***
Malam ini sangat dingin. Terlihat Gilang yang sedang duduk di kursi taman. Ia gelisah pada orang tua nya yang tidak ada kabar sama sekali, apakah mereka sudah sampai atau belum, Gilang berusaha untuk terus menghubungi mereka tapi ponsel mereka tidak ada yang aktif.
"Lang ko lu belum tidur, udah malem lho ini," tutur Dita yang mendudukkan b****g di samping Gilang.
Gilang diam beberapa detik.
"Mamah sama papah belum ada kabar dari tadi siang," jawab nya dengan lesu.
"Gua takut terjadi apa apa sama mereka." lanjut nya.
Dita tersenyum kecil lalu mengelus lembut pundak Gilang.
"Kita berdoa aja sama sama semoga Mamah sama papah bisa sampe ke tujuan dengan selamat," tutur nya.
Gilang tersenyum menatap wajah Dita sekilas lalu menundukkan kepalanya.
"Dit gua mau nanya tapi, gua minta lu harus jawab jujur ya," Gilang menatap Dita dengan wajah pasrah.
"Nanya apa," Dita mengerutkan keningnya terheran.
"Lu ada rasa sayang, suka, cinta sama gua," tanya nya.
Hening.
"Enghhhh gua usahain ya, gua bakal coba," jawab nya yang merasa bersalah.
Gilang tersenyum kecut lalu pergi ke kamar nya meninggalkan Dita sendiri di taman.
Dita masih di posisi nya dengan menundukkan kepalanya.
"Lang gua bakal coba buat suka sama lu, ya kalo gua engga bisa buat suka sama lu, gua bakal pergi, biar cewe yang terbaik dateng nemenin lu," Dita yang menunduk membuat air matanya mengalir membasahi pipinya.
Dita segera bangkit dari duduknya lalu memasuki kamar nya. Ia sempat melewati kamar Gilang, ada niatan untuk memasuki kamar Gilang tapi Dita tau jika Gilang butuh waktu untuk sendiri.
Dita memejamkan mata nya.
Pagi menyapu kehangatan di kamar Dita. Dita segera bangun dan bergegas menuju ke sekolah namun ia melihat Gilang yang sudah duduk di meja makan.
"Lu mau ke sekolah," tanya Dita
"Iya emang kenapa," Gilang mengangkat satu alisnya.
"Ya... lu kan masih sakit, jalan aja masih pincang begitu," Dita melirik sekilas kaki Gilang.
"Kan ada lu yang mau bantu gua buat jalan, lagian juga hari ini kan ujian kenaikan kelas, kemaren kita berdua udah engga masuk sekolah, waktu ujian," tutur nya.
"Tapi~"
"Udah jangan tapi tapi nanti telat, ayo," Gilang segera bangkit dan berjalan dengan di bantu oleh Dita.
"Btw kita ke sekolah naik mobil papah aja ya aja ya" ucap nya.
"Nanti biar mang Jaka yang bawa mobil nya," lanjut Gilang
"Iya bawel," Dita menggerutu.
Gilang terkekeh kecil saat melihat Dita yang sedang menggerutu.
Gilang dan Dita segera menaiki mobil yang sudah bersedia untuk mengantar mereka.
Dita Dan Gilang telah sampai di sekolah namun Dita sebelum memasuki kelas nya sendiri ia harus mengantar Gilang masuk ke kelas nya terlebih dahulu.
Gilang dan Dita menjadi pusat perhatian satu kelas karena mereka di duga pacaran yang aslinya suami istri.
"Apa lo liat liat," Dita menyewot pada teman teman Gilang yang ada di satu kelas.
"Ciee Gilang jadian sama Dita ga ngomong ngomong nih," Salah satu teman Gilang yang laki laki menggoda Gilang.
"Heh anak setan, gua itu sama Gilang sepupu bukan pacaran," bentak nya
"Masa sih ko sweet banget," Kini teman perempuan Gilang ikut menggodanya.
"Diem lu bacot, kalo lu engga tau engga usah sok tau, dasar muka tembok, itu muka apa tembok ko bedak nya tebel banget," Duta menggerutu.
"Ishh bodo amat muka muka gua napa jadi lu yang sewot," Balas nya lalu pergi meninggalkan Dita yang merasa senang.
"Mulut, ya mulut gua, ya berarti suka suka gua lah monyet," Balasnya
Dita sebal dengan teman Gilang lalu ia reflek melepaskan genggaman di punggung Gilang yang masih ia rangkul sehingga membuat Gilang terjatuh.
"Aduh..." Gilang terjatuh.
Dita berbalik lalu membangun kan Gilang yang terjatuh.
"Maaf maaf gara gara temen temen lu tuh." Dita mengangkat Gilang untuk berdiri.
Gilang segera duduk di kursi nya.
"Lang gua balik ke kelas ya, nanti kalo ada apa apa lu chat gua aja ya," Dita mengelus pundak Gilang dengan lembut.
"Dit kalo lu engga bisa suka sama gua seengga nya jangan taruh harapan di hati gua," Ungkap nya di dalam hati.
"Iya," Gilang menggangguk.
Dita berbalik lalu meninggalkan kelas Gilang dan pergi menuju ke kelas nya.
Dita sempat berpapasan dengan Eli yang pindah ke kelas Gilang.
"Ngapain lu ke sini." Tangan Dita dengan emosi yang ia pendam tapi masih bisa ia tahan.
"Suka suka gua lah, Gua pindah kelas ke sini kenapa emang," Eli menyungging kan sebelah bibir nya.
Eli melihat Gilang yang wajah nya memang terlihat tampan, Eli segera menghampiri Gilang dan caper dengan nya.
"Hai kenalin nama gua Eli," Eli menyodorkan lengan nya untuk bersalaman dengan Gilang.
Gilang melihat Dita yang masih berdiri di ambang pintu kelas memerhatikan nya.
Gilang ingin mengikis perasaan nya dengan Dita maka ia harus dekat dengan Eli agar perasaan nya dengan semakin lama menghilang.
Gilang mengambil tangan Eli lalu membalas salam Eli dengan ramah. Baru pertama kali ia lembut dengan wanita selain Tifa, Reni, Fira, Dan terakhir Dita selebihnya tidak pernah karna Gilang memiliki trauma akan cinta.
"Nama gua Gilang," Jawab nya dengan ramah.
Dita yang melihat itu merasa biasa saja karena memang belum ada rasa yang muncul di hati nya, memang ada sedikit rasa tapi bukan sebagai suami ataupun pacar, tapi sebagai sahabat.
"Dit," panggil Seli dari arah belakang.
Dita menoleh lalu melihat Seli yang berjalan ke arahnya.
Seli melihat Dita yang baru saja keluar dari kelas Gilang.
"Cieee abis nganterin my love ke kelas nya," goda Seli.
"Ihhh jijik b**o sama panggilannya, jangan ngomong kek gitu gua itu sama Gilang engga ada rasa apa apa," Dita memukul pundak Seli.
"Lu tau engga si Eli b******n itu pindah ke kelas si Gilang," Dita dan Seli bertatapan sambil berjalan menuju kelas.
"Bagus deh kalo si anak anjing itu pindah kelas," Seli tersenyum bahagia.
"Bangus apa nya bodoh, tadi itu dia caper sama laki gua," bentak nya dengan sebal.
"Cieee cemburu nih yeee," lagi lagi Seli menggoda Dita.
Dita menoyor pala Seli.
"Udah lah males gua ngomong sama anak otak seperempat, gua engga cemburu gua takut kalo Gilang bakal jadi sasaran sama Eli buat bales dendam ke gua karena Eli udah tau kalo gua sama Gilang itu sepupuan," Jelas nya.
"Oh yaudah nanti gua atur aja," balas nya.