BALAP LIAR

1539 Kata
*** kringggg jam pelajaran telah habis siswa dan siswi meninggalkan sekolah. "Dit..." panggil Seli. "Oy." Dita menoleh ke arah Seli yang ada di belakang nya. "Balapan yok. " ajak Seli yang menepuk pundak Dita sambil cengengesan. "Ck ga ah, kapan kapan aja ya, gua lagi males." jawab nya lalu berjalan bersama Seli menuju parkiran. "Tumben lu nyet ga ikut," Seli menatap Dita yang memandang lurus ke arah depan. "Gua mau ke rumah nyokap," Dita melihat ke arah Seli yang menatap nya sendari tadi. "Mau ngapain lu ke rumah nyokap lu," tanya Seli yang penasaran. "Mau main sama Dafa, gua dah kangen sama tuh anak," jawab nya dengan senyum. "Oh yaudah, lu kalo pengen ikut balapan ke tempat biasa aja ya," Seli menaiki motor nya begitu juga dengan Dita. "Yaudah Dit gua duluan ya," Seli melajukan motornya. Dita ingin mengeluarkan motor nya tapi sulit karena ada motor Gilang yang memepet di samping motor nya. Dita mencoba untuk mengeluarkan motor nya tapi tidak bisa. "pckkk dah lah gua tunggu aja tuh anak," Dita memilih menunggu Gilang lalu duduk di atas motor nya. Tak lama Gilang datang bersama dengan Eli di samping nya. Dita menyipitkan matanya lalu mengangkat satu alisnya. "Pindahin nih motor lu!" Dita menatap motor Gilang sambil membentak Gilang. "Dit lu kalo ngomong pelan pelan bisa ga sih, suara lu tuh kek mak lampir," Eli mengejek nya. "Bacot lu anjing!, kek nya satu tamparan kurang deh buat lu." Dita mendekat. "Udah udah berisik lu berdua," Gilang segera memindahkan motor nya. "Gilang gua bareng ya sama lu, soalnya mobil gua di bengkel," Eli mendekat ke arah Gilang. Dita menatap Eli dengan tatapan jengkel dan Dita mengepalkan tangannya. "Dit..." Panggil Rian dari arah belakang. Dita dan Gilang menoleh ke arah Rian. "Lu ko belom balik??" tanya Rian yang menatap Gilang di dekat motor ninja warna hijau. "Ini nih gara gara motor sialan ini nih, motor gua jadi engga bisa keluar!" Dita menunjuk ke motor Gilang. "Yaudah pulang bareng gua yok," ajar rian dengan semangat. Dita tanpa berfikir panjang lalu mengangguk anggukan kepala. "Engga bisa, Dita harus pulang sama gua," Tiba tiba Gilang membuka suara nya dan menahan motor Dita. "Tapi gua engga mau pulang sama lu, lepasin tangan lu dari motor gua mau balik." Dita menepis tangan Gilang. "Tapi Dit~" belum sempat selesai bicara tapi Dita sudah memotong nya. "Gua engga langsung pulang, tapi gua mau makan dulu sama Rian, trus mau nongkrong bareng sama Rian, faham lu! dan lu urus aja cewe lu itu," Dita memaki Gilang lalu menunding ke arah Eli. "Ayo Ri." Dita dan Rian mengeluarkan motor dari parkiran lalu meninggalkan sekolah. Gilang hanya melongo lalu melihat motor Dita yang menjauh. "Lang ayo pulang," Eli mengagetkan Gilang. "Ehh engghhh iya iya ayok." Gilang mengeluarkan motor dari parkiran lalu membonceng Eli. *** Gilang telah sampai rumah lebih dulu lalu ia melihat salsa yang ada di depan gerbang. "Gilang!!!" teriak salsa. Gilang sudah malas meladeni nya. "Lang aku ke sini bukan karena aku mau minta balikan sama kamu, tapi aku mau pamit ke kamu kalau aku akan pergi ke London sama Andre dan anak aku," jelas Salsa dengan senyum nya yang manis. "Maksud lu anak, lu kan belum punya anak," tanya Gilang yang masih di atas motor. Salsa tersenyum tapi terlihat buih buih sudah tertumpuk di pelupuk mata nya. Gilang tersentuh melihat Salsa kali ini. "Iya Lang, sebenernya gua lagi hamil anak Andre, dan Andre masih mau tanggung jawab, dia mau nikahin gua di London." jelas nya sambil menatap wajah Gilang untuk terakhir kalinya. "Gua minta maaf sama lu Lang, gua udah buat lu kecewa, buat lu marah karna gua dateng lagi ke sini, gua berharap lu sama Dita bisa menjadi sepasang kekasih yang bahagia yah," lanjut nya dan kali ini air mata nya sudah membasahi pipi. Gilang turun dari motor lalu tubuh nya di peluk erat oleh Salsa dalam dalam, Gilang tidak memberontak tapi ia membalas pelukan Salsa dan mengusap punggung nya. "Semoga lu bahagia ya sama Andre." Gilang tak sadar jika air matanya mengalir ke pipinya. "Jujur Lang gua masih sayang sama lu tapi gua bakal pendam dalam dalam perasaan ini, dan gua lebih bahagia kalo lu bahagia." jelasnya lalu melepaskan pelukannya dari Gilang. "Lu jaga diri baik baik ya," Gilang mengusap pundak Salsa dengan lembut. Ia tak nyangka jika Salsa ternyata selemah ini. Salsa menganggukkan kepalanya. "Gua pamit Lang." Salsa memasuki mobilnya. Gilang hanya menatap mobil hitam itu pergi melesat semakin jauh membawa kenangan yang sulit untuk di lupakan. Gilang masuk ke kamar nya lalu membersihkan badan dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia merasa bosan berada di dalam kamar lalu ia beranjak menuju ke kamar Dita tapi tidak ada keberadaan Dita di kamar nya. Mengeluarkan ponselnya menelfon Dita tapi malah tidak di jawab oleh nya. *** setengah jam berlalu Dita memasuki kamar nya yang memang satu balkon oleh Gilang. "Dit.." Dita di kejutkan oleh suara Gilang yang tiba tiba muncul dari pintu balkon. "Ko lu baru pulang," tanya nya. "Trus kenapa emng nya," tanya Dita balik. "Ya gapapa gua khawatir aja," "Gausah sok sok an khawatir, gua itu udah gede bukan anak kecil lagi." Jawa nya dengan judes lalu pergi ke kamar mandi membawa celana jins dan kemeja hitam. Gilang hanya melongo lalu duduk di tepi ranjang Dita. Tak lama Dita keluar dari kamar mandi dengan setelan rapih nya melihat Gilang dengan Santainya duduk selonjoran di atas tempat tidur. Dita duduk di depan meja rias lalu merapikan diri dan mengambil kunci motor nya. "Mau kemana lu???" tanya Gilang yang sendari tadi hanya memperhatikan Dita. "Buka urusan lu juga," Dita berbalik menunju ke arah luar tapi tangannya di tahan oleh Gilang. "Pckkk lepasin tangan gua." Dita memberontak lalu melotot ke arah Gilang. "Lu jawab dulu pertanyaan gua, lu mau kemana," Gilang yang masih menggenggam erat tangan Dita menatap nya dengan tajam. "Gua mau balapan sama Eli!!!" Dita membentak Gilang lalu mengibaskan tangannya dengan kasar. Gilang hanya diam di tempat. *** "Semangat Dit kalahin si l***e ga punya harga itu," Seli menyemangati Dita. "Kita liat aja siapa yang menang di balapan liar kali ini, ya udah pasti nya gua lah, dan lu mending ngalah aja deh." Eli senyum Monalisa dan menantang Dita. Dita memakai helm nya lalu menatap ke arah Eli. "Modal mulut bacot lu doang ga mungkin bikin bikin gua takut," Dita menyungging senyum seperti jahat nya iblis. "SATU!!!" "DUA!!!!" "TIGA!!!" JDERRRR suara tembakan ke arah atas menunjukkan bahwa balapan telah di mulai. Dita langsung menancap gasnya dengan cepat begitu juga dengan Eli. Setiap tikungan Dita meninggalkan Eli yang tertinggal jauh di belakang Dita. Dita mengangkat ban depan motor nya sehingga membuat aksi standing motor. Garis finis telah terlihat sedang kan Eli masih tertinggal jauh di belakang. Akhirnya Dita lah pemenang balap motor kali ini. Dita memberhentikan motornya lalu ia dihampiri oleh Seli. tak lama kemudian motor Eli berhenti tepat di samping motor Dita. "Gua udah bilang kalo mau nantang gua lu simpen aja bacotan lu, karna anjing menggonggong engga bisa mendapatkan makanan nya," ucap dita lalu terkekeh bersama Seli untuk meledek Eli yang kalah pertandingan. Eli tak mau malu ia langsung pergi meninggalkan Dita dan Seli. "Keren juga lu nyet." Seli terkekeh. "Yehhhh si babi biasa aja kali," Dita menoyor kepala Seli lalu tertawa bersama dengan Seli. setelah menerima uang pertandingan Dita dan Seli pulang ke rumah masing-masing. saat sampai rumah dita segera pergi ke kamar lalu duduk di sofa yang berada di dalam kamar nya. "Jam segini baru pulang," Tiba-tiba saja Gilang muncul dari balik pintu balkon. Dita hanya melihat Gilang yang jalan ke arah nya dengan segelas Soju. "Trus masalah buat lu, oh ya btw pacar lu si l***e ga ada harga itu si Eli kalah balapan sama gua, lu ga marah gitu sama gua gara gara pacar lu gua kalahin," Dita menyungging senyum sebelah kanan. "Dia bukan pacar gua." Gilang duduk di samping Dita yang menyilang kan kaki sambil bermain ponsel. "hahaha lucu lu yah, lu bilang bukan pacar tapi lu suka kan sama dia," Dita merebahkan badannya ke sandaran sofa. "Gua bilang dia bukan pacar gua, faham lu dan lu ga boleh deket deket sama Rian atau cowo mana pun itu," Gilang berkata dengan santai tapi dengan nada emosi. "Egois banget sih lu Lang, lu boleh deket sama cewe mana pun dan gua juga engga larangan tapi kenapa gua engga boleh," Dita berkata dengan santai namun dengan nada sindiran. Gilang diam sejenak lalu memeluk tubuh Dita. mereka bertatapan sangat lama namun tidak mereka sadari. Dita bahkan bisa rasakan nafas Gilang. "Udah gua bilang dia bukan pacar gua," Gilang menatap Dita dengan datar. "Tapi di suka sama lu Lang~" Tiba tiba bibir Gilang menempel di bibir Dita. jantung Dita berdebar sangat kencang. Gilang hanya menempelkan bibirnya saja di bibir Dita, ia tidak melumat nya. sedangkan Dita hanya melongo tak tau apa yang terjadi Gilang melepaskan bibirnya dari bibir Dita lalu menatap dalam mata Dita. Dita mendorong badan Gilang menjauh. "Mending lu balik ke kamar lu deh, gua engga mau terjadi apa apa sama gua, dan lu inget kita masih sekolah." Dita mendorong badan Gilang keluar dari kamar nya. Ia segera mengunci pintu balkon nya dan merebahkan diri di tempat tidur. Dita memegang bibir nya yang tadi bersentuhan bersama dengan bibir Gilang. "Tadi gua mimpi apa anjirt," Dita segera menarik selimut lalu memejamkan matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN