****
Cahaya Pagi telah menyapu kehangatan di kamar Dita yang sengaja gorden nya tidak di tutup karana kamar nya ada di bagian atas. Dita perlahan membuka matanya mengeratkan urat-uratnya. pagi ini kita akan pergi berangkat ke sekolah bersama Gilang namun Gilang tetap membawa motor ninjanya dan Dita tetap membawa motor matic nya.
Dita dan Gilang tidak sarapan di rumah karena mereka sengaja menyuruh pelayan tidak masak untuk mereka berdua. Dita dan Gilang segera pergi ke sekolah menggunakan motornya masing-masing. saat dalam perjalanan Dita ikuti oleh dua motor yang dikendarai oleh pria berbadan kekar. Dita dan Gilang pun segera menambahkan laju kecepatan motornya. namun sayang motor Gilang dan Dita di balap oleh pria yang mengejarnya lalu mereka pun diberhentikan.
Gilang Dan kita terpaksa berhenti Tapi anehnya pria berbadan kekar itu hanya menghampiri Dita dan menyuruhnya turun dari motor nya. Gilang langsung menghampiri Dita yang diseret oleh dua orang pria yang berbadan kekar.
"Ehhhh apa apaan nih, lu siapa, gua engga ada masalah sama lu, lepasin gua," teriak Dita sambil memberontak.
Bhukkkk
Satu pukulan mendarat di salah satu pria yang berbadan kekar itu.
"Lepasin bini gua," pria Gilang sambil memukul pria yang berbadan kekar itu.
"Jangan ikut campur lu bocah ingusan," kedua preman itu melepaskan Dita lalu adu jotos dengan Gilang.
Beberapa pukulan mendarat di pipi dan perut Gilang. Dita yang melihat Gilang terpukul dan tertendang hingga terkapar pun panik langsung teriak minta tolong pada warga sekitar.
"Tolong tolong tolong." Teriak Dita.
Untungnya ada beberapa yang datang untuk membantu Gilang sayangnya preman tersebut sudah melarikan diri dan Gilang pun dibawa ke klinik terdekat oleh warga setempat.
"Makasih banyak ya semuanya udah mau bantuin kita," Dita berterima kasih pada warga yang telah membantu nya.
"Iya neng sama sama." warga pun mulai meninggalkan Dita dan Gilang di klinik.
setelah diberi obat oleh dokter, Gilang mengajak Dita untuk pulang ke rumah, tidak melanjutkan berangkat ke sekolah karena kaki kilang terseleo akibat tertendang oleh preman tadi.
Dita membawa Gilang pulang kerumah menggunakan taksi karena Gilang sudah tak berdaya dan lemas akibat luka memar yang ada di tubuhnya.
kita mengambil ponsel dari dalam tasnya. Lalu kita mencari nama Seli dan Sultan.
"Halo seli," Dita memanggil seli lewat telepon.
"Iya Dit kenapa," terdengar suara dari seberang telepon.
"Gua minta tolong lu sama Sultan ambil motor gua nanti lokasinya gua share," Ucap Dita.
"Soalnya tadi gua sama Gilang dijegat sama preman terus Gilang berantem sama preman preman yang nge jegat gua." jelas Dita.
"Nanti motornya lu antar ke rumah Gilang ya, nanti gua kirim alamat rumah Gilang." Lanjut Dita.
"Ohh iya Dit, hati hati luh nanti..." jawab Seli.
"Nanti apa," Dita mengerutkan keningnya.
"Nanti lu suka lagi sama Gilang," Seli menggoda Dita dan di susul oleh tawanya.
"Si bangke luh dah lah cepetan tulull jan lama lama," Dita terkekeh kecil.
"Iya iya,"
Dita menutup telepon dengan Seli lalu menatap kearah Gilang yang di mana mukanya banyak luka memar.
"Lu kenapa sih tadi harus lindungin gua," ucap kita yang spontan karena Gilang melindungi nya jadi Gilang yabg babak belur.
"Ckk lu segala nanya lu itu istri gua ya harus gua jaga lah," Gilang menjawab nya lirih dengan kepala yang menyandar di kursi mobil dan mata yang tertutup.
"ya tapi nggak sampai harus babak belur juga," Dita memukul dengan Gilang.
"Aduh..." Gilang merintih karena pukul lengannya yang masih luka.
"Maaf maaf gua nggak sengaja." Dita mengelus lengan Gilang yang baru saja ia pukul.
Gilang hanya memegangi lengan nya yang terpukul oleh Dita.
Taksi sudah sampai di mansion Gilang hanya ada pelayan dan beberapa pekebun suruhan Tifa untuk menjaga tanaman tanaman kesayangannya.
Dita merangkul Gilang dan mengeluarkan beberapa uang lembaran kertas berwarna merah.
"Ini pak," Dita mengulurkan uang yang tadi ia keluarkan dan memberikan nya kepada supir taksi.
"Iya neng, terimakasih." supir taksi itu langsung meninggalkan halaman mansion.
"Ayo," Dita menuntun Gilang untuk masuk ke dalam kamar nya.
Dita segera menyuruh gilang untuk rebahan di tempat tidur agar rasa sakit du tubuhnya reda.
"Lu tiduran aja dulu gua ambil kompres di dapur," Dita merebahkan Gilang di ranjang dengan kepala yabg menyender di papan ranjang.
Gilang hanya mengangguk.
Dita pergi keluar kamar dan kembali dengan alat kompres di tangannya.
Dita duduk di tepi ranjang dan mengompres luka yang ada di wajah Gilang.
"Sini gua kompres, tahan dikit," Dita menempel kan lap untuk mengompres di bagian yang luka.
"Aduh... aduh...." Gilang merintih.
"Tahan dikin, jangan lebay dehhh," Dita hanya fokus ke arah yang luka.
sedangkan Gilang lebih fokus pada Dita yang sedang mengobati nya.
"Lu cantik banget sih Dit, apa lagi di tambah rambut yang di urai dan gigi yang gingsul bikin senyuman lu makin candu di otak gua, gua bakal mencoba buat suka sama lu dan sebaliknya gua juga bakalan berusaha mengambil hati lu buat gua," ucapnya dalam hati.
"Ya ampun Lang ko lu sampe segitu nya banget cuma buat lindungin gua," ucapnya dalam hati.
"Jangan jangan lu suka sama gua" Dita menghayal dalam gumanya.
"Eh eh apaan sih ki gua jadi mikir yang engga engga, positif thinking aja kali, mungkin Gilang lindungin gua karena gue istrinya, bukan karena Gilang suka sama gua." Dita segera menepis pikiran itu dalam lamunannya dan segera melanjutkan mengobati luka yang ada di wajah gilang.
Tak sengaja tatapan Dita dan Gilang bertemu hingga membuat mereka saling salting.
Gilang segera membuang muka untuk mengakhiri tatapan mereka yang cukup lama dari tadi.
Drtttt Drtttt
Ponsel Dita berbunyi ia melihat di layar kaca ponsel nya terdapat nama Seli.
Dita segara mengangkat panggilan telepon dari Seli.
"Dit Gua sama Sultan udah di halaman mansion Gilang nih," terdengar suara Seli dari seberang ponsel Dita.
"Ya udah masuk aja." balas Dita.
Dita segera mematikan panggilan telepon dari Seli.
"lu nyuruh mereka datang ke sini," tanya Gilang.
"iya, nanti lu tinggal bilang ke kalau kita itu suami istri tapi kalo ke orang lain kita saudara sepupu,"
"Tapi~"
"Stttt udah lu diem aja biar gua yang urus oke," Dita mengedipkan sebelah matanya.
Dita segera berbalik meninggalkan Gilang yang masih tiduran di atas ranjang.
Dita menghampiri Sultan dan Seli yang duduk di sofa ruang tamu.
"Ehh mau minum apa biar nanti gua suruh bikinin,"tawar Dita.
"jangan banyak-banyak cukup kopi, rokok, pizza, burger, sama jus alpukat," Ucap sultan.
"Si bangkek, itu tuh ga banyak tapi biar banyak," Dita melempar sultan dengan bantal sofa dan di susul Seli dengan tawanya.
"Lu mau minum apa Sel, biar sekalian gue suruh bikin." ucap Dita yang bangkit dari duduknya.
"Gua jus jeruk aja." jawab nya.
Dita segera ke dapur meminta pada pelayan untuk membuat kan minuman dan makanan untuk teman temannya.
Dita kembali dengan makanan dan minuman di tangan nya.
"nih makanan yang lu pada di pinta." Dita menaruh makanan yang mereka pinta di atas meja.
"hahaha beneran dibawain sama si Dita," Sultan tertawa lebar.
"Iya tapi roko lu enggak ada di sini karena Gilang nggak ngerokok." Dita kembali duduk.
"Oh iya Btw lu ada hubungan apa sama Gilang." tanya sultan
"Iya keknya deket banget jangan jangan lu pacarnya ya." Seli menduga duga.
"Ishh apaan sih lu, gua itu bukan pacar nya," Ucap Dita sambil menatap Seli dan Sultan yang sedang menenggak minuman yang yadi Dita suguhkan.
"Tapi gua itu istri nya." Ucap Dita dengan terus terang yang membuat kedua temannya tersedak.
"Lu becanda apa serius." Ucap Seli.
"Gua serius monyet," ucap Dita yang menoyor kepala Seli.
"Ko gua engga pernah tau si, dan gua juga engga di undang ke acara pernikahan lu," ucap Sultan yang kini menatap dita dengan serius.
"Sel lu tau kan waktu itu gua pernah bilang kalo gua bakalan di jodohin sama orang tua gua," tanya Dita yang menatap wajah Seli.
"Oh iya gua tau dan lu juga pernah cerita ke gua," jawabnya.
"Dan ternyata cowo yang di jodohin sama gua itu Gilang, gua juga sempet kaget tapi ya yaudah lah dari pada nanti tante Tifa engga sembuh." jelas Dita dengan nada yang rendah.
"Tapi lu sama Gilang saling cinta engga," tanya Seli dan Sultan yang sempat bertatapan.
"Ya kalo gua sih bakal nyoba buat suka sama dia, kalo gua engga bisa buat suka sama dia ya gua bakalan minya cerai," jawab nya.
"Tapi kalo perasaan Gilang ke gua engga tau gimana," Dita menyentak nafas kasar.
"Tapi lu belum sempet itu kan," Sultan mengode pada Dita.
"Si babi pikiran nya udah silaturahmi kelamin aja, ya belom lah gua itu sama si Gilang masih sekolah, masih punya cita cita, ya mana mungkin gua bikin debay sama dia, kalo perut gua melendung gimana," jelas Dita yang mengedik kan bahunya.
"Bisa bisa gua si keluarin dari sekolah." lanjut nya.
"Ya bisa aja kalo lu kan cuma berdua di rumah segede ini sama si Gilang terus jadi bisa aja bikin Dede bayi, hahahaha" Seli menggoda Dita.
"Pala lu bau menyan, masih jauh b*****t waktu nya," Dita menoyor pala Seli sekali lagi.
sementara itu Gilang yang mendengar ucapan Dita, sepertinya ia akan merasakan sakit hati lagi, ia akan berusaha untuk melupakan Dita dari hidup nya agar ia tidak menaruh hati pada wanita manapun.