Bab 9. Malam Pertama Lucu Aku sudah resmi menjadi seorang istri. Rela tak rela, dialah kini suamiku. Entah bagaimana pernikahan kami kedepannya. Namun, aku berdoa semoga ini adalah jalan takdir yang baik buatku. "Makan dulu, kalian." Mama mertua memberi piring yang sudah diisi dengan lauk yang sudah lengkap. Ukuran piringnya lumayan besar, makanan diatas piring itu juga lumayan banyak. "Maaf, Ma. Saya gak bisa makan sebanyak ini," kataku dengan wajah menyengir. Bu Ayu tertawa kecil. "Pengantin baru harus makan berdua dalam satu piring di hari pernikahan. Kamu makan sama suami kamu, sayang," lanjut Mama mertua. Aku melirik bocah itu yang sedang bermain gawai. Lalu pandangan teralih ke Mama mertua. Aku pun mengangguk. "Baik, Ma." "Ya udah, Mama keluar dulu ya. Saudara ada yang datang

