Halo semua nya apa kabar ?
TERIMAKASIH BANYAK KARENA KALIAN UDAH MAU BACA CERITA AKU.
Maaf ya kalo ceritanya kurang menarik, kalau ada kesalahan komentar aja ya, kasih tau kesalahan nya di mana dan kalau mau kasih saran juga engga kenapa napa biar aku nantinya akan lebih baik buat cerita nya.
Terimakasih
Dita membuka matanya perlahan dan melihat Dafa yang masih terlelap di samping nya. sedangkan Gilang sudah keluar dari kamar mandi dengan setelan baju sekolah dan duduk di meja rias dita sambil mengeringkan rambut nya dengan hairdryer.
"Bangun lu, udah siang, emang lu engga mau ke sekolah," Gilang menatap Dita dari pantulan cermin.
"Ga ah males gua ke sekolah," Dita kembali menutup badan nya menggunakan selimut.
Gilang membalikkan badannya menghadap ke arah Dita lalu mengerutkan keningnya.
"Gua bolos sekolah hari ini." Dita kembali memejamkan mata nya.
"Badan gua sakit semua." lanjut nya dengan mencebik malas.
"Pckk pasti gara gara semalem lu berantem lagi." Gilang menduga duga.
"Terus kenapa kalo gua ikut berantem lagi." Dita mengangkat satu alisnya.
"Gua itu suami lu, jadi gua berhak buat ngatur hidup lu." Gilang berdecak kesal.
"Jangan mentang mentang lu suami gua terus, lu ngatur semua apa yang gua mau." Tutur Dita yang berdecak kesal.
Tak ada jawaban dari Gilang, terdengar suara langkah kaki Gilang menuju keluar kamar.
Dita bangun dari posisi tidur nya lalu bergegas ke kamar mandi untuk bersiap pergi mengantarkan Dafa ke mansion milik keluarga nya.
Beberapa menit kemudian ia keluar dari kamar mandi dengan kemeja merah dan celana jeans panjang. Dita melihat Dafa yang sudah bangun duduk di atas tempat tidur. Dafa menatap wajah Dita dengan tatapan aneh lalu ia tersenyum melihat Dita.
"Ante dari mana aja," ucapnya yang sedikit cadel tapi Dita masih bisa mengerti.
"Ante habis mandi sayang, Dafa mau mandi juga," Dita menghampiri Dafa lalu duduk di tepi ranjang tepat sebelah Dafa.
Dafa mengangguk lalu duduk di pangkuan Dita.
Dita mengajak Dafa untuk mandi, setelah selesai mandi Dafa dan Dita pergi ke mansion menggunakan taksi online karna tidak mungkin kalau naik motor, bisa bahaya jadinya.
"Pak ke jalan Mekar nomor 3 ya," ucap Dita pada supir taksi yang sedang duduk di kursi depan Dita.
"Baik mbak," ucapnya dan membawa taksi itu menuju ke tempat yang di minta.
Taksi itu melesat menuju ke mansion Dita tak cukup lama Dita sampai di mansion keluarga Gifaro.
"Ini pak uang nya, kembalian nya ambil aja," Dita menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan.
"Tapi mba ini kebanyakan."
"Engga papa, buat keluarga bapak aja sisanya."
"terimakasih banyak mba."
Dita menganggukkan kepalanya dengan senyum di bibir nya lalu berbalik dan meninggalkan taksi bersama dengan Dafa di gendongan nya.
Taksi segera melesat meninggalkan mansion Dita.
"Mahh pahhh kakkkk," Dita memanggil satu persatu keluarga nya.
"Sayang bunda, uuuuuch kangen banget bunda sama Dafa." Fira segera menggendong Dafa dan memeluk nya, sesekali ia menciumi Dafa untuk meredakan rasa rindu nya tak bertemu dafa.
"Afa juga kangen sama bunda." Dafa ikut menciumi Fira.
"Tunggu tunggu, ko kamu engga ke sekolah Dit." Fira menatap adik nya dengan mengerutkan keningnya.
"Ga akhh, gua lagi males ke sekolah, lagian kakak tumben, nanya aku engga ke sekolah kan biasa nya juga kakak tau aku sering bolos sekolah." Ucap Dita lalu pergi meninggalkan Fira dan menuju ke kamar nya.
Fira hanya menghela nafas panjang melihat tingkah adik semata wayang nya.
Dita merebahkan tubuhnya nya di tempat tidur dan mengeluarkan benda pipih dari sakunya. Ia melihat pesan di layar kaca ponsel nya, ada pesan dari Rian. Dita berdecak malas untuk menjawab pesan dari Rian.
[Dit,]
[Dit,,,]
[Dit,,,]
[P]
Dengan malas Dita menjawab pesan dari Rian.
[Hmmm apaan,] Send Rian.
[Lu dimana ko engga sekolah,]
[Emang kenapa kalo gua engga sekolah.] send Rian.
[Udah jangan chat gua lagi gua tidur,] send Rian.
Dita kembali memasukan hp nya ke saku kemeja merah nya.
Setelah ia memejamkan kan matanya ia teringat ia harus kembali ke rumah untuk mengambil motornya.
Dita turun ke bawah lalu berpamitan pada Fira dan memesan taksi online. cukup lama taksi online yang ia pesan pun datang.
Taksi tersebut melaju menuju rumah Gilang, setelah sampai ia melihat Tifa yang baru saja keluar dari kamar.
"Dit ko kamu engga sekolah," Tifa menatap dita dengan tanda tanya.
"Enghhh anu mah akuuu lagi, lagi ga enak badan jadi engga sekolah dulu," Bohong nya.
"Ohh yaudah kamu istirahat aja dulu," ucap Tifa sambil tersenyum.
Saat Dita dan Tifa sedang berbicara ada tiga orang pelayan yang menghampiri mereka.
"Maaf nyonya, kamar yang nyonya minta sudah di beres kan," ucap salah satu pelayan.
Tifa menatap Dita yang keheranan.
"Dit sebelum nya kamar yang harus nya kamu tempati belum beres jadi kamu satu kamar sama Gilang dan sekarang kamarnya sudah beres jadi kalau kamu mau kamu bisa pisah kamar sama Gilang." jelas Tifa panjang lebar.
"soalnya mamah mau ke luar negeri takut nya nanti kalau engga ada mamah Gilang mau berbuat macam-macam ke kamu." lanjut nya.
"Iya mah, Makasih banyak ya mah." Dita terlihat senang.
"Yasudah kamu istirahat yah, mamah mau ke kamar." Tifa mengelus pundak Dita lalu meninggalkan nya ke kamar.
Dita sangat senang karena akhirnya ia bisa pisah kamar sama Gilang
Dita pergi ke kamar Gilang dan membereskan barang-barangnya untuk di pindah kan ke kamar barunya.
**
Bu Marsih wali kelas Dita yabg sedang menjelaskan tiba tiba menyadari jika tidak ada Dita di kelas nya.
"Maaf semuanya ada yang tau Dita kenapa engga ke sekolah." Tanya bu Marsih pada seluruh murid nya yang ada di dalam kelas.
"Bolos kali bu,,,," Ucap Eli yang memanas kan Bu Marsih.
"Ck biasan banget deh selalu bolos sekolah." Bu Marsih menghela nafas nya.
"Yasudah anak anak catat yang sudah ibu jelas kan." Bu Marsih keluar dari kelas nya.
"Maksud lu apa manas manas'in bu Marsih." Seli menoyor kepala Eli.
"Lu masih mau cari masalah sama Dita hah." Lagi-lagi Eli menoyor kepala Eli.
Brakkk
Eli menggebrak meja nya.
"Heh lu pikir gua takut sama Dita huh." Eli mendekatkan wajahnya si depan wajah Seli.
plakkk
Seli menampar wajah Eli yang membuat nya geram dari tadi.
"Anjing lu ga tau malu udah bonyok dari kemaren ga ada kapok kapok nya." Seli memaki maki Eli yang memegangi pipinya yang tertampar oleh Seli.
Satu kelas membela Dita karna tidak mau jika Dita marah. Jika Dita marah maka tidak akan ada yang selamat dari nya.
"Eli lu udah kalah ya kalah aja, gausah sok jagoan." salah satu murid membela Seli.
"Tau huh ga tau malu luh." lanjut salah satu murid siswa.
"Kalo lu iri sama Dita bilang babi." satu kelas membela Seli hanya ada beberapa yang membela Eli yaitu rombongan nya saja. Karna malu ia langsung pergi keluar kelas.