RUANG BK

1022 Kata
Dita tak memberikan kan Eli untuk membalas pukulan nya sedikit pun. Eli mengelap bibirnya yang sedikit memar dan mengeluarkan darah. Dita yang melihat Eli tersungkur ke lantai menatap nya dengan rasa jijik. Eli mendongakkan kepalanya dan melihat ke wajah Dita dengan tatapan menantang nya. "Jangan sering sering lu cari masalah sama gua." Dita sedikit berjongkok di depan Eli yang meringis kesakitan. "Lu pikir cuma karena lu mukul gua trus gua takut." Eli terkekeh kecil. "Gua tunggu tantangan lu selanjutnya." Dita mengangkat satu alisnya. Dita berdiri dan melipat kedua tangannya di depan d**a lalu melihat ke arah teman teman nya yang sendari tadi memperhatikan nya dengan rasa ngeri. "Lu semua jangan ada yang berani membantu dia, kalo ada yang berani bantu dia lu berurusan sama gua." Dita membanting pintu dan meninggalkan kelas. Seli menatap Eli dengan tatapan iba setelah itu ia mengekor Dita yang pergi ke kantin untuk membeli minum. "Wishhhh keren lu Dit, lu ga takut masuk ruang BK, masih mending sih kalo cuman ruang BK, tapi kalo di keluarin dari sekolah gimana." Seli menatap Dita dengan takjub dan menghawatirkan Dita jika ia akan di keluarkan dari sekolah. "Ckkk dah lah kalo gua masuk BK juga, yahhh Guru BK udah ga aneh lagi sama Muka gua, ya kalo gua di keluarin dari sekolah ya cari sekolah lain." Dita menjawab dengan santai. "SELAMAT SIANG SISWA SISWI YANG SEDANG BELAJAR MAAF MENGGANGU WAKTU NYA. SISWA BERNAMA DITA DI TUNGGU DI RUANG BK." Terdengar dari speaker sekolah. "Tuh kan Dit, lu di panggil Guru BK." Seli menatap Dita yang terlihat santai santai saja. "Yaudah gua samperin." Dita berjalan dengan perasaan biasa saja ke ruang BK. terlihat Eli yang babak belur karna ulah nya. Dita yang melihat itu ada rasa ingin tertawa terbahak bahak. "Dita silahkan duduk." Guru BK sangat merasa tak aneh dengan Dita karna ia sudah biasa melihat wajah Dita yang bisa di bilang satu bulan tiga kali masuk ruang BK. "Huftttt ada apa lagi sih, lu mau cari masalah apa lagi sih sama gua, gua enek liat muka lu terus." Dita sangat malas meladeni orang yang ada di ruang BK. "Coba jelaskan bagaimana kronologi nya." "Si Dita bu tiba tiba mukulin saya." Eli berbohong dan berusaha menjebak Dita Dita yang melihat itu hanya terkekeh geli. "Hahahaha." Tawa Dita memecah satu ruangan. "Dita kenapa kamu ketawa." Bu Lia terheran pada Dita. "Banyak drama banget sih lu, udah jelas lu yang nyari masalah trus lu mau jebak gua, hahahaha." Dita makin tertawa geli. "Ini dunia nyata, bukan film jadi gausah banyak drama." Dita tertawa setelah itu meninggal kan ruang BK. Eli hanya terdiam lalu mengobati lukanya. Gilang yang mendengar pengumuman dari speaker sekolah panik dan mengeluarkan benda pipih dari sakunya lalu mencari nama Dita. Gilang mengirim pada Dita pesan pada Dita. [Dit lu kenapa ko bisa sampe masuk BK.] send Dita. [Dit.] [Dita.] [P.] [Lu gpp kan.] [P.] [P.] [P.] Tak ada jawaban dari Dita, Dita hanya membaca pesan dari Gilang tapi tidak membalas nya. Gilang segera menelfon Dita tapi tidak di angkat oleh Dita. Sekali lagi ia menelfon tapi malah di matikan oleh Dita. Karna panik ia segera minta izin keluar kelas untuk mencari istri nya karna ia tak ingin terjadi apa apa padanya. "Bu maaf saya izin ke toilet sebentar." bohong Gilang lalu meninggalkan kelas. Gilang segera pergi ke ruang BK tapi hanya terlihat Eli dengan penuh luka di badannya. Ia pun mencari keberadaan Dita. Ia mengelilingi satu persatu kelas tapi tidak ada Dita di sana, saat ia pergi ke belakang sekolah, ia melihat Dita yang sedang bolos dengan rombongan teman teman nya. Gilang mengeluarkan benda pipih dari sakunya dan menelfon Dita dari kejauhan tapi masih tidak di angkat. [Dit gua liat lu lagi nongkrong di belakang sekolah, samperin gua di deket lorong.] send Dita. Dita membaca pesan dari Gilang ia pun langsung menghampiri Gilang. "Eh gua mau ke toilet sebentar." Dita berdiri lalu meninggalkan Seli dan teman tongkrongan nya. "Iya Dit." ucap salah satu teman nya. Dita melihat Gilang yang bersandar di tembok lorong. lalu menghampiri nya. "Ngapain lu manggil gua trus nyuruh gua ke sini." Dita melipat tangannya di depan d**a lalu menatap Gilang sambil mengangkat satu alisnya. "Lu bonyok'in anak orang." Gilang menatap Dita dengan tajam. "Trus kenapa hah, apa itu ada masalah nya buat lu." Dita menatap Gilang dengan tatapan yang tajam. "Kenapa lu bonyok'in anak orang." Gilang mengeraskan rahangnya. "Ga ada urusan nya sama lu." Dita membalik badan nya untuk meninggalkan Gilang tapi tangannya di tahan oleh tangan Gilang. "Ada urusan nya sama gua." Gilang masih dengan tatapan mata nya yang dingin. "Gua engga peduli." Dita mengerutkan keningnya lalu menepis kasar tangan Gilang. "Dit." Gilang memangil manggil Dita tapi tak dihiraukan oleh Dita. Gilang mengacak rambut nya. Gilang kembali ke kelas nya. **** "Dafa mau main apa sayang." Tifa bermain dengan dafa di halaman rumah dengan tikar dan kukis seperti sedang berpiknik. "Dafa mau ini." tangan nya yang mungil menunjuk kukis coklat di depannya. "Ini sayang." Tifa memberikan kukis coklat. "Afa mau nyunyu." Dafa kembali menunjuk botol s**u yang ada di depan nya. "ini sayang." Tifa tersenyum melihat Dafa, ia berharap bisa memiliki cucu dari Gilang dan Dita. "Kamu suka kukis ya." Tifa mengemas pada Dafa. Dafa hanya mengangguk anggukan kepala nya. **** kringgggg jam pelajaran sekolah telah selesai. Dita lebih dulu meninggalkan sekolahnya lalu mengajak Seli untuk ke rumahnya mengambil motor kesayangan nya. [Lang gua ngambil motor sama Seli lu pulang duluan aja.] send Gilang. ting. terdengar dari ponselnya Gilang lalu membaca pesan dari Dita. Gilang hanya mengembuskan napas pelan. Gilang segera pergi ke parkiran lalu membawa motor pergi keluar sekolah. "Sel lu anterin ke rumah gua, gua mau ngabil motor gua." Dita nangkring ke jok motor matic Seli. "Si bangkek gua kaget bangasat." Seli mengelepak kepala Dita. "Hahaha untung jantung lu ga keluar dari mulut ya." Dita tertawa geli. "Dah lah ayo gua anter." Motor seli melesat meninggalkan sekolah menuju rumah Dita. Saat sampai rumah, Gilang melihat Tifa yang sedang bercanda oleh Dita. "Lho Dita engga bareng sama kamu Lang." Tifa mengerutkan keningnya nya. "Itu mah Dita lagi kerja kelompok sama temen satu kelas nya." Gilang berbohong pada Tifa. Tifa hanya mengangguk dan percaya pada Gilang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN