“Cepat, Kakek! Kita harus segera pergi.” Jeje meneriaki seseorang yang berjalan terseok, agak jauh darinya. Mereka telah berjalan cukup lama, namun karena Kakek zombie bergerak sangat lambat sepertinya mereka berada tak terlalu jauh dari rumah. Jeje sungguh khawatir, dia yakin Prof Haris akan segera datang mencarinya. “Aduh, kalau seperti ini terus sampai lebaran kuda mungkin kita belum tentu sampai ke tujuan,” keluh Jeje. “Kakek mayat, apakah hanya ini kecepatan maksimalmu?” tanya Jeje kalut. Kakek mayat mengangguk dengan raut wajah memelas. Sungguh tak tega memarahinya. Jeje tak bisa memikirkan hal lain kecuali hal konyol yang akan dilakukannya. “Maafkan Jeje, Kek. Dan tetap tenang,” cetus Jeje seraya mendekati Kakek Mayat. Kakek Mayat hanya melongo ketika Jeje memondongn

