Setelah selesai mengambil motor dari rumah Dita kita segera pulang menuju ke rumah Gilang.
" Dit gua langsung balik ya." Seli berbelok ke lain arah dari Dita.
"Iya Sel." Ucap Dita agak teriak agar bisa terdengar oleh telinga Seli.
Dita langsung melanjutkan perjalanannya menuju rumah Gilang.
saat sampai rumah Gilang Dita memarkirkan motornya di samping motor Gilang.
terdengar suara anak kecil yang menangis di kamar nya. ia segera memasuki kamar nya ternyata Dafa yang sedang menangis di pangkuannya Gilang.
"Tu Ante udah pulang dafa." Gilang menunjuk ke arah Dita sambil menatap Dafa sekaligus mendiamkan nya agar tidak menangis lagi.
"Uuuuu sayang nya Ante kenapa nangis." Duta mengangkat Dafa dari pangkuan Gilang dan menggendong nya.
"Nyunyu." Ucap Dafa sambil menangis.
"Dari tadi Dafa cuman bilang nyunyu terus, gua engga tau artinya apa." Gilang mengangkat kedua bahunya.
"Dafa mau nyunyu ya sayang, Dafa haus yah, yuk kita buat nyunyu nya." Dita menatap Dafa.
"Dafa itu mau s**u, dia haus, mangkanya dia nangis terus." Ucap Dita pada Gilang.
"Ohhhh kalo anak kecil haus itu pasti bakalan nangis." Gilang baru faham.
"Yuk kita buat nyunyu nya ya." Dita mengajak Dafa ke dapur.
Gilang mengekor dari belakang dan melihat punggung Dita yang menunju ke arah dapur.
Dita mengeluarkan s**u bubuk dari kulkas yang sempat ia beli di mall waktu bersama Gilang dan Dafa.
Gilang melihat Dita yang kerepotan karena membuat s**u sambil menggendong Dafa yang cukup berat.
"Sini biar gua yang buat s**u nya, lu duduk aja di sana." Gilang merebut s**u bubuk dari tangan Dita.
"Emang nya lu bisa buat susunya." Dita meragukan Gilang.
"Lu yang bakal arahin gua." Gilang mengambil sendok. dan mengajak Dita untuk duduk di kursi meja makan lalu duduk di sampingnya.
"Susunya berapa sendok." Gilang bertanya kepada Dita.
"empat sendok." Dita sangat memperhatikan tangan Gilang yang mengambil s**u bubuk dari kotak nya.
"Terus airnya berapa ml." Gilang mengambil air yang ada di termos mini milik Dafa khusus untuk membuat s**u.
"Airnya lima ratus ml." Dita menjawab.
"terus di aduk yang rata ya." lanjut Dita.
Gilang mengaduk menggunakan sendok yang tadi ia ambil.
"Inih udah jadi." Gilang memberikan botol s**u kepada Dafa yang ada di pangkuan Dita sehingga mereka sangat lah mesra seperti seorang ayah dah ibu.
"Dafa haus yah ternyata, maaf ya om engga tau." Gilang mengelus tangan dafa yang mungil lalu menciumi nya.
Dafa hanya fokus ke s**u nya karena ia sudah sangat haus.
Dari kejauhan terlihat Tifa dan Agung yang memperhatikan Dita dengan Gilang sendari tadi.
"Mereka sudah cocok ya pah jadi ayah dan ibu tapi hanya usia mereka saja yang belum waktunya." Tifa tersenyum bahagia sambil menggelayut di lengan Agung.
"Iya mah papah jadi mau punya cepat cepat punya cucu dari Gilang." Agung tersenyum lebar.
"Iya pah mamah juga sama."
"Yaudah yu mah kita Istirahat, kamu itu enggak boleh banyak bergerak, nanti fisik kamu jadi lemah lagi karena minggu besok kita akan menjalani operasi di luar negeri." Agung membawa Tifa istirahat di kamar nya.
"Ajak Dafa ke kamar aja Dit, Dafa udah tidur tuh." Ucap Gilang dengan suara berbisik agar tidak membangunkan Dafa yang sudah terlelap di pangkuannya Dita.
"Yaudah tapi nanti kalo gua bergerak Dafa bangun." balas Dita dengan berbisik.
"Yaudah gua yang gendong Dafa." Gilang mengangkat Dafa dengan pelan dari pangkuan Dita.
Dita mengekor dari belakang Gilang.
Saat sampai di kamar Gilang menaruh Dafa ke tempat tidur lalu ia duduk di sofa dekat dengan tempat tidur nya.
Dita segera menuju ke kemar mandi lengkap dengan baju nya untuk membersihkan diri.
Tak lama Dita keluar dari kamar mandi dengan setelan baju santai dan handuk kecil di kepala nya.
"Dit Minggu besok mamah mau pergi ke luar negeri buat jalanin operasi nya." Jelas Gilang yang menatap Dita.
"Ohhh, terus pulang nya kapan dong." tanya Dita masih fokus ke rambut nya.
"Satu tahun lagi, papah juga kan ada perusahaan di sana yang belum sempat terurus, jadi sekalian mau di urusin." Jelasnya.
"Ohhh," Dita mendudukkan dirinya di depan meja rias dan menghadap ke cermin.
"Nanti lu bisa bebas lagi ko." Gilang memindahkan duduk nya ke tepi ranjang dan menatap Dita dari pantulan cermin.
Dita hanya mengangguk.
"Tapi inget lu ga boleh pacaran." lanjut nya.
"Iya bawel." jawab nya dengan ketus.
Gilang merebahkan diri di tempat tidur lalu memejamkan mata nya sambil membayangkan jika nanti Dita akan memiliki pacar dan ia akan di tinggal kan. Setelah membayangkan semuanya Gilang terlelap dalam tidurnya.
ting
terdengar dari ponselnya Dita
[Dit tolongin gua, Gua di jegat sama rombongan Eli.]
[Lu di mana.] send Seli.
[Gua ada di jalan semanggi 1.]
[Gua ke sana bawa anak anak.] send Seli.
Setelah itu ia mencari nama Sultan di ponsel nya lalu ia menelfon nya.
"Sultan lu di mana." Dita sedikit panik.
"Gua ada di rumah, kenapa emangnya ko lu panik gitu." terdengar suara sultan dari sembarang sana yang terheran pada Dita.
"Seli di jegat sama rombongan Eli."
"Lu panggil anak anak suruh ke jalan semanggi 1." lanjut Dita.
"Oke oke." Sultan menutup telfonnya.
Dita segera mengganti baju menggunakan Hoodie hitam dan celana jeans hitam lalu menggambil kunci motor di meja belajar nya.
saat ia menuruni anak tangga ia berpapasan dengan Agung.
"Kamu mau kemana Dit udah malem lho, nak." Agung mengerutkan keningnya.
"Enghhhh itu pah, aku mauuuu, mau ke rumah Seli, mau ngambil buku, iya aku mau ngabil buku." Dita berbohong lada Agung.
"Udah malem lho Dit, ini sudah jam sembilan malam, kamu di anter aja sama Gilang, papah takut nanti kamu kenapa kenapa di jalan, soalnya sudah malam." Agung khawatir pada Dita.
"Engga usah pah Gilang udah tidur ga enak kalo di bangunin, aku juga sekalian mau belajar bareng sama Seli yang ada nanti Gilang malah enggak betah lama lama." Dita mengeles agar bisa mambantu Seli.
"Yasudah kamu hati hati ya." Akhirnya Agung menyetujui Dita.
"Iya pah aku duluan ya takut kemaleman nanti nya." Dita menyalami tangan Agung.
Dita sedikit lari agar lebih cepat bertemu dengan Seli.
tak berselang lama motor Dita keluar dari rumah Gilang dengan kecepatan penuh.
Dita sangat khawatir dengan Seli ia menyusuri jalan semanggi 1 tapi tak terlihat seli. satu menit kemudian ia melihat gerombolan orang yang sedang berkelahi dan beberapa adalah teman nya yaitu Seli dan rombongan sultan.
Dita menabrak teman Eli lalu melemparkannya helm nya ke arah Eli dan mengenai kepala nya.
"b*****t lu, bangun lu anjing," Dita menendang badan Eli.
"lu punya masalah sama gua tapi ko lu malah cari masalah sama temen gua." lagi lagi Dita memukul badan Eli.
Eli sudah tak berdaya ia hanya tergeletak di trotoar dengan darah di bagian bibir dan kepala karena terkena helm Dita.
Dita langsung membantu Seli yang terkena pukul di bagian pelipis kiri dan bibir kanannya yang membiru karna ulah Teman teman nya Eli.
Dita menunjuk ke arah Eli yang masih sedikit sadar dan teman teman nya.
"Jangan pernah berani lu sakiti in temen gua, berani lu sakiti in temen temen gua lu berurusan sama gua." Dita menendang salah satu kaki teman Eli.
Dita langsung mengantarkan seli pulang ke rumah nya.
"Makasih Dit lu udah nolong gua." Seli mengompres lula yang ada di pelipis nya.
"Ya elah lu uda kaya sam siapa aja." Dita menoyor kepala Seli.
Seli hanya terkekeh.
Setelah itu Dita pulang ke rumah dan pergi ke kamar nya.
"Dari mana aja lu." Gilang berdiri di ambang pintu.
"Gu gua dariiiii, rumah Seli." Dita gugup.
"kenapa emang." lanjut nya dengan ketus.
"jangan bohong, itu bibir lu kenapa ko bisa sampe memar gitu." Gilang mengelap bibir Dita dengan tangan.
"Ssssttt sakit tau." Dita meringis kesakitan.
"Jujur lu dari mana." Gilang kembali bertanya.
"Udah lah gua mau tidur gausah sok perhatian deh sama gua." Dita menepis tangan Gilang.
Dita segera membuka hoodienya nya dan tidur di samping Dafa. ia menarik selimut lalu memejamkan mata.