," kata Ibuku menambahi. Aku mendengkus kesal pada Ibu. Aku tidak setuju nikah seperti ini.
"Ibu!" kataku protes namun netra Ibuku mendelik menatapku.
"Tetapi apa anak kita tidak terlalu muda buat dikawinkan, Pa," lanjut Bu Ayu sepertinya protes. Pak Fuad mendesah pelan.
"Mau bagaimana lagi. Bagaikan makan buah simalakama. Kita juga harus menjaga kehormatan Lisa, Bu. Fandi yang salah dan dia harus dewasa dan bertanggung jawab. Warga juga sudah menggerebek anak kita. Kita bakal malu dan jadi pergunjingan. Fandi kamu sudah dewasa dan tunjukkan pada Lisa kalau kamu pipis sudah lurus. Eh, maksud Papa kamu bakal jadi lelaki bertanggung jawab!" Kata Pak Fuad sambil menahan tawa.
"Ya elah, masih bisa becanda. Dalam situasi seperti ini. Pa." Fandi mengacak acak wajahnya gusar.
"Ma kita dulu aja nikah muda. Dan kita langgeng sampai sekarang, kan. Biarkan Fandi menjadi dewasa dan bertanggung jawab," ujar Pak Fuad menenangkan istrinya. Bu Ayu terlihat pasrah.
"Pa. Aku mau bicara berdua sama dia. Setidaknya kami harus berbicara karena ini buat masa depan kami, Pa," ucap Fandi menunjukku.
"Kamu mau macam-macam ya. Mama gak setuju. Bicarain aja disini!" kata Bu Ayu protes.
"Kami bicara di gazebo belakang, Ma. Kalian bisa pantau kami. Kami gak bakal ngapa-ngapain. Lagian aku juga gak mungkin sama dia …. Ah, pokoknya kami mau bicara berdua, Ma." Fandi semakin protes. Dia menatap aku dengan garang. Begitupun aku yang tak mau kalah.
"Oke. Bicaralah sama calon istri kamu Fan. Biarkan Ma. Mereka berdua punya privasi dan biarkan mereka menyelesaikan nya," ucap Om Fuad, lagi-lagi Bu Ayu mendesah dan mengangguk.
Fandi beranjak dan dengan kerlingan nya dia menyuruhku mengikutinya. Aku menarik napas berat dan dengan terpaksa ku ikuti dia.
**
"Kamu sungguh jahat bocah tengil. Tega kamu menghancurkan masa depan aku," kataku padanya ketika kami sudah berada di gazebo. Aku tahu orangtua kami memantau kami dari kejauhan.
Fandi mendecak sebal. Dia memandangku dengan garang.
"Kamu pikir cuma kamu yang punya masa depan. Masa depanku pun hancur. Aku mau ke Singapura buat kuliah Arsitek. Sekarang impian tinggal impian, aku harus kubur dalam-dalam dan terpaksa kuliah disini. Gara-gara kawin sama kamu!"
Busyet deh, nih bocah udah sombong, belagu lagi. Dia yang cari gara gara dan mengkambinghitamkan aku.
"Kan kamu yang taruh obat keminuman ku. Kamu sok cerdas. Gambar kamu mau dilirik sama perusahaan konstruksi tapi kamu tetap anak bloon buat aku. Kamu masih ingusan apa bisa kamu bahagiain aku! Aku gak mau jadi istri kamu," kataku memukul dadanya. Aku kecewa sekali, masa depanku sudah sirna karena bocah tengil ini. Dia pasrah ketika aku terus memukulinya. Tiba tiba dia memegang kedua tanganku. Aku sontak terkejut. Tatapan kami saling mengunci.
"Kamu jangan panggil aku bocah tengil dan bocah ingusan. Tubuhku lebih tinggi dari kamu, aku juga bakal jadi suami kamu!" ucapnya tegas.
Tanganku dilepaskannya secara kasar. Aku menatapnya sejenak. Tiba-tiba jantungku berulah. Ah, Kubuang pikiran jauh jauh dia hanya anak tengil dan gak mungkin aku terpesona sama bocah macam dia.
Aku akui Fandi itu keren sebagai ukuran anak SMA. Tubuh nya atletis dengan tinggi lebih 175 cm. Tetapi aku lebih tua lima tahun dari nya. Anak kecil tetaplah anak kecil walaupun badannya besar. Aku meringis kesal. Aku menghentak hentakkan badanku. Kali ini akulah yang seperti anak kecil dihadapannya.
"Aku gak mau kawin sama kamu, Dek."
Dia tertawa melihatku bertingkah seperti itu.
"Aku juga. Tapi kasihan orangtua kita. Karena perbuatan yang salah paham ini. Kita jadi begini. Tante …. Eh, maksudku Kakak," ucapnya penuh pernyesalan.
"Terus kita harus apa? Apa tidak ada cara lain selain menikah? Kamu juga masih bocah dan kamu tengil manggil aku tante terus. Bisa-bisa aku frustasi menghadapi kamu," kataku menunduk pasrah. Berkali kali aku mendesah.
"Kita berdamai saja untuk saat ini dengan keadaan. Aku yang salah dan aku minta maaf sama kamu, Kak. Aku gak bakal panggil kamu tante lagi tetapi kamu jangan panggil aku bocah lagi ya. Kita menikah tetapi kita tidak menikah. Kamu pasti ngerti lah. Kita menikah secara sah tetapi kita pura pura menikah," katanya berbelit belit. Otakku juga mutar mutar mengikuti arah pikirannya.
Aku sekarang seakan pasrah. Ibu pernah bilang kalau dia sangat sayang denganku dan masa depanku. Namun kali ini aku sudah mengecewakan dia. Aku disekolahkan tinggi-tinggi dan sekarang aku terpaksa kawin dengan bocah ini. Ah setidaknya beban Ibuku berkurang menjaga anak perempuan. Kini tinggal Ari adikku yang masih SMP yang perlu biaya.
**
"Bagaimana, Fan?" tanya Pak Fuad pada anaknya. Dengan berat hati Fandi mengangguk.
"Alhamdulillah, Bu sekarang kita ber-besan ya," ucap Pak Fuad pada Ibuku. Ibuku bernapas lega.
Bu Ayu hanya pasrah menerima keadaan. Aku tahu dia tidak suka namun semua juga salah anaknya.
"Tetapi aku masih mau sekolah dan kuliah, Pa. Aku gak jadi pergi ke Singapura, Ma. Aku jadi nya kuliah disini aja," lanjut Fandi cemberut pada Mamanya.
"Beneran kamu gak jadi ke luar negeri. Ah syukur, Nak. Mama khawatir. Kamu gak bisa jaga diri di sana. Bagus lah kamu menikah sama Lisa," ucap Bu Ayu akhirnya tersenyum.
Ternyata Bu Ayu gak setuju anaknya tinggal di luar negeri. Mungkin takut terjebak pergaulan bebas. Padahal dimana pun kuliah sama aja kali.
"Om Fuad dan Bu Ayu. Saya juga masih mau mengajar. Saya masih mau bekerja," kataku tertunduk takut. Bu Ayu mendekatiku dan secara perlahan merangkul ku.
"Ya, Lisa pasti kamu diizinkan. Masalah ini memang Fandi yang salah dan dia juga harus tanggung jawab sama perbuatannya. Radit sini Nak, sekarang udah ada Kak Lisa yang ngajarin kamu," kata Bu Ayu memberi seulas senyum padaku.
Aku mendesah pelan dengan kejadian yang tiba-tiba ini.
"Pernikahannya tiga hari lagi kita laksanakan," ucap calon Papa mertua. Aku dan Fandi saling bertatapan.