DI TINGGAL KE LUAR NEGERI

1801 Kata
**** Kringgggg Jam sekolah sudah habis kini siswa dan siswi meninggalkan sekolah. Gilang segera pulang ke mansion nya. Dalam perjalanan pulang ke mansion, Gilang hanya memikirkan tentang Dita dan seperti nya ia sudah mulai menaruh hati pada Dita. Namun lamunannya itu di buyarkan oleh Salsa yang menghalangi nya di tengah jalan. Ia cukup terkejut dengan Salsa yang tiba tiba berdiri di tengah jalan. Ia cukup terkejut karna dengan aksinya yang nekat menjegat nya di tengah jalan dengan tangan yang terambang. Ada rasa takjub dan rasa kesalnya. Ia takjub karena Salsa dengan nekat berdiri di tengah jalan, bagai mana jika nanti ia akan tertabrak. Dan ada rasa emosi nya yang tak kunjung hilang dengan Salsa yang masih mengejar nya setelah apa yang ia lakukan. "Woy anjing lu, kalo mau mati ya mati aja jangan ngajak ngajak gua," Gilang memaki Salsa yang terpejam sejak tadi. "Woy minggir luh dari situ." lanjut nya sedang kan Salsa mulai membuka matanya perlahan lalu berlari kecil menuju ke arah Gilang. Salsa dengan cepat memegangi lengan Gilang yang masih nangkring di atas motor ninja hijau punya nya. "Lang aku mau ngomong sebentar aja sama kamu," Salsa memelas sambil memegangi lengan Gilang. ""I bag you to just talk to me for a while," Salsa terus memegangi tangan Gilang. Gilang yang merasa risih dengan Salsa mengibaskan tangannya dengan kasar. "Gua engga punya waktu buat lu, oke." Gilang menatap Salsa dengan tatapan permusuhan. "Dan satu lagi gua udah punya pacar namanya Dita, dan lu engga usah deket deket sama gua karna lu itu masa lalu gua, faham." Suara Gilang meninggi sehingga membuat Salsa hanya melongo. "Aku udah tau nama pacar kamu itu Dita kan dan dia satu sekolah sama kamu kan Lang," Salsa memang sudah tau siapa itu Dita bahkan ia sempat membuntuti Gilang dan Dita bersamaan. "Kalo aku engga bisa buat memiliki kamu lagi maka sebaliknya, Dita juga engga akan bisa buat bersama dengan kamu lagi," Salsa mengancam Gilang. "Aku bakalan lakuin apa aja supaya kamu Sama Dita engga akan bisa bersama." lanjut nya. "Lu ngancem gua, gua engga takut sedikitpun sama ancaman lu," Gilang menyalakan motor nya. "Dan kalo emang bener lu berani buat ada niatan buat Dita celaka lu bakalan berurusan sama gua." lanjut nya lalu meninggalkan Salsa sendiri di tengah jalan. "Gilang....," "Gilang...," "Lang...," "Aku masih sayang sama kamu Lang," Salsa berlari mengejar Gilang sambil berteriak-teriak memanggil nama Gilang. Gilang yang sebenarnya mendengar tak memperdulikan Salsa yang sedari tadi mengejarnya bahkan hingga selesai jatuh tersungkur aspal. Gilang terus melajukan motornya hingga sampai di rumah ia segera pergi menuju kamarnya berganti baju lalu pergi ke mandi untuk membersihkan badannya yang lengket dengan keringat karena baru saja pulang sekolah. berapa lama kemudian Gilang keluar dari kamar mandi lalu merebahkan badannya di atas tempat tidur dan menyandarkan kepalanya yang di papan ranjang tempat tidur. Sebenarnya Gilang menyadari ada yang kurang dari kamarnya sendiri tapi ia tidak memperdulikannya. Gilang pun terlelap di atas tempat tidurnya. makan malam pun tiba Dita, Tifa, dan Agung sudah bersiap untuk makan malam di meja makan, namun Agung tidak melihat keberadaan Gilang di meja makan. "Lho Gilang ke mana ko nggak ikut kita makan malam bersama." Agung bertanya sambil memasukkan sendok makan ke dalam mulutnya. "Engga tahu deh pah, tadi sih udah pulang sekolah tapi ko engga keluar dari kamar nya ya," Tifa menjawab. "Yaudah biar aku lihat ke kamarnya," Dita bangkit dari kursinya lalu menuju ke kamar Gilang. Sampai depan kamar di tahun buka pintunya terlihat Gilang yang terlelap di atas tempat tidur. tak memperdulikan Gilang yang sedang tidur di atas tempat tidur nya itu dia pun langsung kembali kembali ke meja makan. "Lho Gilang nya kemana Dit," "Gilang udah tidur mah di kamar nya," Dita kembali mendudukkan p****t di kursi makan. "Ohh yasudah, kamu lanjut makan lagi aja nanti kalo Gilang laper dia bakal ke dapur," ucap Tifa dengan lembut. Gilang terbangun dia menyadari ada yang janggal di kamarnya. Ia melihat jam dan hari sudah malam. Di sebelahnya tidak ada Dita lalu Dita pergi ke mana. Ia baru menyadari jika tidak ada barang barang Dita di kamar nya. Gilang segera melihat lemari nya tapi tidak terlihat pakaian Dita di sana. Gilang takut jika Dita akan meninggalkan nya sendiri lagi seperti ia yang telah di tinggalkan oleh Salsa. Dengan panik wajah panik ia segera mencari benda pipih di laci meja yang tepat ada di samping tempat tidur nya. Gilang mencari nama di kontak nya yang ia namai Dita Ibu Negara. Dengan cepat ia menelfon Dita tapi handphone Dita tidak aktif. Ia pun langsung menuju ke kamar mamahnya. Sampai depan pintu kamar ibunya ia mengetuk pintu kamarnya. tok tok tok tok "Mah...." panggil Gilang dari luar kamar. "Mah..." "Mamah..." Gilang terus memanggil Tifa yang sedang di dalam kamar. Tifa membuka pintu kamar nya ia melihat wajah putra yang panik, Tifa terheran dengan Gilang yang memasang wajah panik nya. "Ada apa Lang ko malem malem ketuk ketuk pintu kamar mamah," Tifa mengerutkan keningnya. "Dita mah Dita," Gilang masih dengan wajahnya yang panik. "Iya Dita kenapa Lang," Tifa masih terheran heran. "Dita engga ada di kamar, barang barang Dita juga engga ada di kamar." Mendengar itu Tifa hanya tertawa geli melihat tingkah laku putranya yang ternyata sudah menaruh hati pada Dita. "Sini kamu ikut mamah," Tifa menarik lengan Gilang dan membawa nya ke samping kamar Gilang. "Lho ko kita ke sini sih mah, kita harus cari Dita mah, ini udah malem nanti kalo kenapa kenapa sama dita gimana." Gilang masih saja berbicara. "Udah kamu diem, tenang," Tifa menyuruh Gilang tenang. Baru saja Tifa ingin mengetuk pintu kamar Dita tapi Dita sudah membuka nya. Sementara itu Dita yang berada di dalam kamar terbangun karna haus, ia pun turun dari tempat tidur untuk mengambil air minum di dapur karna ia lupa untuk membawa air minum ke kamar nya. Tifa dan gilang masih berdiri di depan pintu kamar Dita. Baru saja Tifa ingin mengetuk pintu kamar Dita tapi Dita sudah membuka nya. "Bwaaaa," Dita melompat kaget yang melihat mertua dan suaminya ada di depan pintu kamarnya. "Ehehhh mamah, ada apa ya mah ko mamah di depan pintu kamar aku," Dita bertanya dengan bingung mengapa Gilang dan Tifa ada di depan pintu kamarnya. "Ini lho Dit ada yang khawatir sekaligus kangen sama kamu engga ketemu seharian," Tifa menyenggol tangan gilang dengan siku nya tentu untuk menggoda Gilang. Dita menatap ke arah Gilang yabg memerah karna malu. "Yasudah Dit, Lang mamah mah balik lagi ke kamar," Tifa berbalik dan meninggalkan Dita dan Gilang berdua. Setelah Tifa kembali memasuki kamarnya Gilang menarik tangan Dita masuk ke kamar. "Ishhh apaan sih Lang, lepasin ga sakit tau tangan gua," Dita menepis kasar tangan Gilang. "Lu apa apaan sih ko malah pindah kamar." Gilang mengangkat satu alisnya. "Pck gua itu di suruh sama mamah, Soalnya besok mamah mau berangkat ke luar negeri, jadi lu sama gua itu pisah kamar, mamah takut kalo nanti lu berbuat macam-macam ke gua," Dita menjelaskannya lalu menatap gilang sekilas. Hening beberapa detik. "Udah udah udah lu keluar dari kamar gua, Gua ngantuk mau tidur," Dita mendorong badan gilang untuk keluar dari kamar nya lalu menutup pintu kamar dan menguncinya. Dita segera pergi ke tempat tidur nya. **** Pagi menyapa Gilang dan Dita sudah bersiap untuk mengantar Tifa dan Agung untuk ke Bandara. Mereka menaiki mobil Pajero sport Hitam yang biasa di pakai oleh Agung. Hanya ada hening di perjalanan Tifa yang duduk di sebelah Agung hanya menatap memandangi gedung gedung yang mereka lewati. Agung hanya Fokus ke arah jalan. Sedangkan Dita dan Gilang mereka berdua fokus ke handphone masing-masing. mereka sudah sampai di bandara. Sudah terlihat Reni, Bagas, Fira, Dani, Dan Dafa yang sudah menunggu. Reni dan Tifa saling berpelukan sama seperti Agung dan Bagas. "Gas aku titip anak ku ya kalau dia nakal nasehati dia kalau perlu hukum dia," Bagas dan Agung terkekeh sama dengan Reni juga Tifa. "Hei sayang," Tifa menghampiri Dafa yang di gendong oleh Dani. "Omah Tifa," Dafa berjingkrak di dalam gendongan Dani. "Omah cepet sembuh ya omah supaya nanti kita bisa piknik sambil makan kukis coklat lagi," Tifa tersenyum dan matanya memerah menahan air mata karna ia sangat menginginkan cucu dari Gilang namu sayang usia Gilang masih pantas untuk sekolah. Tifa juga takut kalau pengobatan nya gagal ia tidak akan sempat menggendong anak dari Gilang. "Iya sayang omah pasti akan sembuh," Tifa menciumi pipi Dafa yang bulat. "Mah semoga pengobatan nya lancar ya mah," Dani memberikan semangat pada Tifa. "Iya mah semangat ya mah," ucap Fira. "Amin makasih sayang." Tifa memeluk Fira. Tifa melihat Putra tunggal nya yang sendari tadi sudah menahan buih di kelopak mata nya. "Dit Lang" Tifa memanggil Dita dan Gilang. "Iya mah," Dita dan Gilang mendekat ke Tifa. "Dita mamah titip Gilang ya sayang, dan Gilang jaga Dita jangan sampe bikin dia sedih bahkan sampai nangis karna bukan hanya mamah dan papah yang menitipkan Dita ke kamu tapi mamah Reni dan papah Bagas mertua kamu, Ya Lang ya," Tifa berkaca kaca melihat Gilang dan Dita. Dita dan gilang mengangguk pelan lalu memeluk Tifa. "Mamah juga semoga cepet sembuh ya, supaya kita bisa kumpul lagi," Dita ikut menangis melihat ibu mertua nya. Sedangkan perasaan Gilang sudah tercampur aduk ada rasa takut jika jauh lada ibunya. "Mamah cepet sembuh ya mah," Gilang menangis tersedu sedu. "Iya sayang mamah pasti cepet sembuh, hiks hiks kalian juga harus semangat belajar nya ya," Tifa terlarut dalam kesedihannya karna haru meninggalkan anaknya selama satu tahun. "Iya mah," Dita masih memeluk Tifa dengan erat. Tifa pun melepaskan pelukannya, Agung memeluk anak tunggal nya. "Inget Lang jangan ngapa ngapain dulu masih sekolah," Agung menggoda anaknya. "Iya pah aku juga tau," Ucap Gilang lalu memukul pelan lengan ayah nya. semua yang ada di sana terkekeh melihat Agung dan Gilang. Gilang dan Agung saling berpelukan dan terlihat buih buih kecil yang tertampung di kelopak mata Agung. "Semangat sekolah nya ya nak." ucap Agung dalam pelukannya. Agung dan Tifa meninggalkan Dita dan Gilang yang masih berdiri dan melihat punggung orang tua nya menjauh tertutup orang ramai. Dita merangkul Gilang untuk menenangkan nya. Bagas dan Reni pulang menggunakan mobil nya masing masing. sama seperti Fira dan Dani ada urusan yang harus ia kerjakan. Dita dan gilang satu mobil dan hanya mereka berdua saja. Dalam perjalanan pulang hanya ada hening di antara mereka. "Dit." Gilang memanggil Dita tanpa menoleh sedikitpun. "Iya," Dita melihat Gilang yang fokus pada jalan yang ada di depan nya. "Enghh makan dulu yuk gua laper nih." Tawar Gilang. "Yaudah ayu gua juga belum sarapan pagi." Dita dan Gilang pergi ke resto terdekat. Mobil berhenti di parkiran resto yang tak jauh dari bandara. Dita turun dari mobil yang di susul oleh Gilang. "Ayo," Gilang mengandeng tangan Dita. kali ini Dita berpenampilan seperti perempuan feminim dengan gaun selutut dan high heels nya. Memang dengan menggunakan high heels Dita agak susah untuk berjalan tapi ia lakukan untuk ibu mertua nya yang akan ke luar negeri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN